Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Amarah Sofyan


__ADS_3

Puja tersentak kaget begitu pula dengan Iis. Sekesal-kesalnya mereka dengan anak-anak mereka, tapi tetap saja tak ada ibu yang tega melihat anaknya di hajarr oleh orang lain. Begitu pula Puja yang amat takut jika Bagja sampai dihajarr oleh Sofyan atau Mahmud.


"Sayang..." Puja mendekati Sofyan. Begitu pula dengan Iis yang langsung mendekati Mahmud.


"Ada apa?" tanya Sofyan yang menatap Puja dengan tatapan mengintimidasi karena Puja menangis begitu pula Dila yang kini sedang menangis sesegukan didalam pelukan Bagja.


"Biar Puja jelaskan ya, kita ke kamar." ajak Puja.


"Bagja mau batalin pernikahan Bagja yah." ucap Bagja buka suara.


"Maksud kamu apa ngomong gitu?" tanya Sofyan sedikit emosi.


"Bagja mau pernikahan ini batal karena... karena Bagja mau menikahi Dila." ucap Bagja. Sofyan tersenyum miring lalu menatap Puja.


"Kenapa mah? ada apa sama anak kamu itu? hah?" tanya Sofyan.


"Mereka sudah... mereka..." Puja tak meneruskan kata-katanya saat melihat kemarahan dimata Sofyan. Begitu pula Mahmud yang kecewa dengan ucapan Puja. Dengan cepat Mahmud menarik Dila dari pelukan Bagja. Bagja ingin menahan Dila namun Sofyan keburu menghajarrnya.


Bug!


Bug!


Bug!


"Jangan yahhh!!!" Puja menenangkan Sofyan dan berusaha memisahkan keduanya.


"Anak kurang ajarr! siapa yang udah ngajarin kamu kayak gitu?! ngerusak anak orang! mempermainkan perempuan! kenapa kamu jadi brengsek begini hah!!" Sofyan terus memaki dan mencoba memukuli Bagja. Dia sungguh kecewa, bagaimana bisa anak yang dibanggakan nya selama ini bisa berbuat tercela.


Sementara Dila yang berhasil melepaskan diri dari Mahmud langsung berlari kedalam kamar Bagja dan berhambur kearah Bagja yang sedang tersungkur. Wajahnya lebam dan berdarah-darah.


"A Bagja, sakit ya... mana yang sakit?" Dila memegangi luka Bagja dengan sayang dan dengan deraian air mata.


"Maafin Dila ya A, Aa jadi begini." ucap Dila sambil terisak dan mengelap darah yang keluar dari sudut bibir Bagja. Sofyan melihat bagaimana Dila begitu mengkhawatirkan Bagja dia mendesis kesal.


"Jangan nangis Dila, a Bagja enggak apa-apa ini hanya luka kecil." ucap Bagja sambil meringis.


"Dila! ayo pulang!" ajak Mahmud yang merasa malu karena mereka semua sedang jadi pusat perhatian orang-orang yang rewang dirumah Sofyan.


"Enggak pak! Dila enggak mau! Dila mau sama A Bagja!" ucap Dila sambil meronta dan terus memeluk Bagja.


"Malu Dila! orang-orang semua pada lihatin kita! kamu melempar kotoran didepan wajah bapak!" ucap Mahmud.

__ADS_1


"Terserah! apapun yang terjadi Dila enggak mau ninggalin A Bagja, apalagi ayah Sofyan mukulin A Bagja terus! Dila enggak tega!" ucap Dila histeris. Dila semakin mengeratkan pelukannya kepada Bagja.


Sofyan dan Mahmud saling bertatapan. Lalu Sofyan memberikan kode kepada Mahmud untuk berbicara empat mata. Sedangkan Puja dan Iis langsung meminta semua tamu dan orang-orang yang rewang untuk pulang kerumahnya masing-masing karena ada hal penting yang harus diselesaikan.


Dila membawa Bagja untuk duduk disisi Ranjang lalu mencari kotak P3K ke sebuah lemari, setelah mendapatkannya, Dila langsung mengobati luka diwajah Bagja.


"Sakit ya A?" tanya Dila saat mengobati Bagja.


"Enggak kok. Ini enggak seberapa dengan rasa sakit hati dan kekecewaan mereka." ucap Bagja.


"Terus kenapa masih maksa ngomong? dari awal kan Dila udah ngomong, biar Dila aja yang ngalah." ucap Dila dengan air mata berderai.


"Karena kamu pantas diperjuangkan Dila." ucap Bagja dengan menatap dalam mata Dila.


"Tapi a, bagaimana kalau mereka tidak merestui kita?" tanya Dila.


"Kita kawiin lari aja." ceplos Bagja.


"Enggak mau!" ucap Dila sambil mencebik kesal.


"Kenapa?" tanya Bagja.


"Aa gendong." jawab Bagja romantis membuat Dila langsung merona.


"Berat!" jawab Dila dengan suara parau namun terdengar manja. Bagja tersenyum manis sekali, baru kali ini Dila melihat Bagja tersenyum semanis itu seumur hidupnya. Tak tahan dia mendekatkan wajahnya lalu melumaat bibir Bagja yang sudah menjadi candu nya itu. Begitu pula Bagja yang tak tahan menyesap bibir ranum semanis madu itu. Mereka saling membelit dan menyalurkan semua emosi jiwa mereka dalam ciuman panas itu hingga...


"Astagfirulloh!!! Bagja! Dila!" ucap Puja dan Iis berbarengan. Puja dan Iis saling berpandangan, tak habis fikir dengan kelakuan anak-anak mereka yang seperti tak tahu tempat dan tak tahu kondisi tersebut. Bagaimana bisa mereka melakukannya secara live? Puja kan jadi kangen Sofyan!


Sementara Dila dan Bagja gelagapan merasa malu karena ketahuan.


"Mah, itu tadi..."


"Tolong kasih restu bun, mah.. tolong biarkan kami menikah. Dila enggak mau dipisahkan sama A Bagja. Kami saling mencintai." ucap Dila.


"Iya mah, bi.. tolong jangan pisahkan kami bi." mohon Bagja. Dila dan Bagja bahkan bersujud memohon restu dikaki Puja dan Iis.


Puja melirik Iis dan memberi kode seolah sedang bertanya. Iis menggeleng pertanda bingung.


"Berdiri Dila, Bagja. Jangan begini." titah Puja. Dila dan Bagja akhirnya bangkit.


"Mamah enggak bisa kasih keputusan, semua tergantung ayah kalian dan juga... Alya." ucap Puja.

__ADS_1


"Tapi kamu tenang aja Dila, kalau Alya menolak, bunda akan minta Vino untuk menikahi kamu." ucap Puja.


Deg!


"Mamah bicara apa sih? Bagja enggak mau, mamah jangan aneh-aneh." ucap Bagja tak terima.


"Bunda jahat sama Dila! kalau bunda tetep sama pendirian bunda, jangan salahin Dila kalau jadi pelakor! jangan salahin Dila kalau nanti Dila merebut a Bagja!" ucap Dila yang langsung membuat Iis dan Puja melongo.


"Dila, tadi kan Bagja bilang itu terjadi karena ketidaksengajaan. Jadi..."


"Memang enggak sengaja mah, tapi melakukannya atas dasar suka sama suka." sela Bagja.


"Iya mah, kami bahkan melakukannya berkali-kali sampai Dila lemes. Coba bunda sama mamah lihat." dengan polosnya Dila membuka syalnya dan membuka syal milik Bagja. Lalu menunjukkan leher merah mereka.


Puja dan Iis saling melirik lalu saling menggeleng.


"Lebih ganas is!" bisik Puja.


"Susah kalau udah begini mah." Iis pun balik berbisik.


"Gimana atuh?" tanya Puja pelan.


"Aku enggak mau anak aku sampai bunnting duluan." ucap Iis tak kalah pelan.


"Jadi kita besanan?" tanya Puja.


"Ya mau gimana lagi. Udah lengket kayak perangko." jawab Iis mereka terus berbisik-bisik membuat Dila dan Bagja penasaran.


Ehemm!!


"Kami berdua merestui kalian." ucap Puja dan Iis berbarengan.


"Beneran bun?" tanya Dila dengan wajah berbinar.


Iis dan Puja mengangguk.


"Yeayyy!!" Dila kegirangan lalu secara spontan memeluk Bagja bahkan menciumi wajah Bagja dengan agresif dan meluumat bibir pria yang sangat digilai nya itu.


"Lepaskan A Bagja Dila!!" bentak Alya yang tiba-tiba sudah berada diambang pintu dengan tatapan marah. Terlihat kilat kemarahan yang begitu besar dimatanya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2