Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Nostalgia


__ADS_3

Semua keluarga besar kini tengah berbincang di ruang keluarga, bercengkrama membicarakan bisnis dan pekerjaan masing-masing. Hingga pada akhirnya Alya ikut bergabung terlebih dahulu meninggalkan Vino yang berjalan di belakang. Alya duduk di sebelah Risma, enggan berdekatan dengan suaminya.


"Kok duduknya disini sih sayang?" tanya Risma dengan suara sepelan mungkin.


"Enggak apa-apa Umi, Alya masih kangen sama Umi," ucap Alya sambil menyenderkan kepalanya di bahu Risma dengan manja. Risma hanya tersenyum melihat kelakuan anak bungsunya itu.


Tak lama kemudian, Ikhsan dan Alexander datang. Alex begitu terkejut melihat Dila dan Bagja yang begitu mesra, lengket tak mau dipisahkan.


"Dila, kamu kesini?" tanya Alex berbasa-basi.


"Iya dong, masa jenguk keluarga suami enggak ikut," ucap Dila sambil terkekeh.


"Kamu udah punya suami?" tanya Alex yang lagi-lagi terkejut mendapati kenyataan jika Dila sudah menikah.


"Ya udah, ini suami aku," ucap Dila sambil memperkenalkan Bagja kepada Alex.


"Kamu pasti Alex ya? adiknya bang Ikhsan?" tanya Bagja.


"I-iya," jawab Alex menahan rasa gugup sekligus rasa sakit. Ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan, belum juga mulai berperang sudah kalah duluan. Apalagi suaminya Dila adalah sepupunya sendiri. Duh! rasanya Alex ingin makan beling sekarang juga.


"Dila sama Alex saling kenal ya?" tanya Puja yang merasa penasaran karena Alex dan Dila sepertinya dekat.


"Iya Bun, kan satu kampus sama Dila," ucap Dila menjelaskan.


"Ooh, dunia sempit banget, tapi setahu Bibi kamu kan kuliah di Jakarta, apa pindah?" tanya Puja.


"Iya Puja, memang dipindahkan, biar jauh dari temen-temennya yang bandel-bandel!" ucap Ratna menimpali.


"Mah, jangan bahas-bahas soal itu lah," ucap Alex malas.

__ADS_1


"Ya memang gitu kenyataannya, Nakal, bandel!" ucap Ratna.


"Sama dong kayak Vino, Vino juga gitu, beda jauh sama kakaknya, tapi pas semenjak nikah sama Alya, Vino udah banyak berubah," ucap Puja.


Alya dan Vino saling bertatapan mendengar ucapan Puja, namun hanya sebentar karena di detik selanjutnya mereka sudah kembali ke pandangan awal. Sedangkan Ikhsan, malah menatap tajam ke arah Vino. Begitupula dengan Bagja yang saat ini masih marah pada adik bungsunya itu.


"Duh, apa iya? apa Alek dinikahin aja ya," ucap Ratna.


"Ide bagus ma, nikahin aja," timpal Marvel.


"Jangan!"


Sentak seseorang. Orang itu bukan Alex, apalagi Vino. Dia adalah Ikhsan yang tak setuju Alex dinikahkan di usianya yang terbilang masih muda.


"Kenapa Bang?" tanya Marvel.


"Iya, kenapa Bang Ikhsan enggak setuju dengan ide Mama?" tambah Ratna. Semua mata kini tertuju padanya, menunggu jawaban dari pria dewasa yang hampir telat menikah itu.


"Ish! apaan sih Bang! gue udah dewasa ya, jangan samain gue sama bocil labil, gue enggak suka!" ucap Alex yang tersinggung karena Ikhsan menganggapnya masih labil.


"Ya kalau udah dewasa kerjaannya enggak balapan, enggak party tiap malam, orang dewasa itu disibukkan dengan pekerjaan, seperti Abang kamu," timpal Marvel.


"Pa! Stop bandingin Alex sama Bang Ikhsan!" ucap Alex tak terima. Saking kesalnya dia pergi ke kamarnya begitu saja tanpa memperdulikan yang lainnya.


Ratna hanya bisa mengelus dada, anak bungsunya itu karakternya memang keras kepala, susah dinasehati.


"Pa," ucap Ikhsan dengan menatap Marvel.


"Biarkan, ayo duduk di sini," ucap Marvel sembari menepuk sofa di sebelahnya.

__ADS_1


Di sisi lainnya, Ilyas tersenyum kecut. Entah kenapa dia begitu cemburu saat Marvel dengan terang-terangan membela Ikhsan dibanding anak kandungnya sendiri. Ilyas merasa iri dengan kedekatan Marvel dan Ikhsan anaknya, iri di sini bukan hal negatif, tapi lebih kepada penyesalan atas perbuatannya dulu. Yang sudah menelantarkan anaknya sendiri, hingga meninggalkan trauma dalam hidup Ikhsan.


"Oh iya, Bagja sekarang kerja di mana?" tanya Ratna. Sejak tadi Ratna memandangi wajah Bagja yang begitu rupawan, anteng, kalem dan nampak anak baik-baik. Seperti Sofyan saat masih muda dulu. Persis seperti ini.


"Di dinas perikanan Wa," jawab Bagja.


"Ooh, ih uwa mah meni seneng lihat kamu, ganteng banget, kalem kayak bapak kamu dulu," ucap Ratna keceplosan.


Sontak semua yang ada di sana menatap ke arahnya. Sofyan menyunggingkan senyumnya, karena merasa Ratna tak pernah berubah, sejak dulu jika takjub akan sesuatu mesti langsung diungkapkan tanpa bisa menahan rasa takjubnya itu. Sedangkan Puja tetap memaksakan senyumnya, padahal hatinya sedang cemburu berat. Dia menatap ke samping, ke arah Sofyan. Matanya melotot tajam, seketika itu juga Sofyan kembali ke mode silent.


Marvel? Jangan ditanya. Wajahnya sudah seperti daun singkong rebus, kusut dan berasap.


"Ehem... hemm!!" Marvel berdehem cukup keras untuk menyadarkan istrinya yang sedang dalam mode nostalgia itu.


"Kenapa Pa? batuk?" tanya Ratna tanpa merasa berdosa sedikitpun.


"Enggak, ini hanya gatal sedikit tenggorokan. Biasalah, sudah tua, sudah enggak ganteng lagi," ucap Marvel menyindir.


"Loh apa hubungannya batuk sama ganteng?" tanya Ratna yang masih belum peka.


"Ya jelas ada dong sayang, kalau orang ganteng itu enggak akan batuk. Seperti Sofyan misalnya, iya kan?" tanya Marvel sambil memaksakan senyumnya. Sofyan jadi salah tingkah, apalagi istrinya saat ini tengah mencengkram tangannya dengan kuat. Hingga sendi-sendi jarinya seperti hendak dipatahkan.


"Iya, Kang Sofyan memang ganteng, dari dulu," ucap Ratna lagi.


"Sama Papa gantengan siapa?" tanya Marvel yang kini tingkahnya seperti anak abegeh yang sedang cemburu.


"Ya gantengan Papa dong," jawab Ratna. Kini Sofyan dapat bernafas dengan lega setelah menghadapi situasi mencekam, menikam, darurat siaga empat itu. Karena tangannya sudah dilepas oleh Puja.


"Tapi Papa gantengnya versi bule, kalau Kang Sofyan kan versi lokal," lanjut Ratna.

__ADS_1


Sofyan menepuk jidatnya. Dasar Ratna!


__ADS_2