
Setelah selesai dengan acara silahturahmi antar keluarga itu, akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Puja yang sejak tadi hanya diam membuat Sofyan merasa bingung. Pasalnya tak seperti biasanya sang istri menjadi pendiam begini, biasanya dia yang paling heboh sendiri.
"Mama kenapa?" tanya Sofyan saat mereka sudah sampai di kamarnya.
"Enggak apa-apa," jawab Puja singkat.
"Tapi dari tadi kok hanya diam aja, aneh. Enggak biasanya Mama yang bawel jadi pendiam," ucap Sofyan.
"Oh, jadi menurut Ayah Mama itu cerewet gitu?" tanya Puja sengak.
"Ya enggak gitu maksudnya Ma, Ayah hanya..."
"Diem! enggak usah ngomong apa-apa lagi," potong Puja.
"Tapi Ma," Sofyan tak melanjutkan ucapannya tak kala mendapat pelototan tajam dari Puja.
Sofyan mendengus kesal. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba badai datang. Tapi Sofyan lupa ada asap yang menyalakan api cemburu di hati Puja.
"Kalau ada apa-apa tuh ngomong dong, jangan marah-marah enggak jelas begini, Ayah paling enggak nyaman dicuekin sama bidadarinya Ayah," ucap Sofyan sembari memeluk Puja dari belakang. Mencium rambutnya dengan sayang.
"Yakin kalau hanya Mama bidadari di hatinya Ayah? dipuji sama kak Ratna masih senyum-senyum. Itu artinya kan... Eumph!" Puja tak dapat meneruskan kata-katanya begitu Sofyan membungkam mulutnya dengan bibirnya. Dia menyesap dan menelusuri bibir Puja dengan begitu menggebu. Dia ingin menunjukkan betapa cintanya dia kepada Puja.
Hah Hah Hah!
Keduanya terengah-engah. Sudah lama tak melakukan ciuman dengan durasi yang cukup panjang seperti barusan.
"Kalau cemburu tuh bilang, jangan dipendam. Kita nikah sudah berapa tahun sih? sudah 26 tahun Sayang, masa semua itu belum cukup membuktikan kalau hanya Puja satu-satunya dihati Kang Sofyan," ucap Sofyan sambil menatap dalam mata Puja.
"Tapi tadi Akang kayak kesenangan gitu pas Kak Ratna muji-muji Bagja yang gantengnya sama kayak Akang, senyum-senyum bahagia," ucap Puja sambil memajukan bibirnya. Sofyan semakin gemas, istrinya ini, makin tua bukan makin dewasa malah makin manja seperti anak kecil.
"Ya ampun, masa hanya senyum aja enggak boleh. Akang tuh cuma merasa lucu aja, dari dulu karakter Ratna enggak berubah," ucap Sofyan berusaha menjelaskan.
"Tuh kan, muji-muji lagi!" Puja bertambah sewot. Sofyan tersenyum manis sekali sambil memandang wajah istrinya yang semakin tua semakin cantik mempesona itu. Bagaimana tidak mempesona, perawatannya rajin banget.
"Sayang... udah, jangan bahas-bahas yang enggak penting," ucap Sofyan berkata lembut.
__ADS_1
"Lalu apa yang penting?" tanya Puja.
"Kamu yang paling penting bagi Akang," ucap Sofyan sembari mengelus pipi Puja yang halus selembut sutra. Kemudian jarinyq turun menyusuri bibir Puja yang basah, kenyal nan menggiurkan di matanya. Dengan cepat dia melahap bibir itu dan membawa Puja terbang ke nirwana bersama.
//
"Aa yakin langsung mau resign?" tanya Dila.
"Yakin Sayang," jawab Bagja.
"Tapi emang bisa?" tanya Dila lagi.
"InsyaAllah bisa," jawab Bagja.
"Aa enggak nyesel?" tanya Dila yang sudah seperti wartawan yang tak berhenti bertanya.
"Enggak atuh, kan demi masa depan rumah tangga kita Sayang, demi kamu apa saja Aa rela," ucap Bagja.
"Tapi A..."
"Syuuutt. Sudah, jangan tanya-tanya lagi. Sekarang giliran Aa yang nanya, kamu sudah berapa lama kenal sama Alex?" tanya Bagja penasaran. Sebab, sepertinya Alex begitu terkejut dan kecewa saat mengetahui jika Dila sudah menikah dengannya. Bagja merasa Alex seperti orang patah hati saat itu.
"Ya Aa penasaran aja, kok sepertinya kalian sudah kenal lama," ucap Bagja.
"Belum lama kok A, baru seminggu ini," jawab Dila.
"Ooh, apa sebelumnya Alex belum tahu kalau kamu sudah nikah?" tanya Bagja.
"Ya mana Dila tahu," jawab Dila.
"Kamu enggak kasih tahu kalau kamu sudah nikah? Apa jangan-jangan kamu ngakunya masih gadis?" tebak Bagja.
"Ish, ya enggak lah. Pas Dila patah hati gara-gara salah faham aja Alex tahu, kan seharusnya dia tahu kalau Dila sudah punya pasangan," ucap Dila.
"Pasti dia nyangkanya hanya pacar bukan suami," ucap Bagja dingin.
__ADS_1
"Dari yang Aa lihat sepertinya dia ada perasaan sama kamu," lanjutnya lagi.
"Kok gitu?" Dila yang menangkap bau-bau cemburu dari suaminya langsung menatap Bagja dengan penuh cinta.
"Ya gitu, sepertinya begitu. Kamu sih tebar-tebar pesona mulu, udah tahu punya suami," ucap Bagja kesal.
"Ish, siapa juga yang tebar-tebar pesona," ucap Dila tak mau disalahkan.
"Iya mungkin enggak, tapi memang begitu resiko kalau punya istri cantik," ucap Bagja.
"Jadi Aa menyesal?" tanya Dila. Bagja mengerutkan keningnya.
"Menyesal? Ya enggak atuh Sayang," ucap Bagja.
"Tapi tadi bilang resiko punya istri cantik, seolah-olah punya istri cantik itu beban banget bagi A Bagja," ucap Dila sambil cemberut.
Bagja menarik pinggang ramping Dila agar mendekat kepadanya. Kemudian menangkup wajah Dila dan memandanginya dengan intens.
"Siapapun akan merasa khawatir kalau istrinya secantik bidadari kayak kamu Dil, tapi Aa akan berusaha menjaga Dila, Aa akan cari kerja di daerah Bandung, supaya kita bisa tinggal serumah dan kita enggak perlu LDR lagi," ucap Bagja.
"Memangnya yang khawatir hanya Aa aja, Dila juga sama khawatirnya memiliki suami setampan Aa Bagja, Uwa Ratna aja tadi muji-muji Aa di depan semua orang. Sampai..."
"Sampai apa?" tanya Bagja.
"Sampai Bunda cemburu karena bawa-bawa Ayah, hehe.." Dila cekikikan membayangkan wajah ibu mertuanya yang kesal dan kusut. Bagja ikut tersenyum, memang benar apa kata Dila, Puja mamanya sampai cemburu berat mendengar ucapan uwanya yang polos dan asal ceplos itu.
"Uwa emang lucu orangnya, dari dulu polosnya kebangetan," ucap Bagja.
"Udah jangan bahas-bahas yang lain, Dila lagi pengen," ucap Dila yang kini mulai memainkan jarinya di dada bidang Bagja.
"Pengen apa?" tanya Bagja pura-pura bodoh.
"Jangan ikut-ikutan polos kayak Uwa deh," ucap Dila sembari naik ke atas tubuh Bagja.
"Dila yang di atas ya," ucap Dila sembari mengerlingkan sebelah matanya. Bagja hanya bisa tersenyum dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Dila padanya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Next Vino dan Alya ya, maaf othornya jarang aktif karena benar-benar sedang sibuk di RL.