Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Tragedi Kedua


__ADS_3

"Alya, Dila, kalian apa-apaan?" pekik Puja dengan wajah panik.


Dila dan Alya saling melepaskan diri. Kemudian saling membuang muka tak ingin melihat satu sama lain.


"Dia duluan!" ucap Dila dan Alya secara bersamaan. Mereka saling tunjuk.


"Udah atuh, masa mantu Mamah bertengkar gini," ucap Puja.


"Sekarang salaman, baikan," perintah Puja.


Mereka menurut dan bersalaman, tapi hanya salaman sekilat dan hanya menempelkan ujung jari-jari mereka dengan cepat.


"Yang bener atuh. Seperti ini," ucap Puja seraya menyatukan kedua tangan menantunya.


"Nah, kalau begini kan enak dilihatnya. Mamah seperti punya dua anak perempuan, cantik-cantik dan bager-bager (baik-baik)," ucap Puja sambil membawa Alya dan Dila kepelukannya. Dia menciumi kepala Dila dan Alya secara bergantian.


"Yang akur ya, masalah yang sudah berlalu biarkan saja, ikhlaskan. Jadikan pelajaran untuk masa depan yang lebih baik," ucap Puja menasehati.


"Iya Mah," ucap Dila dan Alya secara bersamaan.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka memasak beberapa makanan untuk makan siang bersama.


Jam makan siang tiba, keluarga besar itu pun berkumpul untuk menikmati makan siang bersama.


"Sambelnya enak siapa yang buat?" tanya Sofyan.


"Mamah yang buat Yah," jawab Dila dan Alya berbarengan. Sofyan tersenyum dengan kekompakan menantunya itu. Sementara Vino dan Bagja hanya saling melirik sesaat.


"Kalau ayam bakarnya siapa yang buat?" kini giliran Bagja yang bertanya.


"Dila," jawab Puja.


"Enak banget," puji Bagja kepada istrinya itu. Dila tersipu malu.


Sedangkan Alya justru merasa jengah karena Vino tak melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Bagja kepada Dila. Entah kenapa dia juga ingin dipuji oleh Vino, tapi sepertinya hal itu hanya angan-angan saja karena sampai mereka selesai menghabiskan makanan itu Vino tak mengeluarkan suaranya walau sepatah dua patah katapun.

__ADS_1


//


Dila, Bagja, Sofyan dan Puja sudah pulang ke rumah, sementara Vino dan Alya masih di tambak karena Vino masih menyelesaikan pekerjaannya. Setelah hampir Ashar Vino baru selesai menata pakan ikan yang dikirim secara berkala menggunakan perahu mesin.


"Alhamdulillah, rampung," ucap Vino sembari duduk disisi Alya yang sejak tadi hanya diam saja.


"Capek?" tanya Alya yang melihat keringat bercucuran hingga membuat baju Vino basah.


"Enggak kok, hanya sedikit lelah," ucap Vino.


"Sama aja, apa bedanya!" ucap Alya ketus.


"Kata-kata capek untuk orang yang mengeluh, sementara lelah itu bahasa tubuh," ucap Vino seraya menatap dalam mata Alya.


"Iya lah, sok bijak banget. Lagian sejak kapan kamu kerja serajin ini. Biasa juga kalau disuruh Ayah suka males-malesan," ucap Alya mencibir.


"Aku hanya ingin berubah jadi lebih baik, aku sadar aku udah berkeluarga dan aku punya kewajiban menafkahi Istriku, bukan hanya batin tapi lahirnya juga," ucap Vino.


"Oh, jadi kamu kerja begini karena mengharap bayaran dari Ayah?" tanya Alya.


"Ya karena selain kerja disini kamu enggak bisa kerja apa-apa, enggak seperti Kakak kamu yang walaupun berhenti kerja di kantor dinas masih sangat mudah mencari pekerjaan lain. Karena skillnya yang dibutuhkan banyak orang," ucap Alya membandingkan Vino dan Bagja.


Vino hanya tersenyum getir mendengar Alya membandingkan dirinya dan juga Bagja Kakak kandungnya. Rasanya sangat sakit, mungkin seperti inilah yang dirasakan oleh Alya saat Vino memuja Dila di depan Alya dulu. Vino memilih diam, tak ingin mendebat Alya yang saat ini memang masih marah walau mereka sudah menghabiskan malam bersama yang begitu panas tadi malam. Vino menyadari sakit hati Alya belum bisa sembuh sepenuhnya.


"Kok diam aja?" tanya Alya.


"Memang apa lagi yang bisa aku bantah? Semua yang diucapkan kamu memang benar," ucap Vino sambil tersenyum manis sekali.


Alya heran karena Vino tak marah dan emosi sedikitpun, dan justru malah tersenyum ramah padanya.


"Tapi..."


"Sudahlah Al, sebaiknya kita bersiap-siap pulang, udah sore," ucap Vino.


"Tapi Vin," ucap Alya menahan Vino yang hendak bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Kenapa lagi?" tanya Vino.


"Aku minta maaf, aku enggak bermaksud untuk..."


"Enggak apa-apa, udah ayo siap-siap," ucap Vino seraya mengelus lembut rambut Alya. Lagi-lagi Alya dibuat tercengang atas sikap Vino yang begitu manis padanya.


"Oh iya Al, aku lupa bilang sesuatu," ucap Vino.


"Bilang apa?" tanya Alya.


"Ikan bakarnya enak, pasti kamu yang buat ya? Aku sampai habis dua," ucap Vino sambil tersenyum manis menatap Alya. Setelah mengatakan itu dia berlalu menuju kamar disaung apung untuk mengganti pakaiannya.


Alya tertegun, tanpa terasa air matanya menetes begitu saja. Bagja mengatakan jika Ayam bakar Dila enak, tapi tidak menghabiskannya seperti Vino yang menghabiskan ikan bakar buatannya sampai dua ekor. Alya merasa sangat bodoh karena menganggap Vino tak seromantis Bagja. Padahal Vino begitu karena mungkin sedang fokus menghabiskan ikan bakar buatan Alya. Alya jadi menyesal, dia menyusul Vino ke dalam kamar dan langsung memeluk Vino dari belakang dengan air mata yang merembes membanjiri pipinya. Dia bahkan menangis sesegukan karena perasaan bersalahnya.


"Kenapa?" tanya Vino.


"Maaf..." ucap Alya lirih.


"Maaf untuk apa?" tanya Vino bingung.


"Untuk semuanya," ucap Alya dengan suara yang terdengar serak karena tangisannya.


Vino tersenyum tipis kemudian berbalik dan menatap mata Alya dalam-dalam.


"Cinta itu kadang-kadang enggak selalu harus diucapkan. Tapi diungkapkan dengan perbuatan, jangan nangis lagi, nanti tambah jelek!" ucap Vino seraya mengelap air mata Alya.


"Kenapa kamu jadi aneh gini sih!" ucap Alya ketus.


"Aneh gimana?" tanya Vino.


"Aneh pokoknya! Tapi aku suka," ucap Alya malu-malu. Dia membenamkan wajahnya ke dalam da-da bidang Vino.


Vino tertawa terbahak-bahak karena sikap Alya yang malu-malu kucing begini, nampak lucu dan begitu menggemaskan. Namun tak lama Vino menghentikan tawanya dia menarik Alya dari tubuhnya kemudian mengangkat wajah Alya menggunakan telunjuknya dan mensejajarkan pandangan mereka.


Secara perlahan namun pasti Vino mulai mendekatkan wajahnya. Bibirnya mendarat dengan sempurna di bibir Alya. Vino menyapunya dengan lembut, dan mel-umatnya dengan mata terpejam menikmati manisnya sari madu yang dihasilkan oleh bibir Alya. Namun lama-kelamaan ciuman itu semakin liar dan menuntut, tanpa berlama-lama mereka sudah sama-sama polos tanpa ada pakaian yang melekat ditubuh mereka. Dan terjadilah gubuk bergoyang season 2.

__ADS_1


__ADS_2