
Malam hari selepas maghrib Vino sudah bersiap-siap hendak ke rumah mertuanya untuk bertemu sekaligus menjemput Alya pulang. Sebelum itu Sofyan sudah menghubungi Ikhsan berpesan dan meminta Ikhsan agar memberi ruang untuk Alya dan Vino berbicara dari hati ke hati. Tapi tetap keputusan ada pada mereka nantinya, apakah masih melanjutkan pernikahannya atau berpisah. Ikhsan setuju, walaupun sebenarnya agak sedikit keberatan, tapi karena Sofyan yang meminta dia tak bisa berkutik. Ikhsan sangat menghormati Sofyan dan begitu segan jika harus menolak permintaannya.
"Kenapa jelek banget sih pakai kaos ini? Apa ganti yang lain aja ya?" ucap Vino bermonolog, dia menatap cermin menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan, tetap saja dia tak percaya diri dan merasa masih jelek.
"Kalau belah dua, culun banget, kalau kayak kipli gini kok terkesan norak! kalau kesamping kenapa jadi kalem banget, apa di kuncir aja ya?" lagi-lagi Vino bertanya pada dirinya sendiri. Dia sudah seperti orang gila karena sudah hampir dua jam masih berkutat di depan cermin.
"Ah udahlah pakai ini aja," ucap Vino yang akhirnya menyerah dan memutuskan memakai kemeja putih dengan celana jeans. Dia menyigar rambutnya ke belakang membuatnya nampak seperti pria cool. Dia tersenyum menatap cermin.
"Masa ganteng maksimal gini ditolak, enggak mungkin dong. Anaknya Puja dan Sofyan Ali gituloh," ujar Vino menyombongkan diri. Tak lupa dia menyempotkan farfum yang hampir setengah botol dihabiskannya. Semua itu demi membuat Alya terkesan dengan pesonanya.
//
Alya dan keluarganya baru saja selesai makan malam bersama. Sedangkan Ikhsan sendiri sudah pulang kerumah Ratna.
Tok Tok Tok
"Assalamualaikum,"
Deg
Alya menghentikan aktivitasnya begitu mendengar suara ketukan pintu dan suara orang yang mengucapkan salam. Dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Vino suaminya.
"Al, sepertinya itu Vino ya? bukain pintu gih," perintah Risma.
"Iya Mi," jawab Alya. Dengan perasaan campur aduk Alya berjalan menuju pintu depan.
'Ish! ngapain sih dia kesini' Alya menggerutu kesal.
Klek!
"Hai Sayang," Vino tersenyum sembari menyerahkan setangkai mawar merah kepada Alya, ditambah penampilannya yang nampak berbeda, Alya jadi terbengong-bengong. Apalagi wangi parfum yang menguar dari tubuh Vino menyeruak masuk ke hidungnya.
'Kenapa dia jadi kelihatan tambah ganteng?' batin Alya.
"Kenapa ngelamun, terpesona ya?" goda Vino.
"Ih, apaan sih. Nggak lah, ngapain terpesona sama laki-laki seperti kamu," ucap Alya ketus. Lain di mulut lain di hati.
"Sini Neng peluk Abang," ucap Vino sambil menarik Alya hingga tubuh Alya terjerembab ke dalam pelukannya.
"Iih Vino apaan sih, lepasin!!" Alya memberontak. Padahal Alya merasa senang berpelukan dengan Vino lagi, dia sangat merindukan Vino, walaupun pria itu telah melukai hatinya.
"Vino lepasin!!" Lagi-lagi Alya berontak meminta dilepaskan.
Vino yang kesal karena Alya tak kunjung diam akhirnya mengambil jalan pintas dengan menarik tengkuk Alya dan melu-mat bibir wanitanya itu dengan sangat menuntut dan tidak sabaran. Alya yang mendapat serangan mendadak dari Vino begitu terkejut sehingga dia hanya diam saja tanpa membalas ciuman itu. Namun tak lama kemudian dia mulai membuka mulutnya dan memberikan akses untuk lidah Vino menjelajahi rongga mulutnya dan terjadilah belit membelit antara pasangan suami istri itu. Alya tak tahan, rasa gengsinya seketika runtuh karena Vino membuainya dengan lihai. Mereka sampai lupa jika masih berada diluar ruangan, lebih tepatnya masih berada didepan pintu.
__ADS_1
"Ehemm ... hemm!" Ilyas berdehem cukup keras untuk mengingatkan kedua sejoli yang sedang saling melepas rindu itu agar tak kebablasan.
"Eh, A-Abi!" Alya terkejut dan malu dalam waktu bersamaan.
"Vin, masuk ke kamar jangan di depan pintu, enggak enak kalau sampai kelihatan orang," ucap Ilyas mengingatkan.
"Iya Bi," jawab Vino sambil tersenyum kikuk.
"Ayo Sayang," tanpa ba bi bu, Vino langsung menarik tangan Alya lalu berjalan menuju kamar istrinya itu.
Brak!
"Lepasin!" Alya menghempas tangannya hingga cekalan tangan Vino terlepas.
"Mau ngapain lagi kamu ke sini?" tanya Alya ketus.
"Ya mau ketemu kamu lah," ucap Vino santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Ck! dasar enggak tahu malu, setelah apa yang terjadi kamu masih punya muka buat nemuin aku," ucap Alya sarkas.
"Baru tahu? Dari jaman Angling Darma juga aku memang enggak tahu malu," ucap Vino sembari mendekati Alya.
Alya berjalan mundur saat Vino mendekatinya hingga.
Bugh!
"Malu-malu mau, ternyata kamu udah siap untuk dibuat enggak bisa jalan," ucap Vino menyeringai.
Alya bergidik ngeri. Apa katanya tadi? Membuat kamu tak bisa jalan? Duh! kira-kira Vino melakukan apa? Alya membatin.
"Jangan aneh-aneh deh, mending kamu pulang!" Alya mengusir Vino.
"Kamu ngusir aku?" tanya Vino sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya! ini kan rumah aku, jadi aku berhak ngusir kamu!" jawab Alya dengan ketus.
"Kalau aku enggak mau gimana?" tanya Vino.
"Aku bakal teriak!" ancam Alya.
Vino tertawa geli.
"Apa kamu bakal teriak, Umi... Abi... tolongin Alya, Alya dinoda-i oleh suami sendiri. Begitu?" tanya Vino dengan senyum mengejek.
Alya mati kutu!
__ADS_1
'Dasar Vino sialan!' umpat Alya dalam hati.
"Jangan jelek-jelekin suami, dosa!" ucap Vino yang melihat bibir Alya komat kamit tanpa mengeluarkan suara.
"Gak perlu di jelek-jelekin juga kamu emang udah jelek!" ucap Alya ketus. Vino mendekat dan kini dia menghimpit tubuh Alya sehingga pergerakan Alya terkunci oleh tubuhnya.
"Jangan galak-galak dong Sayang, enggak capek marah terus?" bisik Vino.
Alya berusaha mendorong tubuh Vino, tapi tak bisa. Dia menyerah dan akhirnya menangis.
"Aku benci sama kamu! dasar laki-laki badjingan!" ucap Alya dengan suara parau.
"Kamu pasti kesini hanya karena ingin tubuhku kan? Kalau gitu cepat lakukan, tapi setelah itu kamu pergi!" ucap Alya sambil menatap benci kepada Vino.
Vino memejamkan matanya menahan dan menekan amarahnya agar tak keluar dan tersulut emosi. Dia bangkit dan melepaskan Alya. Kemudian dia mengambil mawar yang tadi sempat dilemparkan Alya.
"Aku kesini karena aku kangen sama kamu Al, aku berpenampilan sebaik dan semenarik mungkin agar kamu terkesan. Tadinya aku kira dengan memberikan waktu selama beberapa hari kamu akan memaafkan aku. Tapi ternyata aku salah besar. Maaf sudah membuat kamu sakit hati. Aku memang pecundang, tapi asal kamu tahu aku kesini bukan hanya ingin tubuh kamu, kalau hanya kepuasan, aku bisa cari perempuan bayaran. Sepertinya memang udah enggak ada yang bisa diperbaiki. Kita enggak cocok," ucap Vino sambil mengelap sudut matanya yang basah.
"Kamu pasti seneng kan sekarang, akhirnya malam ini aku akan,_"
"Jangan!" Alya menyela dengan cepat. Vino berbalik menatap Alya dengan sendu.
"Kenapa jangan? Kamu harusnya senang, terbebas dari laki-laki brengs-ek seperti aku," ucap Vino.
"Aku enggak mau keluarga aku sampai menanggung malu karena anaknya harus bercerai disaat usia pernikahan yang masih seumur jagung, sesuai dengan kesepakatan kita aja, satu tahun." ucap Alya.
"Aku enggak mau mempermainkan pernikahan. Kalau memang kamu udah enggak mau sama aku, ya udah. Lebih cepat lebih baik, dan setelah ini kamu bebas mencari laki-laki lain yang mungkin bisa membahagiakan kamu lebih dari pada aku yang hanya bisa membuat kamu menangis," ucap Vino.
"Jadi kamu kesini hanya ingin menceraikan aku?" tanya Alya dengan deraian air mata yang merembes dipipinya.
"Kamu yang minta cerai bukan aku yang mau. Aku kesini untuk menjemput kamu, aku kesini untuk memperbaiki semuanya, aku kesini untuk rumah tangga kita. Aku kesini karena..."
"Karena apa?" tanya Alya.
"Percuma aku bilang, kamu juga enggak akan percaya," ucap Vino sambil tersenyum getir.
"Aku tahu. Pasti karena Mamah kamu kan? Mamah kamu yang nyuruh jemput aku? Iya?!" tebak Alya.
"Dasar anak Mamah!" cibir Alya.
"Karena aku cinta sama kamu Al, aku enggak mau kehilangan kamu," ucap Vino.
Seketika tubuh Alya membeku.
Vino mendekati Alya dan memeluknya dari belakang. Kemudian membisikkan sesuatu di telinga Alya.
__ADS_1
"Aku rindu kamu Alya, My wife.. my Love.."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁