
Jam makan siang
Bagja menekuk wajahnya karena Anya terus saja mengekor dan mengikutinya, padahal urusan pekerjaan sudah selesai.
"Saya mau ke kantin, enggak usah ngikutin." ucap Bagja kesal.
"Aku juga mau ke kantin kak." ucap Anya sambil tersenyum. Bagja tak menjawab dan langsung berjalan cepat hingga membuat Anya kesusahan mengejarnya. Sesampainya dikantin, Bagja langsung duduk di tengah-tengah antara Doni dan Dimas setelah memesan makanan nya, karena diaql merasa Risih jika harus duduk berdampingan dengan Anya.
Sambil menunggu makanan datang dia membuka ponselnya dan berkirim pesan dengan Dila.
(Sayang lagi apa? udah makan siang belum) Bagja. Tak lama pesannya dibalas oleh Dila.
Ting
(Ini lagi makan siang sayang, sama Vino dan Alya juga) Dila.
(Makan pakai apa?) Bagja.
Ting
(Makan soto nih, enak seger) balas Dila sambil mengirimkan foto soto yang sedang disantap nya.
(Waah, kelihatannya enak, tapi tetep lebih enak kamu) Bagja.
Ting
(Aa iih! kebiasaan deh mesuummnya) Dila.
(Ya udah makan dulu, aa juga lagi makan siang dikantin) Bagja.
Ting
(Iya sayang, nanti kalau udah makan VC ya, kangen nih) balas Dila sambil menyertakan emot sedih.
(Oke, aa makannya cepet kok. Lima menit habis) Bagja.
Ting
(Ditunggu my hubby) balas Dila sambil menyertakan emot love.
Bagja tersenyum dan tak membalas lagi, dia fokus untuk menghabiskan makan siangnya. Hatinya berbunga-bunga karena Dila langsung membalas pesannya tanpa menunggu lama. Disisi lainnya Anya terus memperhatikan Bagja yang senyum-senyum sendiri terutama saat melihat ke ponselnya. Anya jadi kepo, apa yang dilihat Bagja di ponselnya. Apa Bagja sudah memiliki pacar? tapi setahu Anya, Bagja orangnya tak suka pacaran. Tapi jika itu benar, Anya tak akan tinggal diam, apapun caranya Bagja harus menjadi miliknya.
//
Dila masih menunggu Bagja untuk melakukan Video Call dan tak lama, akhirnya Bagja menghubunginya. Dila segera mengangkat panggilan itu dan mencari tempat yang sedikit sepi agar obrolan mereka tak terdengar oleh orang lain. Sementara Alya masih saja mengaduk-aduk makanannya, karena Vino sibuk dengan ponselnya. Sepertinya Vino sedang bermain game.
"Pasti seneng banget ya karena semalam tidurnya enggak sama aku." ucap Alya memecah keheningan diantara mereka. Vino meletakkan ponselnya dimeja kemudian dia menatap Alya.
__ADS_1
"Bukannya kamu yang kesenangan karena enggak harus berbagi kasur dengan aku?" Vino balik bertanya.
"Iya! iya aku seneng banget karena enggak denger suara orang yang mendengkur dengan keras!" ucap Alya.
"Apa? siapa yang kamu bilang suka mendengkur? jangan sembarangan, aku enggak pernah ngoorokk!" ucap Vino tak terima.
"Kamu mana nyadar, kamu kan lagi tidur." ucap Alya.
"Ya kalau aku tidur kamu juga tidur kali." ucap Vino.
"Terserah deh," ucap Alya kesal.
"Nanti malam pintu kamar jangan dikunci." ucap Vino sambil meminum orange juice miliknya.
"Kenapa?" tanya Alya dengan senyum malu-malu. Sungguh dia tak dapat menyembunyikan kebahagiaan nya saat ini.
"Mau ada maling bertamu." ucap Vino dengan memasang wajah datar.
"Oh, maling nya ganteng enggak?" tanya Alya menggoda.
"Jelek, tapi tetap ada yang suka." ucap Vino.
"Masa? siapa perempuan bodoh itu?" tanya Alya penasaran. Padahal dia sudah tahu jawabannya. Vino menatap Alya dengan tatapan tajam.
"Istri galak!" jawab Vino sambil beranjak pergi dari kantin itu.
"Vin, mau kemana kok aku ditinggal?" Alya mendengus kesal. Vino tak menggubris dan melanjutkan langkahnya. Dia harus buru-buru pergi dari tempat itu karena sudah tak dapat menahan letupan kebahagiaan didaddanya.
"Iih aku kok ditinggalin sih!" Dila menggerutu kesal.
//
Sore hari saat jam pulang para pegawai di kantor dinas perikanan.
"Kak, pulang sama siapa? aku boleh nebeng?" tanya Anya yang berjalan terburu-buru demi mengimbangi langkah cepat Bagja.
"Sendiri." jawab Bagja.
"Aku boleh nebeng kan?" tanya Anya.
"Emang kamu kehabisan uang untuk pesan taksi atau bayar ojeg?" tanya Bagja.
"Tadinya aku mau pulang sama papah, tapi papah malah udah pergi duluan, lagi ada urusan diluar." ucap Anya.
"Maaf tapi saya buru-buru mau jemput mamah." ucap Bagja sambil terus melangkah menuju mobilnya.
"Tapi kak..."
__ADS_1
"Don! sini!" Tiba-tiba Bagja memanggil Doni yang tengah mengendarai motornya. Doni mendekat.
"Ada apa Ja?" tanya Doni.
"Tolong anterin Anya nih, anak pak kepala, katanya enggak ada yang jemput. Aku buru-buru mau jemput mamah. Keburu kesorean." ucap Bagja. Kemudian setelah mengatakan itu dia masuk kedalam mobilnya meninggalkan Anya yang sedang merengut kesal.
'Sialan! masih aja dia cuek sama gue! awas saja aku akan buat kamu bertekuk lutut!' batin Anya sambil menatap kepergian Bagja dengan perasaan kesal bercampur dongkol.
"Ayo saya anter neng." ucap Doni.
"Saya naik ojeg aja." tolak Anya.
"Ojeg jauh dari sini, mending sama saya aja." ucap Doni.
"Ya udah deh kalau maksa!" ucap Anya ketus.
"Jangan galak-galak atuh neng. Nanti cantiknya hilang." ucap Doni.
"Diem jangan berisik! saya enggak suka digombalin!" ucap Anya ketus.
"Iya, iya saya diem." ucap Doni sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Anya duduk dibelakang jok belakang motor Doni. Kemudian Doni mulai menjalankan motornya. Saat diperjalanan, Doni mengajak Anya ngobrol.
"Udah lama kenal Bagja?" tanya Doni.
"Udah" jawab Anya singkat.
"Oh, berarti kemarin datang ke pernikahan Bagja?" tanya Doni.
"Apa? pernikahan Bagja?" tanya Anya kaget.
"Iya, Bagja kan penganten anyaran." jawab Doni.
"Masa sih?" tanya Anya yang masih shock dan terkejut.
"Iya. Istrinya cantiiiik banget, pantes Bagja sampai kelepek-klepek. Saya aja tadinya enggak percaya neng si Bagja nikah, habis enggak pernah deket sama perempuan. Tapi pas lihat istrinya, saya langsung ngeh kenapa Bagja sampai nikah. Ya karena memang bener-bener cantik kayak bidadari." ucap Doni memuji-muji Dila.
"Masa sih? sama saya cantikan siapa?" tanya Anya yang merasa panas sekaligus penasaran, seperti apa wanita yang berhasil meluluhkan hati Bagja yang seperti kulkas 50 pintu itu.
"Maaf nih neng, kalau bagi saya cantik itu relatif, tapi kalau menurut penglihatan saya. Istrinya Bagja cantiknya kelewatan. Tapi neng Anya juga cantik kok. Saya enggak nolak kalau mau dijadiin suami." ucap Doni menggombal.
"Dih! siapa juga yang mau jadiin kamu suami, saya enggak level sama pegawai rendahan!" ucap Anya pedas. Doni mendengus kesal saat mendengar ucapan pedas Anya. Namun dia memaklumi.
"Kenapa diam aja?" tanya Anya.
"Apa yang mau diomongin? pegawai rendahan seperti saya mah, enggak level ngomong sama anak pejabat." ucap Doni.
"Bagus kalau sadar diri." ucap Anya. Doni tak menjawab dan malah mengencangkan kecepatan motornya membuat Anya harus memeluk Doni dengan erat karena takut jatuh.
__ADS_1
"Pelan-pelan! kamu gila ya?!" ucap Anya. Lagi-lagi Doni hanya diam saja dan terus melajukan motornya dengan kencang, dan pada akhirnya Anya hanya bisa memeluk Doni dengan erat.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁