Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Ternyata Kita Saudara


__ADS_3

Dila terpaksa ikut ke dalam mobil Alex karena Alex terus memaksanya. Tadi Alex melihat Dila tengah menangis sesegukan dan Alex tak tega melihat Dila yang dalam keadaan seperti itu harus mengendarai motornya sendiri, Alex khawatir takut terjadi sesuatu yang buruk karena Dila dalam kondisi yang tak baik-baik saja.


Alex membawa Dila kesebuah taman, bukan ke kos-kosan Dila. Karena dia ingin menghibur Dila. Entah kenapa sejak pertemuan pertama kali dengan Dila, Alex sudah tertarik dan merasa Dila sangat berbeda. Saat ini yang ada difikiran Alex adalah, siapa laki-laki yang sudah membuat Dila menangis sampai seperti ini, bagaimana bisa wanita secantik Dila dibuat menangis. Sungguh mubadzir!


"Kamu tunggu disini, aku mau beli ice cream dulu." ucap Alex.


"Ice cream?" tanya Dila.


"Iya, disana." tunjuk Alex pada penjual ice cream yang sedang mangkal.


Dila mengangguk kemudian dia kembali termenung. Tak lama Alex membawa dua buah ice cream ditangannya. Lalu menyerahkan yang rasa strawberry kepada Dila, sedangkan dia rasa vanila.


"Kamu tahu, kakak aku kalau lagi sedih suka banget makan ice cream katanya ice cream dapat menghilangkan stress." ucap Alex sambil menji lati ice creamnya.


"Jadi kamu mau bilang kalau aku stress gitu?" tanya Dila.


"Eh, enggak bukan gitu, aku cuma..."


"Iya aku faham." jawab Dila yang juga mulai menikmati ice cream itu.


"Oh iya, nama kamu siapa, kita belum kenalan loh." ucap Alex.


"Nama aku Dila." jawab Dila.


"Dila, nama yang cantik secantik orangnya." puji Alex. Dila hanya diam saja sambil menikmati ice creamnya.


"Kamu enggak mau tanya nama aku?" tanya Alex.


"Enggak!" jawab Dila ketus.


"Ish! udah ditraktir juga masih juga jutek." ucap Alex.


"Biarin! bodo amat!" ucap Dila kesal.


"Lagi patah hati ya? judes amat. Amat aja enggak judes." ucap Alex.


"Enggak usah kepo!" ucap Dila.


"Enggak kepo, hanya nebak aja. Oh iya nama aku Alex." ucap Alex memperkenalkan dirinya.


"Oh," jawab Dila singkat.


"Oh doang? enggak bilang wow gitu?" ucap Alex tak habis fikir.


"Udah dibilang aku enggak tertarik." ucap Dila santai.


"Tapi aku tertarik sama kamu." ucap Alex sambil menatap Dila dengan lekat.


"Dasar Gila!" ucap Dila ketus.


"Ya memang aku gila, aku tergila-gila padamu." ucap Alex.


"Bisa-bisanya ada bule sakit jiwa." ucap Dila tak habis fikir.


"Banyak baby, mangkanya main-main ke luar negeri." ucap Alex.


"Oh iya, kamu asli mana?" tanya Alex.


"Udah kayak wartawan aja nanya-nanya mulu." ucap Dila kesal.


"Biarin dong baby, aku kan mau pedekate sama kamu." ucap Alex.

__ADS_1


"What?! asal kamu tahu ya, aku udah pu..."


"Dila!" Vino keburu menyela ucapan Dila sebelum Dila menyelesaikan ucapannya.


"Vino, Alya, kalian ngikutin aku?" tanya Dila.


"Iya, kami khawatir sama kamu, tapi yang dikhawatirkan malah asik-asikan makan ice cream." sindir Vino.


"Itu aku..."


"Kalian pasti temennya Dila ya, kenalin aku Alex, calon..."


"Aww!!" Alex memekik sakit karena kakinya diinjak oleh Dila.


"Jangan sembarangan kalau ngomong." ucap Dila sambil memelototi Alex.


"Udah ayo Al, Vin, kita pergi dari sini." ajak Dila.


"Eh, tunggu dulu.. aku kok kayak kenal sama kamu." ucap Vino menerka-nerka.


"Aku juga." timpal Alya. Dia seperti pernah melihat Alex sebelumnya.


"Kalian kenal sama dia?" tanya Dila.


"Em... apa kamu anaknya paman Marvel dan tante Ratna?" tebak Vino.


"Ya, kamu kenal sama orang tua aku?" tanya Alex bingung.


"Ooh!! kamu adek bungsunya kak Ikhsan." seloroh Alya.


"Kamu juga kenal sama kakak aku?" Alex jadi makin bingung.


"Ya kenal, kita kan saudara!" ucap Vino sambil memeluk Alex dengan senang.


"Saya Vino, anaknya mamah Puja, kamu kenal kan sama bibi Puja? tahu dong?" tanya Vino.


"Ya, adiknya mama, saya kenal. Tahu juga." ucap Alex.


"Dan ini..." Vino menatap Alya.


"Saya Alya, adiknya kak Ikhsan, jadi saya sama kak Ikhsan satu bapak." ucap Alya.


"Oh, iya iya saya tahu. Enggak nyangka ya, kita bisa ketemu disini. Kita masih saudara sepupu. Apa jangan-jangan Dila juga saudara saya?" tanya Alex.


"Oh bukan, kalau ini mah orang lain." ucap Vino sengaja membuat Dila kesal.


"Nyebelin!" Dila mengerucutkan bibirnya.


"Uluh-uluh anak manja jangan nangis nanti dikasih permen ya." bujuk Alya.


"Alya juga nyebelin ih!" Dila semakin kesal. Mereka semua tertawa dengan tingkah manja Dila. Dan pada akhirnya mereka semua pergi ke sebuah cafe untuk nongkrong mereka. Namun sudah sejauh itu, Alex belum juga tahu jika Dila sudah punya suami, dan suaminya itu adalah Bagja sepupunya sendiri.


//


Malam hari


Dila masih dilanda kegelisahan, karena hingga sampai saat ini dia belum juga mengaktifkan ponselnya. Dia masih sedih dan galau.


Sementara ditempat lainnya ada yang sedang kelimpungan sekaligus merasa frustasi karena sejak tadi siang hingga jam 9 malam Dila belum juga mengaktifkan ponselnya. Dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bagja.


"Sayang kamu kemana sih?" Bagja terus mencoba menghunungi nomor Dila. Namun tetap sama, nomornya tidak aktif, dia semakin cemas karena saat mencoba menghubungi nomor Vino maupun nomor Alya, tidak ada satupun diatara mereka yang mengangkat dan membalas pesan darinya. Ya bagaimana mau diangkat, Vino sedang sibuk ngalor ngidul cerita dengan Alex dikamar kosnya. Mereka kan satu frekuensi, satu hobi dan satu otak. Sementara Alya masih sibuk mengerjakan tugas nya, dan jika sedang mengerjakan tugas, sudah jadi kebiasaan jika dia mensilent ponselnya karena tak ingin diganggu.

__ADS_1


"Ah, Sialan!" Bagja menendang kasurnya dengan kencang untuk mengeluarkan emosinya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, Bagja sangat antusias dan mengangkat panggilan itu tanpa melihat kontaknya terlebih dahulu.


"Ya sayang, kamu kemana aja, dari tadi aa nungguin telfon dari kamu." ucap Bagja.


"Ya ampun kak, kak Bagja nungguin telfon dari aku? sama dong kalau gitu, aku juga kak. Kak Bagja kangen ya sama aku?" Bagja tertegun mendengar suara dari sebrang telfon yang ternyata adalah Anya. Bodohnya dia sampai tak melihat nama kontaknya terlebih dahulu.


"Jangan banyak basa-basi, ada apa?!" tanya Bagja ketus.


"Tadi mesra, sekarang kok Jutek lagi sih." ucap Anya dengan nada dibuat manja. Sungguh saat ini Bagja merasa ingin muntah mendengarnya.


"Cepet lah! aku enggak punya banyak waktu!" ucap Bagja setengah membentak.


"Oke, jadi gini, besok pagi-pagi kita ditugaskan ke desa xxxxxxx untuk penyuluhan disana. Nah yang ditugaskan itu aku sama kak Bagja. Kita berangkat bareng ya." ucap Anya.


Tuuuut!


Bagja mematikan sambungan telfon itu tanpa menjawab pertanyaan Anya terlebih dahulu. Hatinya sangat kacau! yang ada difikirannya hanya ada Dila, Dila, dan Dila.


'Sayang kamu kemana sih?' lirih Bagja sambil terduduk lemas. Dia tak mau ambil pusing, akhirnya dia memutuskan untuk menyusul Dila ke Bandung. Dari pada hatinya tak tenang, lebih baik dia kesana sekarang. Namun baru saja keluar kamarnya, Puja menahannya.


"Kamu mau kemana kasep?" tanya Puja.


"Mau ke Bandung mah." jawab Bagja.


"Malam-malam gini? tapi kan besok kamu harus kerja sayang." ucap Puja.


"Bagja izin aja." ucap Bagja.


"Kenapa sih, ada apa, cerita sama mamah." ucap Puja mengajak Bagja duduk disofa. Karena Puja dapat melihat kegundahan yang tengah dirasakan Bagja.


"Dari sejak siang tadi Dila enggak bisa dihubungin mah, Bagja khawatir, nomornya enggak aktif. Vino sama Alya juga enggak ngangkat telfon dari Bagja." ucap Bagja menjelaskan.


"Coba mamah yang telfon." ucap Puja sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dan baru satu kali panggilan, Dila sudah mengangkatnya.


"Diangkat." ucap Puja.


"Hah?" Bagja bengong.


"Sayang. Kamu lagi ngapain?" sapa Puja.


"Dila baru selesai ngerjain tugas bun," ucap Dila dengan suara serak.


"Ada apa bun nelfon Dila?" tanya Dila lirih.


"Kata Bagja nomor kamu enggak aktif, kemana aja sayang?" tanya Puja.


"Dila dikost bun. Bilangin sama a Bagja Dila lagi enggak mau diganggu. Lagi banyak tugas." ucap Dila dengan suara serak.


"Dila kayak habis nangis, kalian lagi bertengkar?" Puja bertanya sambil berbisik kepada Bagja.


"Enggak kok mah," jawab Bagja bingung.


"Tapi dia bilang lagi enggak mau ngomong sama kamu, Alesannya lagi banyak tugas." bisik Puja.


"Hah?" Bagja kembali bingung. Dia merampas ponsel Puja dan langsung berbicara kepada Dila.


"Sayang, kamu kenapa? kenapa telfon dari aa enggak diangkat? Dila sakit?" tanya Bagja khawatir.


Tuutt!


Sambungan telfon dimatikan.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2