
Alya mendorong tubuh Vino sekuat tenaga hingga tubuhnya terjungkal ke lantai.
"Awww!!" pekik Vino kesakitan diarea bokoongnya.
"Ngapain? ngapain kamu deket-deket dan cium aku segala?" tanya Alya ketakutan.
"Cium? jangan ge-er deh!?" ucap Vino memasang wajah juteknya.
"Terus tadi ngapain? jelas-jelas bibir kamu nempel dibibir aku! kamu pasti curi-curi kesempatan kan?" tanya Alya dengan menatap curiga.
"Ish! kepedean! yang ada juga kamu pasti segaja caper tidur dilantai, biar sakit, terus berharap aku gendong dan akhirnya kejadian enggak disengaja tadi semua pasti sudah kamu rencanakan!" ucap Vino balik menuduh.
"Udahlah, aku laper mau makan! ambilin sono! ntar kalau aku yang ambil sendiri yang lain mengira kita enggak akur." ucap Vino.
"Loh memang kenyataan nya kita enggak akur kan?" tanya Alya.
"Iya, tapi yang lain jangan sampai tahu, aku enggak mau mamah aku sampai sedih!" ucap Vino sambil beranjak duduk dikursi.
"Ya udah," jawab Alya. Setelah itu dia keluar dari dalam kamar dan mengambil makanan untuk Vino di dapur. Namun saat didapur dia tak sengaja berpapasan dengan Dila yang baru saja selesai mandi dengan mengenakan kimono handuknya. Tubuhnya nampak segar karena Dila habis keramas. Alya tahu Dila pasti baru saja mandi junub, miris sekali nasibnya, melihat Dila dan Bagja yang begitu menikmati pernikahan mereka, sedangkan pernikahannya bersama Vino sangat berbanding terbalik dan jauh dari kata mesra, akur saja tidak!
Alya memasang wajah datar, diam saja tak berniat menyapa sedikitpun. Walaupun disini posisinya sebagai adik ipar, tapi tetap saja jika disuruh menghormati Dila, dia tak mau.
"Aku harap pernikahan kamu sama Vino baik-baik aja, dan pelan-pelan kalian bisa menerima satu sama lain." ucap Dila saat Alya menyendokkan nasi ke piring yang dipegangnya.
"Maksud kamu apa? mau pamer gitu kalau pernikahan kamu sama mantan calon suami aku baik-baik aja, mesra gitu? iya?" jawab Alya sengak.
"Biasa aja dong. Aku kan hanya mendoakan." ucap Dila.
"Dasar enggak tahu malu, udah ngerebut calon suami orang, masih punya muka buat pamer kemesraan." ucap Alya pedas.
"Kamu kenapa sih? masih aja dendam, aku kan hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian. Aku fikir setelah kita iparan perlahan-lahan kamu bisa menerima aku, kita jadi ipar yang saling mendukung satu sama lain. Tapi nyatanya kamu malah semakin benci sama aku. Dan satu lagi aku juga enggak pernah ngerasa ngerebut A Bagja dari kamu, takdir yang mempersatukan kami." ucap Dila berusaha membela diri.
__ADS_1
"Takdir, ck!" Alya berdecak kesal karena Dila tak merasa bersalah sama sekali. Dan ketika semuanya sudah selesai dia melengos pergi begitu saja dari dapur menuju kamarnya.
Klek!
"Ini makanlah." ucap Alya dengan wajah muram. Setelah meletakkan piring berisi makanan itu diatas nakas, Alya beranjak keluar kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya Vino.
"Masak," jawab Alya singkat.
"Biar apa? biar kelihatan mantu idaman gitu? terus cari-cari perhatian kak Bagja lewat masakan kamu," tuding Vino. Alya mengepal tangannya kuat-kuat.
"Anggap aja begitu." Selepas mengatakan hal itu, Alya langsung keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan kencang.
Brak!
Vino terlonjak kaget, "Dasar nenek sihir!" umpat nya.
//
Semua berkumpul mengelilingi meja makan, menikmati kebersamaan sambil makan malam bersama. Puja begitu senang karena anak-anaknya sudah memiliki pasangan. Terasa hangat dan menyenangkan.
"Waw! ini yang masak siapa?" tanya Puja saat melihat banyaknya makanan yang tersaji diatas meja.
"Alya mah, semoga mamah suka masakan Alya," jawab Alya sambil melirik Dila dengan tersenyum sinis.
"Masak sebanyak ini sendirian?" tanya Puja.
"Iya mah." jawab Alya. Alya merasa menang. Namun bukan Dila namanya kalau tak kehabisan ide. Sebenarnya awalnya Dila merasa panas, tapi dia memutar otaknya secepat kilat.
"Maaf ya mah, Dila enggak bantuin, soalnya aa Bagja enggak ngebiarin Dila keluar kamar. Sibuk bikin cucu untuk mamah sama ayah." ucap Dila sambil menggenggam tangan Bagja dengan mesra. Bagja hanya memasang wajah datar, kulkas 50 pintu itu hangat nya hanya saat di ranjang. Setelah puas memanasi Alya, Dila melirik Alya yang terlihat muram. Seketika dia dan Alya saling berpandang-pandangan. Jika di beri jagung di tengah-tengah antara meraka mungkin saja sudah menjadi jagung bakar, karena saking panasnya hawa persaingan yang begitu nyata.
__ADS_1
"Iya sayang, mamah maklum kok, besok-besok yang masak biar mamah aja, kalian urus keperluan suami masing-masing." ucap Puja.
"Ayo mulai makannya mah, ayah udah lapar." ucap Sofyan. Setelah itu mereka berdo'a bersama yang dipimpin oleh Sofyan dan para wanita melayani suaminya masing-masing.
Setelah makan malam selesai mereka kembali berbincang bersama sebentar, kemudian kembali masuk ke kamar masing-masing.
"Ayang, lihat kan, tadi Alya caper banget sama mamah, untung aja Dila pinter, tapi kalau dia kayak gitu terus, Dila jadi enggak nyaman," keluh Dila sambil mengerucutkan bibirnya. Sedangkan yang diajak ngomong malah sibuk dengan laptopnya mengerjakan beberapa tugas penting karena lusa dia sudah kembali bekerja.
"Iih! a Bagja kok gitu sih, Dila ngomong panjang lebar enggak direspon!" ucap Dila merajuk.
"Terus A Bagja harus bagaimana sayang?" tanya Bagja.
"Kita pindah. Kerumah mamah Iis dulu." ajak Dila.
"Ya udah besok pagi aa bilang sama mamah. Sekarang kamu tidur, aa mau garap kerjaan dulu," ucap Bagja.
"Tapi tidurnya pengen dipeluk," ucap Dila manja.
"Peluk aja tapi ya, jangan yang lain, kerjaan udah numpuk soalnya, kamu juga kasian digempurr mulu," ucap Bagja.
"Iya, ayo peluk." ucap Dila sambil menarik Bagja agar tidur di sisi nya. Bagja ikut tidur disisi Dila dan memeluk Dila seperti koala, penuh kehangatan dan kelembutan. Awalnya hanya begitu tapi tangan Dila yang nakal dan menjalar ke mana-mana terutama masuk kedalam sarang ular kobranya, membuat Bagja tak tahan. Dila seperti memiliki magnet dalam tubuhnya yang membuat Bagja ingin terus menggagahi Dila.
"Tadi katanya peluk aja," ucap Bagja dengan suara seraknya.
"Maunya sih, tapi entah kenapa kalau didekat A Baja Dila enggak tahan. Tiba-tiba gatell lagi, pengen di..."
Cup!
Bagja keburu merampas bibirnya karena sudah merasa tak tahan dengan godaan yang diberikan Dila padanya.
"Argghh aa sayang!!" drang Dila saat merasakan singkong milik Bagja sudah datang bertamu pada miliknya. Sensasi yang selalu membuat Dila merasa terlena dan melayang terbang. Perlahan Bagja mulai menggerakan tubuahnya hingga semakin lama gerakan itu semakin cepat.
__ADS_1
"Kamu luar biasa Dil, Arghhh!! ini nikmat banget" ceracau Bagja. Dia terus memaju mundurkan tubuhnya dengan ritme cepat, apalagi saat mendengar dessahan manja dari bibir seexy Dila. Mereka terombang ambing, digulung dan dihempas oleh gelombang ombak kenikmatan. Mereka kembali mengulangi perciintaan panas mereka seperti tadi malam, tanpa sedikitpun merasa lelah.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁