Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Anak Ilyas


__ADS_3

Vino dan Alya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Alya karena ada beberapa barang Alya yang ketinggalan. Sesampainya disana Alya dan Vino cukup terkejut karena mendapati sosok wanita yang tengah duduk menempel dengan Ilyas di kursi tamu. Alya berfikir apa jangan-jangan itu selingkuhan ayahnya? Seketika amarah menyelimuti nya.


"Hei lepasin Ayahku!" ucap Alya keras hingga Ilyas dan wanita itu menoleh.


"Alya, sini Nak," panggil Ilyas seraya tersenyum manis. Alya heran kenapa Ayahnya seperti tidak merasa bersalah sama sekali? Siapa wanita itu?


Alya mendekat dan menatap tajam wanita itu dan memindainya dari atas ke bawah, kalau dilihat-lihat kenapa mirip dengan Ilyas? Apa jangan-jangan...


"Ini Eva, Kakak kamu baru datang dari Sumatera," ucap Ilyas memperkenalkan diri.


"Oohh... Kak, Eva? Ya ampun, maaf ya Kak, Alya enggak tahu," ucap Alya yang merasa tak enak hati karena sempat berfikir yang tidak-tidak.


"Enggak apa-apa Al, oh iya cowok ini siapa?" tanya Eva yang sejak tadi menatap Vino dengan penuh kekaguman.


"Oh, kenalin, ini Vino suami aku," ucap Alya mengenalkan Vino.


"Oh kamu udah nikah?" tanya Eva tak percaya.


"Iya," jawab Alya.


"Kakak malah baru aja jadi janda," ucap Eva sambil memaksakan senyumnya.


"Al, aku duluan ya, udah risih banget pengen mandi," pamit Vino.


"Iya, duluan aja, aku masih mau ngobrol dengan Kak Eva," ucap Alya.


Vino berlalu menuju kamar Alya, sementara Alya langsung mengajak Eva duduk dan berbincang tanpa menyadari sedari tadi Eva terus menerus mencuri-curi pandang melihat Vino.


//


"Aa, Dila tunggu Aa selesai ngurus pengunduran diri Aa aja deh ke Bandungnya, urusan kampus biar Dila izin selama beberapa hari," ucap Dila.


"Ya jangan gitu, namanya bolos," ucap Bagja.


"Dila males kuliah, apa Dila berhenti aja?" tanya Dila.


"Eh, kok jadi malah mau berhenti? Ya jangan dong sayang, kasihan Mamah Iis sama Bapak Mahmud yang pengen banget lihat anaknya sarjana," ucap Bagja.

__ADS_1


"Iya tapi Dila enggak mau jauh-jauh dari Aa, takut kecolongan," ucap Dila.


"Ya udah izin aja kalau gitu, tapi jangan samoai berhenti ya kuliahnya, Aa gak mau loh kamu sampai menyesal, walaupun sudah nikah kamu tetap harus semangat mengejar cita-cita dan impian kamu, demi Mamah Iis dan Bapak Mahmud," ucap Bagja menyemangati.


"Demi Aa juga, dan demi cinta Dila ke Aa," ucap Dila manja.


"Eh, udah kena Virus bucin ya?" tanya Bagja.


"Gimana enggak bucin kalau suaminya kayak gini," ucap Dila.


"Ya udah sekarang Aa masih mau ngelanjutin kerjaan Aa, karena sebelum resign kan semua kudu selesai, enggak bisa langsung keluar begitu aja," ucap Bagja.


"Iya A," ucap Dila. Kemudian setelah itu Dila keluar kamar karena tak ingin mengganggu konsentrasi suaminya dalam menyelesaikan pekerjaannya.


"Bun, lagi nonton apa?" sapa Dila saat melihat Puja tengah menonton sinetron di televisi.


"Lagi nonton film ku menangis sayang," jawab Puja tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi itu.


"Oh, yang iklannya ikan boncenang (ikan kecil yang biasanya hidup di parit sawah) itu ya?" tanya Dila.


"Emang seru ya Bun?" tanya Dila.


"Sini ikut nonton, Lagi seru pelakornya lagi kena adzab!" ucap Puja.


Dila pun ikut duduk, dan menyimak film yang tengah di tonton Puja.


"Duh ngenes ya banget Ya Bun, bisa-bisanya bun-uh diri di pohon toge, ya diketawain orang satu kampung," ucap Dila.


"Iya sayang, sampai digosipin sama sama tetangganya pas ngumpul ditukang sayur, kasihan kan?" ucap Puja prihatin.


"Pelakornya yang kasihan?" tanya Dila.


"Tukang sayurnya atuh, kasihan dagangannya cuma dipilih-pilih tapi malah gak jadi di beli," ucap Puja.


"Kirain pelakornya," ucap Dila sambil menggeleng pelan.


"Duh, ngapain di kasihani, pelakor itu hanya orang-orang yang kurang bersyukur dan iri dengki dengan kebahagiaan orang lain," ucap Puja.

__ADS_1


"Apa iya Bun? Tapi kan ada tuh, yang karena terpaksa, misalnya karena masalah ekonomi atau karena terpaksa," tanya Dila.


"Enggak Dila, perempuan yang pandai bersyukur tidak akan pernah mau merebut apa yang menjadi milik orang lain. Pelakor layaknya pencuri yang ingin memiliki tanpa mau berusaha sendiri," ucap Puja menjelaskan.


"Oh, Bunda kok kayak tahu betul seluk beluk tentang pelakor?" tanya Dila heran.


[Duh, ni anak pake nanya segala, jelas gue tahu lah, gue kan mantan pelakor yang dulu bikin geram emak-emak ***] batin Puja.


"Hanya kebetulan aja sayang," ucap Puja seraya tersenyum kaku.


//


Malam-malam Vino yang tak dapat memejamkan matanya memilih bersantai di teras depan, memandangi bulan yang bersinar cukup terang. Alya sudah tidur sejak tadi, mungkin karena kelelahan menemaninya bekerja seharian. Vino sendiri sebenarnya merasa lelah, tapi anehnya dia malah sulit tidur jika sudah kelelahan. Selain itu juga karena Vino terngiang-ngiang dengan ucapan Alya di tambak tadi yang membandingkan dirinya dengan Bagja.


Vino kepikiran tentang masa depannya. Jika dia mengandalkan Sofyan untuk menafkahi Alya sampai lulus kuliah, rasanya terlalu lama, apalagi jika sampai Alya hamil dan melahirkan tentu butuh banyak biaya. Vino juga merasa harga dirinya sebagai lelaki tak ada sedikitpun. Dia tidak ingin disebut 'anak mama' lagi. Dia ingin bekerja dan menafkahi Alya dengan jerih payah keringatnya sendiri.


Di tengah asyik dengan lamunannya, tiba-tiba Eva muncul dan ikut duduk disebelah Vino.


"Sendirian aja, Alya mana?" tanya Eva.


"Udah tidur Kak," jawab Vino sopan.


"Oh, kenapa kamu belum tidur?" tanya Eva.


"Belum ngantuk," jawab Vino.


"Sama dong kalau gitu, Kakak juga belum ngantuk. Emang apa yang bikin kamu enggak bisa tidur? Apa ada yang lagi difikirkan?" tanya Eva.


"Ada, tapi maaf Vino enggak bisa cerita," ucap Vino.


"Iya enggak apa-apa, Kakak juga lagi ada fikiran mangkanya enggak bisa tidur," ucap Eva dengan memasang wajah sendu.


"Soal apa?" Vino penasaran.


"Soal masa depan Kakak, Kakak baru aja kehilangan anak yang sudah ditunggu-tunggu selama tujuh tahun pernikahan. Kami menikah sudah cukup lama, menanti momongan. Tapi Kakak malah mendapatkan fakta bahwa Suami Kakak menikah lagi, Alasannya karena bosan menunggu Kakak yang enggak hamil-hamil. Dan saat melahirkan dia malah asyik dengan istri mudanya, semua bertambah menyakitkan saat anak Kakak ternyata tidak selamat," Eva bercerita panjang lebar mengenai kisahnya. Vino cukup sampati dan merasa iba. Nakurinya sebagai lelaki langsung membawa Eva kedalam pelukannya untuk menenangkan Eva yang menangis tersedu-sedu.


Namun dibalik itu, Eva tersenyum menang.

__ADS_1


__ADS_2