
Aku buru-buru membuka pintunya setelah merapikan penampilanku.
"Eh, kok kang Sofyan udah pulang, katanya mau tidur diempang" tanyaku pura-pura polos.
"Ada yang ketinggalan" ucapnya dingin.
"Emang apa yang ketinggalan?" tanyaku.
"Batrai lampu sama senter" ucapnya cuek. Kenapa kang Sofyan terlihat biasa saja? apa kang Sofyan belum membaca pesannya? kang Sofyan benar-benar mengambil senter dan beberapa batrai dari dalam kamar, setelah itu kembali keruang tamu. Aku sendiri masih berdiri dengan kebingunganku.
"Emak sama bapak belum pulang?" tanyanya. Aku tak menjawab dan malah asyik dengan lamunanku.
"Puja!, ditanya kok diem aja" ucapnya sedikit keras. Aku tersadar.
"Eh, iya kang belum pulang" jawabku dengan raut kecewa, karena ternyata misiku gagal.
"Pake jaket sama topi, bawa bantal juga. Ikut akang tidur ditambak" titahnya.
"Emang enggak apa-apa?" tanyaku.
"Itu juga kalau mau" ucapnya.
"Puja mau kok kang, bentar ya, Puja ambil jaket dulu" jawabku antusias. Setelah memakai jaket kang Sofyan dan membawa satu bantal guling aku langsung mengekor dibelakang kang Sofyan untuk kemudian berangkat ke tambak. Sesampainya ditambak, ternyata warung penitipan itu masih ramai dengan bapak-bapak dan beberapa lelaki yang biasa tidur ditambak pada malam hari.
"Rame ya kang, kalau malam. Kirain sepi" ucapku.
"Ya gitulah" jawabnya singkat.
Setelah itu kami menaiki perahu kecil milik kang Sofyan untuk ke saung apung miliknya.
Sesampainya disana suasana sangat gelap, hanya cahaya lampu cas yang dibawa kang Sofyan yang menerangi kamar digubuk kecil ini.
Aku duduk dikasur kapuk itu lalu melepas jaket yang ku kenakan dan membuka jendela kamar. Aku sangat takjub dengan. pemandangan cahaya bulan yang bersinar indah, menerangi bendungan ini pada malam hari. Tidak hanya itu, kerlap-kerlip cahaya lampu rumah warga yang berada didaratan pun turut menambah keindahan alam dimalam hari, sehingga memanjakan mata siapapun yang memandang.
"Kenapa dibuka? nanti masuk anginnya, dingin" ucap kang Sofyan.
"Enggak apa-apa kang, Puja mau lihat bulan" jawabku sembari memandangi bulan dari jendela.
__ADS_1
"Ya udah terserah" ucapnya.
"Kang, indah banget ya pemandangannya" ucapku. Kang Sofyan duduk disampingku lalu sama-sama memandang bulan yang bersinar cerah menampakkan keindahannya.
"Puja bahagia nikah sama kang Sofyan?" tiba-tiba kang Sofyan bertanya hal lain.
"Kang Sofyan sendiri gimana? bahagia enggak?" tanyaku.
"Ditanya malah balik nanya" ucapnya sembari mengelus lembut kepalaku.
"Awalnya Puja merasa tersiksa saat kang Sofyan terus-terusan menghina Puja, tapi lama-lama Puja merasa nyaman" ucapku.
"Nyaman gimana? kang Sofyan kan kaku" ucapnya.
"Enggak kok, kang Sofyan romantis" ucapku sambil memandangnya.
"Kang, kang Sofyan udah cinta belum sama Puja?" tanyaku sembari menatap lekat wajahnya. Bukannya menjawab, kang Sofyan malah memalingkan wajahnya.
"Belum ya kang, atau memang selamanya Puja enggak bisa menggantikan nama kak Ratna dihati akang?" tanyaku dengan mata berkaca.
Kang Sofyan memejamkan matanya. Lalu memandang wajahku.
"Iya kang" jawabku mantap.
"Seharusnya tanpa kang Sofyan bilang, Puja bisa ngerasain" ucapnya ambigu.
"Kalau kang Sofyan enggak bilang, mana Puja tahu kang" ucapku sebal.
"Kalau gitu biar akang kasih tahu" ucapnya sembari mengelus pipiku. Membelainya lembut dan mengusapnya perlahan. Tatapan kami bertemu. Kang Sofyan menarikku kedalam pelukannya dan mendudukkanku dipahanya. Sehingga aku dipeluk dari belakang.
"Kenapa tadi nakal banget hmm?" tanya kang Sofyan dengan suara seraknya. Kang Sofyan menghembuskan nafasnya ke ceruk leherku, membuat bulu kudukku seketika berdiri.
"Ja-jadi... kang Sofyan udah lihat foto dan baca pesan dari Puja?" tanyaku terkejut.
"Hmm" jawabnya sambil menciumi leher dan rambutku.
"Kenapa tadi pura-pura cuek seolah enggak terjadi apapun!" ucapku protes.
__ADS_1
"Karena kang Sofyan ingin menghabiskan malam kita disini, diatas tambak ini" ucapnya lembut. Aku meremang saat tangan kang Sofyan membuka satu persatu kancing piyama tidurku.
"Eungh! kang..." ucapku saat kang Sofyan menyesap leherku hingga meninggalkan jejak kepemilikan.
"Kenapa kamu sangat menggoda Puja? hmm?" tanyanya dengan suara serak.
Eungh!
Aku hanya melenguh dan bergerak seperti cacing kepanasan.
"Kamu sangat sexy dan juga hot. Membuat kang Sofyan selalu ketagihan dan ingin mencobanya lagi dan lagi" bisiknya.
"Kamu membuat kang Sofyan gila Puja, enggak! bukan hanya gila, tapi... sangat tergila-gila!" kang Sofyan terus memujaku.
Dengan sekali gerakan, kang Sofyan membalik posisiku agar menghadap kearahnya. Kami saling bertatapan, aku mengalungkan tanganku dilehernya, sementara kang Sofyan melingkarkan tangannya dipinggangku.
"Kang Sofyan cinta sama Puja" ucapnya dengan tatapan penuh cinta. Aku terkejut dan tidak percaya dengan apa yang barusan ku dengar, kang Sofyan, si kanebo kering dan susah move on, akhirnya menyatakan perasaanya kepadaku. Seketika aku menangis haru, aku begitu bahagia karena pada akhirnya kang Sofyan membalas perasaanku.
"Makasih kang, udah membalas perasaan Puja... makasih udah memberikan hati akang untuk wanita murahan ini" ucapku sambil terisak.
"Ssttt! jangan bilang gitu, Puja bukan wanita murahan, kang Sofyan yang bodoh, karena terlambat menyadari perasaan kang Sofyan untuk Puja" ucapnya sembari menghapus air mata dipipiku.
"Kang Sofyan enggak nyesel kan nikahin Puja?" tanyaku dengan mata berkaca.
"Enggak, justru kang Sofyan merasa sangat beruntung" ucapnya lembut.
"Akang malah takut Puja ninggalin kang Sofyan, Puja terlalu cantik dan menggoda, membuat siapapun lelaki yang melihat, pasti ingin memiliki Puja" ucapnya dengan tatapan nanar.
"Janji ya sama kang Sofyan, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin kang Sofyan" pintanya.
"Enggak, Puja enggak akan pernah ninggalin kang Sofyan. Puja hanya milik kang Sofyan. Dan kan Sofyan juga harus janji, jangan tinggalin Puja apapun yang terjadi, kita harus selalu sama-sama" ucapku sambil terisak. Kang Sofyan mengangguk lalu setelah itu kami saling berpandangan sebentar dan akhirnya menyatukan bibir kami. Kemudian kami saling ******* dan menyesap sampai bibirku terasa kebas.
Dan pada malam itu, di dalam saung apung, dan dibawah sinar rembulan, diatas air bendungan. Kang Sofyan kembali menggagahiku, menyalurkan hasrat yang berbalut cinta. Kami saling terbakar dan bergelora, padahal, disini sangat dingin, tapi tubuh kami terasa panas dan berkeringat. Percintaan kami terasa begitu panas, gairah kami terus menggelora.
Saung apung itu bergoyang-goyang, berayun-ayun ke kiri dan ke kanan. Maju mundur dengan ritme yang teratur. Bukan! bukan karena hembusan angin saung ini bergoyang, tapi karena ada dua insan berlainan jenis yang sama-sama sedang dimabuk kepayang, sama-sama merasa haus dan saling menyalurkan perasaan. Mereka tidak tahu, jika dua orang yang sudah berusia senja dirumahnya sedang dilanda kebingungan dan kebimbangan.
"Gimana ya pak? emak bingung ini. Gimana ngomongnya sama Sofyan?
__ADS_1
%%%%%%%
Hayo.....! ape tuuh yang bergoyang-goyang?? kira-kira, emak sama bapaknya kang Sofyan kenapa bingung ya??