
Keesokan harinya, bi Yayah sudah datang kerumah Sofyan. Kemarin, Sofyan memintanya untuk membantu mengurus Bagja dan menemani Puja hingga sore hari sampai Sofyan pulang dari tambak. Dan kebetulan bi Yayah sendiri sedang membutuhkan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena dia sudah tak kuat menjadi buruh karet yang pekerjaannya lumayan berat.
"Assalamualaikum?" ucap bi Yayah dari teras depan.
"Waalaikumsalam, bi Yayah ya, hayu masuk bi" ajak Puja mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk duduk dikursi tamu.
"Saya bisa mulai kerja ce?" tanya bu Yayah.
"Panggil Puja aja bi." Ucap Puja ramah.
"Ini teh istrinya Sofyan? meni cantik yah" Puji wanita itu. Puja mengangguk ramah, memang rumah bi Yayah berjarak lumayan jauh dari rumahnya Sofyan, sehingga wajar saja jika dia belum melihat secara langsung bagaimana rupa istri Sofyan. Dan juga karena mereka tak mengadakan resepsi pernikahan membuat semua orang mengira Sofyan masih single.
Sofyan yang baru selesai sarapan langsung menemui Puja dan bi Yayah diruang tamu.
"Pagi banget bi datengnya" ucap Sofyan seraya tersenyum ramah.
"Iya pak bos" jawab bi Yayah.
"Aduh, jangan panggil pak bos atuh, kayak siapa aja, panggil Sofyan aja bi." ucap Sofyan sambil terkekeh kecil karena dipanggil pak bos.
"Atuh enggak sopan, masa sama dunungan (atasan atau majikan) manggil nama." jawab bi Yayah.
"Akang Sofyan aja yah sama Teh Puja gitu" usulnya.
"Nah, gitu malah lebih enak kedengerannya" ucap Sofyan setuju. Setelah itu Sofyan langsung menjelaskan apa saja pekerjaan bi Yayah dirumah ini, intinya bi Yayah diminta untuk menjaga dan menemani Puja saat Sofyan tak ada dirumah. Tak hanya bi Yayah, ternyata Sofyan meminta bi Enung yang juga akan bekerja dirumahnya, pekerjaannya hanya membantu masak, mencuci dan beberes rumah. Dan bisa pulang jika pekerjaan sudah selesai.
Puja yang sebenarnya merasa keberatan karena dibantu oleh dua orang pembantu sekaligus hanya bisa pasrah saat Sofyan mengeluarkan fatwanya.
"Puja akang nikahin bukan buat dijadiin pembantu, tapi untuk jadi ratu. Rugi atuh kang Sofyan kerja keras banting tulang, kalau istri akang enggak bisa nikmatin."
__ADS_1
Dan ketika Sofyan sudah bicara begitu Puja hanya bisa banyak bersyukur karena memiliki suami yang sangat mencintainya dan juga sangat pengertian kepadanya. Itulah yang membuat Puja tak bisa berpaling apalagi berbelok kelain hati karena suaminya itu sangat manis dan lembut kepadanya. Justru sebaliknya, Puja malah merasa sangat takut kehilangan Sofyan atau ada wanita lain yang mengambil Sofyan dari sisinya, Sofyan benar-benar sosok suami sempurna dimata Puja.
" Semangat kerjanya ya, Puja pengennya juga ikut ke tambak, pengen bakar ikan lagi, nemenin akang kerja dan juga..."
"Dan juga apa?" tanya Sofyan dengan senyum menggoda.
"Bercinta seperti malam itu." bisik Puja malu-malu.
"Ish! kapan sih enggak nakal, istri akang ini memang paling pinter godain suami" ucap Sofyan sembari mengacak rambut Puja dengan gemas.
"Udah sana berangkat, kerjanya yang fokus dan hati-hati ya. Pokoknya jangan sore-sore pulangnya. Puja enggak bisa kelamaan ditinggal... Ini aja akang belum berangkat Puja udah kangen.." ucapnya manja. Lalu dengan gemas menempelkan kepalanya didada Sofyan.
"Iya.. manja banget istri kang Soyan." ucapnya seraya mengecup kening istrinya.
Dan setelahnya, Sofyan berangkat ketambaknya. Disisi lainnya Ilyas tengah memukul stir mobil karena merasa kesal rencananya gagal total. Dia tak menduga jika Sofyan sampai memperkerjakan dua orang sekaligus untuk menjaga Puja.
Tuuuuutt
Risma menolak panggilannya. Berkali-kali dia menghubungi Risma, berkali-kali pula Risma menolaknya.
"Sialan kucing kecil, berani main-main dengan Ilyas!" umpatnya kesal karena Risma tak kunjung mengangkat telfon darinya.
(Angkat! jangan macam-macam atau kamu tahu akibatnya!) satu pesan berisi ancaman dikirim kepada Risma.
Ting
(Memang apa akibatnya? video syur itu? udah aku hapus! mulai sekarang enggak usah hubungi saya lagi! kerjasama batal!) Risma.
Ilyas membulatkan matanya saat melihat pesan balasan dari Risma, lalu buru-buru mengecek video yang sempat direkamnya.
__ADS_1
"Anj*ng!!!" umpatnya frustasi. Ilyas marah-marah seperti orang kesetanan, karena dalam satu waktu dua rencanya gagal total. Puja yang tak bisa digapai, Risma yang tak bisa dimanfaatkan. Dia berfikir sejenak, lalu kembali mengirim pesan kepada Risma.
(Jangan macem-macem Risma! atau aku enggak mau tanggung jawab kalau sampai kamu hamil! kemarin aku numpahin banyak benih aku dirahim kamu!)
ting
(Aku enggak butuh tanggung jawab dari laki-laki brengsek seperti kamu! aku bisa cari laki-laki lain yang bersedia nikahin aku!) Risma.
(Cih! Sofyan? mana sudi dia nikahin perempuan gampangan yang udah enggak perawan seperti kamu, apalagi tahu kamu hamil bukan anaknya!) balas Ilyas.
ting
(Bukan kang Sofyan! aku udah enggak tertarik sama Sofyan! aku bakal cari laki-laki lain yang mau bertanggung jawab, tapi kalau enggak dapet, aku tinggal gugurin bayi ini!) Risma.
Ilyas murka mendapat balasan dari Risma yang seolah-olah tak menginginkan darah dagingnya tumbuh dirahimnya.
(Awas kalau berani!) balas Ilyas.
ting
(Laki-laki pengecut seperti kamu itu hanya bisanya mengancam orang, omong kosong enggak jelas dan memperdaya perempuan! aku jijik kenal sama kamu!) Risma.
(Jangan sok cantik kamu! jadi perempuan munafik banget, kemarin juga kamu teriak-teriak kenikmatan dibawah aku! cih!) balas Ilyas. Namun pesan tak kunjung masuk, hanya centang satu. Ilyas mencoba menghubungi nomor Risma. Namun ternyata nomornya malah diblokir!
"Aaarrrrgggghh!!!"
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Rasain lu buaya buntung! enaknya dikasih karma apa ya biar tu orang sadar!!
__ADS_1