Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Tolong Minta Aku Untuk Berhenti


__ADS_3

"Hah?! kamu jangan bercanda Vin, enggak lucu tau!" ucap Alya kesal.


"Aku enggak lagi ngelawak!" ucap Vino yang juga ikutan sebal, padahal dia serius tapi Alya malah menganggapnya sedang bercanda.


"Tapi, mana bisa kayak gitu." ucap Alya masih tak percaya.


"Ya bisa lah, kan terjadi gesekan antara dua tubuh yang saling menyatu, gitu aja enggak tahu!" ucap Vino ketus, dia bangkit dan beranjak turun dari atas kasur.


"Kamu mau kemana Vin?" tanya Alya sambil terus menggarruk tangan dan kakinya.


"Mau nyari kehangatan!" jawab Vino asal.


"Maksud kamu apa? kamu mau..."


"Ya!" jawab Vino ketus, padahal maksudnya mencari kehangatan adalah membeli jagung bakar sambil ngopi diwarung, tapi Alya salah tangkap maksud Vino.


"Kalau gitu aku enggak izinkan!" ucap Alya sambil berjalan dengan menyeret selimut yang membalut tubuhnya.


"Aku enggak perlu izin dari kamu untuk mencari kehangatan diluar!" ucap Vino yang lagi-lagi ucapannya itu memantik emosi Alya.


"Hanya karena aku enggak mau diajak bercinta kamu jadi ngambek dan mencari kehangatan diluar, Laki-laki macam apa kamu!" ucap Alya.


"Ya anggap aja begitu." ucap Vino sambil meresleting jaketnya. Kemudian dia berjalan melewati Alya begitu saja untuk membuka pintu kamar dan hendak keluar Villa.


"Ayo kita lakukan, asal kamu jangan mencari kehangatan diluar sana." ucap Alya yang akhirnya pasrah. Vino menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menatap Alya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Aku hanya mau cari jagung bakar dan ngopi sebentar, bukan mau bercinta dengan perempuan lain." ucap Vino menjelaskan.


"Aku enggak percaya, dan kalau kamu sampai keluar, aku bakalan aduin ke mamah Puja!" ucap Alya mengancam.

__ADS_1


"Ck! terserah kalau enggak percaya," Vino kembali berbalik dan meneruskan langkahnya. Alya melepas selimutnya dan berlari mengejar Vino lalu memeluk Vino dari belakang.


"Jangan tinggalin aku! jangan pergi." ucap Alya sambil terisak, dia takut sekali jika Vino sampai melakukan hal yang aneh-aneh dengan wanita lain.


"Aku enggak sebejad itu juga kali Al, diajak ciuman aja aku enggak mau apalagi diajak bercinta." ucap Vino jujur. Namun tetap saja Alya meragukan kejujuran Vino.


"Enggak! pokoknya kamu enggak boleh pergi!' ucap Alya kekeh. Dia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Vino.


"Kalau kamu begini terus lama-lama aku bisa khilaf, dan aku enggak mau itu terjadi, pernikahan kita hanya sebatas keterpaksaan. Enggak lebih." ucap Vino.


Hati Alya sakit mendengarnya, kenapa Vino harus mengulang-ulang ucapan seperti itu, tak bisakah Vino belajar mencintai nya? dan tak bisakah mereka memulai dari awal, untuk sama-sama saling belajar menerima satu sama lain. Alya melepas pelukannya, kemudian berbalik membelakangi tubuh Vino.


"Pergilah, terserah apa yang mau kamu lakukan, aku tidak bisa melarang. Tapi tolong secepatnya ceraikan aku. Kalau perlu malam ini juga talak aku." ucap Alya dengan air mata yang terus meleleh membanjiri pipinya. Alya merasa aneh, kenapa dia bisa sesedih ini. Apa dia sudah memiliki perasaan pada Vino?


Mendengar kata talak Vino langsung mengepal tangannya kuat-kuat. Kemudian dia berbalik dan berjalan mendekati Alya. Lalu mendekap tubuh Alya dari belakang.


"Eungh! Vin..." Alya mengerrrang kecil. Vino menghentikan aksinya kemudian menggendong Alya ala bridal style dan merebahkan tubuh ramping itu diatas ranjang.


"Tolong minta aku untuk berhenti sekarang Al," ucap Vino sambil menatap mata Alya dalam-dalam.


"Enggak, aku enggak mau kamu menghentikannya, lanjutkan Vin. Lanjutkan!" ucap AlyaAlya memohon.


"Aku takut kamu menyesal." ucap Vino.


"Enggak! aku enggak menyesal," jawab Alya. Vino nampak berfikir namun kemudian dia memutuskan untuk tidak melakukan itu. Dia hendak bangkit dari atas tubuh Alya, tapi diluar dugaan Alya malah menahan lehernya dan mendekatkan wajah Vino ke wajahnya.


Cup!


Kali ini Alya yang mencium Vino duluan. Mata Vino membulat tak percaya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak menginginkannya?" tanya Alya dengan nada sensual.


"Aku..."


"Mari bercinta." ajak Alya. Vino yang sudah tak dapat menahan gairahnya lagi langsung mencium bibir Alya dengan buas. Menyesap dengan kuat dan membelit dengan lihai. Dia seperti singa gurun yang kehausan di padang tandus. Alya menyambut ciuman itu dengan rasa senang, entah kenapa dia merasa bahagia sekarang.


Vino menatap Alya dengan penuh damba.


Dengan sekali gerakan dia menyingkap pakaian Alya hingga keatas menampilkan dua bulatan pegunungan indah yang masih asri, ralat! sudah ternoda olehnya tadi saat didalam kolam pemandian air panas. Vino menatap kagum, karena pegunungan itu sangat muluss dan kenyal, bentuknya yang kencang dan menantang membuat lobaknya seketika bangkit. Dengan tidak sabaran dia melahap pegunungan indah itu hingga Alya semakin kuat mengigit bibirnya karena tak tahan dengan sensasi yang dirasakan nya.


Vino sudah tidak perduli apapun lagi, mau dengan cinta atau tidak yang pasti Alya adalah istrinya, halal untuk dinikmati keindahannya. Sementara dibawah sana, Vino mulai mengeluarkan lobaknya dan mengarahkannya ke lembah basah nan becek milik Alya, Lobak itu berusaha menembus dinding pembatas surga dunia milik Alya.


Hingga akhirnya malam itu keduanya benar-benar menyatu. Alya sedikit memekik saat benda keras itu melesak masuk menerobos dan merobek miliknya. Dia meneteskan air mata karena baru pertama merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Apa kamu nyesel Al? kenapa nangis?" tanya Vino yang merasa bersalah saat melihat Alya yang meneteskan air matanya.


"Enggak kok, aku hanya merasa sedikit sakit dibawah sana. Mungkin karena ini baru pertama kali untuk aku." ucap Alya sambil memalingkan wajahnya karena malu ditatap Vino dengan tatapan penuh nafsuu.


"Bukan hanya bagi kamu, tapi bagiku juga ini yang pertama." ucap Vino sambil mengarahkan wajah Alya agar kembali melihat kearahnya. Alya terkejut, benarkah ini yang pertama bagi Vino? tapi Vino nampak berpengalaman. Apa Vino hanyalah seorang Casanova tanggung? entahlah, Alya tak perduli.


Vino kembali mencium bibir Alya dengan penuh kelembutan, dan kembali memancing gairah Alya agar kembali berkobar hebat. Secara pelan namun pasti Vino mulai menggerakkan tubuhnya, maju mundur naik turun seperti mendaki sebuah gunung dan menjelajahi bukit. Vino dan Alya merasa sama-sama gila, karena sensasi luar biasa yang ditimbulkan akibat gesekan dua benda asing yang menyatu padu melebur menjadi satu. Suara desa han dan era ngan menggelegar memenuhi Villa cottage sarang burung itu, disana, ditempat itu adalah saksi Vino menanam benih lobak miliknya ke dalam tanah lembab milik Alya.


Vino meraung keras menikmati sensasi permainannya dengan Alya, dia terus menghentak dan memacu tubuhnya yang semakin lama semakin cepat dan kuat. Alya tak dapat berkata-kata, dia hanya bisa menganga menikmatinya permainan panass yang Vino suguhkan.


"Oh.."


Alya dan Vino melenguh bersamaan saat Gelombang kenikmatan itu datang.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2