
Iis termenung dan menunduk, entah kenapa perasaannya jadi aneh begini, dia merasa sakit hati mendengar ucapan ceu Imas yang mengatakan wanita berkerudung tersebut adalah calon istri Mahmud. Oh, pantas saja Mahmud bilang tipenya wanita shalehah yang bisa menutup auratnya dengan sempurna, ternyata Mahmud memang sudah punya calon istri dengan kriteria tersebut. Ah, kenapa Iis jadi rendah diri begini. Tapi, Iis sadar diri dan tak mau mengharapkan sesuatu yang tak mungkin tergapai. Dia hanya biduan mana mungkin dapat pria baik-baik seperti Mahmud.
Mahmud sendiri masih terkejut dan melirik kearah Iis yang kini tengah memalingkan wajahnya.
"Ya udah kang Mahmud Iis permisi dulu ya." ucap Iis dengan wajah sendu. Mahmud merasa tak tega, kenapa wajah Iis sesedih itu? apa dia cemburu?
"Is, hati-hati dijalan." ucap Mahmud penuh perhatian. Iis hanya tersenyum simpul lalu memakai helmnya dan melakukan motornya kerumah Puja.
Sementara ceu Imas yang sejak tadi sudah tak sabaran mengenalkan Mahmud dengan anaknya kini kembali menyadarkan lamunan Mahmud.
"Mud, sok atuh kenalan. Ini anak saya, namanya Ani." ucap ceu Imas mengenalkan.
"Hehe iya ceu. Saya Mahmud." ucap Mahmud sambil melirik sejenak anak ceu Imas. Ah, kenapa tidak ada getar-getar asmara sedikitpun? padahal Ani adalah tipenya, justru saat melihat Iis Mahmud malah merasakan getaran aneh itu.
"Ani kang." ucap Ani pelan.
"Hayu duduk dulu diwarung ngobrol-ngobrol" aja ceu Imas.
"Maaf ceu saya masih banyak kerjaan." tolak Mahmud.
"Sebentar aja atuh Mud, pedekate lah sebentar. " ucap ceu imas.
"Maaf banget ceu, kang Sofyan dari tadi sudah nungguin saya." ucap Mahmud.
"Ya udah, ini nih yang eceu suka dari kamu, pekerja keras, rajin lagi! ah pokoknya mah kamu cocok pisan jadi mantu eceu!" ucap ceu Imas. Mahmud hanya tersenyum kikuk setelah itu berpamitan dan pergi menaiki perahu kecil untuk ke tambak Sofyan.
Sesampainya di tambak Sofyan Mahmud langsung ikut bergabung dengan pekerja lainnya.
//
Sementara itu ditempat lainnya, Iis tengah memeluk Puja dengan isak tangisnya. Iis tak tahu lagi harus seperti apa berterimakasih kepada Puja dan Sofyan yang terus-terusan membantunya.
"Udah ih, kamu mah kayak kesiapa aja. Do'a ini aja supaya tambak kang Sofyan makin besar dan bertambah banyak. Ikan-ikannya sehat semua dan panen dengan hasil melimpah." ucap Puja.
"Iya tapi udah banyak banget yang yang dikeluarin sama kamu dan kang Sofyan Puja, Iis kan jadi enggak enak. Tapi Iis janji bakalan kerja lebih keras lagi supaya secepatnya bisa balikin uang itu." jawab Iis.
"Tapi adik kamu udah sehat kan? udah mulai bisa jalan?" tanya Puja.
"Belum bisa Puja, kemaren udah belajar pakai tongkat tapi ya masih kayak gitu aja. Sementara masih pakai kursi roda." jawab Iis.
"Alhamdulillah, yang sabar ya, dan semangat nanti pasti adik kamu bisa sembuh seperti semula." ucap Puja.
__ADS_1
"Iya Puja. Sekali lagi makasih banget atas dukungan dan pertolongan kamu. Aku enggak bisa berkata-kata lagi." ucap Iis.
"Iya.. oh iya kamu masih manggung?" tanya Puja.
"Udah lama semenjak adik aku kecelakaan aku enggak manggung lagi." ucap Iis.
"Gimana kalau kita buka usaha bareng-bareng. Aku pengen buka salon deh." ucap Puja memberi ide.
"Salon? boleh juga Puja. Tapi modalnya dari mana?" tanya Iis.
"Dari kang Sofyan, ditoel dikit juga pasti langsung dikasih." ucap Puja.
"Ya ampun tapi mahal atuh Puja belum sewa tempatnya." ucap Iis.
"Kalau soal tempat aku udah ada di deket kecamatan. Udah terlanjur disewa dua tahun sama kang Sofyan sekarang kosong enggak ada yang nempatin, dari pada mubadzir yang mending dipake buat salon. Kamu kan pernah kerja di salon Is, bisa potong rambut apa salahnya kita buka usaha." ucap Puja.
"Emang rumahnya gede Puja? bisa dipake buat bikin salon?" tanya Iis.
"Lumayan gede is, bisa itu dibikin salon. Parkiran luas, dimodif dikit jadilah. Yang penting lokasinya strategis pinggir jalan dan dekat pasar." ucap Puja.
"Beneran? ya udah atuh Iis mau Puja." ucap Iis semangat.
"Ya udah nanti aku bilang suami dulu ya." ucap Puja.
"Kamu juga nanti akan dapat laki-laki yang baik." jawab Puja.
"Tapi kayaknya enggak mungkin deh." ucap Iis.
"Enggak mungkin gimana? semangat dong. Oh iya kayaknya si Mahmud tu suka loh sama kamu Is." ucap Puja.
"Loh kenapa jadi Mahmud sih?" ucap Iis malu-malu.
"Terus siapa? masa mang oleh yang jualan odading? haha" Puja tertawa geli.
"Is kamu mah, enggak mungkin lah, lagian dia udah punya calon istri kali." jawab Iis.
"Hah? masa sih? kamu tahu dari mana?" tanya Puja.
"Tadi kan aku kesini bareng sama kang Mahmud, terus disuruh nganter ke tambak, nah disana ketemu sama calon istrinya. Hmm.. sholehah Puja, jauh sama aku mah." ucap Iis merendah.
Puja masih bingung, pasalnya Sofyan tak pernah cerita kepadanya.
__ADS_1
"Tapi kan janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan doooong,," ucap Puja menyemangati.
"Apa sih kamu Puja, enggak lah. Lagian aku bukan tipe kang Mahmud." ucap Iis sendu.
"Ya udah jangan sedih gitu dong wajahnya, Laki-laki banyak enggak cuman Mahmud." ucap Puja.
"Iya, lagian aku mau fokus dulu buat nyari uang, kalau aku nikah yang cari uang buat mamah sama adik aku siapa? aku kan tulang punggung keluarga." ucap Iis.
"Iya Is, pokoknya kamu harus semangat jangan pantang menyerah. Aku yakin kita bisa sukses bareng-bareng." ucap Puja.
"Iya Puja, Bagja mana enggak kelihatan?" tanya Iis.
"Biasa anak itu mah jam segini moyoy (tidur)." ucap Puja.
"Enak yah udah nikah mah, punya anak bisa buat mainan hehe..." ucap Iis.
"Ya enak atuh Is, tapi ada yang mainan yang lebih enak Is." ucap Puja.
"Mainan apa?" tanya Iis.
"2 bola dragonball sama satu tongkat mak lampir." jawab Puja sembari cekikikan.
"Is kamu mah, mulai ngabibita (Mengen-mengenin). Kasihan atuh aku yang masih jomblo." ucap Iis sembari mencebik kesal.
//
Setelah hampir tiga jam main dirumah Puja akhirnya Iis berpamitan pulang. Namun baru keluar pintu rumah Puja Sofyan dan Mahmud datang dengan berboncengan motor.
Seperti biasa Puja langsung menyambut Sofyan dengan memberi ciuman-ciuman kecil diwajah Sofyan tanpa tahu malu dilihat oleh orang dan tanpa merasa jijik sedikitpun walaupun Sofyan bau amis. Namanya cinta tau kucing rasa coklat, begitulah perumpamaannya.
"Eh, masih ada jomblowan dan jomblowati. Udah yuk kang masuk." ajak Puja yang ingin memberi ruang kepada Iis dan Mahmud untuk saling bicara. Puja yakin sekali mereka berdua memendam rasa yang sama. Sofyan menurut saja apa mau istrinya itu, lagipula dia sudah sangat lapar. Sedangkan Iis dan Mahmud kini sama-sama kikuk.
"kalau gitu Iis duluan kang." ucap Iis tanpa memandang kearah Mahmud.
"Tunggu Is." tahan Mahmud.
"Ada apa lagi kang?" tanya Iis sambil menatap kearah Mahmud.
"Dia bukan siapa-siapa kang Mahmud. Kang Mahmud masih single kok." ucap Mahmud berusaha menjelaskan.
"Calon istri juga enggak apa-apa kang, kang Mahmud cocok kok sama dia. Kalian serasi." ucap Iis.
__ADS_1
"Tapi akang maunya sama kamu Is."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁