
"Kang Mahmud ngomong apa sih? Iis enggak ngerti deh." ucap Iis kikuk. Duh! ditatap Mahmud begitu dia jadi gugup.
"Masa kamu enggak ngerti? apa kalimatnya belum cukup jelas kalau kang Mahmud maunya sama kamu, maunya nikah sama kamu." ucap Mahmud.
'ini maksudnya apa? ngelamar gitu? masa ngelamar didepan rumah orang? gak romantis banget sih'' batin Iis.
"Tapi kan Iis bukan tipenya kang Mahmud." ucap Iis.
"Bukan tipe tapi kalau udah kepincut mau gimana lagi." jawab Mahmud. Iis masih tak percaya dengan apa yang didengarnya, apa benar Mahmud telah kepincut padanya? kok bisa?
"Emh, ya udah kang Iis permisi pulang dulu." ucap Iis yang tak sanggup berlama-lama berasa didekat Mahmud.
"Kok pulang? main dulu kerumah kang Mahmud ya? nanti pulangnya akang anter." pinta Mahmud.
"Tapi... "
"Akang kenalin sama emak." ucap Mahmud.
"Hah? tapi..."
"Udah ayo..." ucap Mahmud memaksa. Iis tak dapat menolak, entah kenapa walaupun sedikit dipaksa tapi hatinya bersorak senang akan dikenalkan dengan calon mertua.
//
Sesampainya dirumah Mahmud, ternyata emak dan adiknya tidak ada dirumah, mereka sedang menjenguk sepupu Mahmud yang baru saja melahirkan. Mahmud baru mengetahui itu semua karena baru saja membuka ponselnya dan dia mendapat pesan dari adik perempuannya.
"Loh kok enggak ada siapa-siapa kang?" tanya Iis.
"Iya nih ternyata lagi pada pergi, ini baru kebaca smsnya." jawab Mahmud seraya memperlihatkan pesan di ponselnya. Iis mengangguk faham.
"Ya udah kalau gitu Iis pulang dulu aja." ucap Iis sambil berbalik dan hendak keluar dari ruang tamu.
__ADS_1
"Tunggu dulu Is. Pulang nya biar dianter kang Mahmud. Akang juga kan mau kenalan sama calon mertua." ucap Mahmud. Ucapan Mahmud sukses membuat Iis semakin meleleh dan meleyot.
"Tapi kang..."
"Kamu tunggu disini, kang Mahmud mandi dulu sebentar." ucap Mahmud sambil berbalik dan mengambil handuknya dikamar lalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Beberapa saat kemudian...
Mahmud telah usai membersihkan dirinya dan saat hendak masuk kedalam kamar tak sengaja melihat Iis yang tertidur dikursi. Mahmud tersenyum, tapi dia juga merasa kasihan. Iis seperti kelelahan, tidurnya begitu nyenyak. Mahmud berfikir ingin memindahkan Iis ke kamarnya, dan membiarkan Iis istirahat sejenak sebelum mereka sama-sama berangkat kerumah iis.
Dengan perlahan Mahmud mengangkat tubuh Iis ala bridal style.
Bugh
Mahmud merebahkan Iis di kasurnya. Dia memandangi wajah Iis dari dekat, sungguh saat ini Mahmud sangat tergoda kepada biduan cantik itu. Apalagi dua buah delima Iis yang begitu menantang tercetak jelas dari balik kaos putih ketat yang dikenakan Iis. Tapi Mahmud berusaha menekan nafs*nya. Dia tahu batasan dan...
Cup
Mahmud mengecup kening Iis sekilas, namun saat hendak menarik diri, Iis menahannya dengan memegangi merah kaos Mahmud.
Cup
Kini Iis yang mencium bibir Mahmud sekilas. Iis membuka matanya dan tersenyum manis sekali. Mahmud terkesiap ternyata Iis sudah bangun sejak tadi. Iis bangun dan duduk disisi ranjang berdampingan dengan Mahmud yang kini tengah jedag jedug.
"Ehem! kang Mahmud yakin mau kenalan sama ibunya Iis? apa kang Mahmud serius sama Iis?" tanya Iis ingin memastikan.
"Akang serius. Sangat serius." jawab Mahmud mantap.
"Tapi kang, sebelum kita melangkah lebih jauh, akang harus tahu seluk beluk keluarga Iis dan pekerjaan Iis. Baru setelah itu akang bisa memutuskan apakah masih ingin melanjutkan niat akang untuk menikahi Iis atau enggak. Apa kang Mahmud mau dengar? " tanya Iis.
"Iya akang dengerin." jawab Mahmud.
__ADS_1
"Iis kan udah enggak punya bapak, adik juga masih SMP dan belum lama baru aja kecelakaan. Mamah Iis juga udah tua dan sakit-sakitan. Jadi selama ini Iis bekerja sebagai tulang punggung keluarga kang. Untuk makan, kebutuhan dan biaya sekolah adiknya Iis. Apa akang bersedia menggantikan Iis sebagai tulang punggung keluarga Iis? itu yang pertama. Yang kedua, Iis tahu akang juga tulang punggung untuk ibu dan adik kang Mahmud, Iis takut jika kita menikah justru beban kang Mahmud semakin bertambah banyak karena harus menghidupi dia keluarga sekaligus. Disini Iis mau tanya, apa boleh setelah menikah Iis tetap bekerja supaya Iis masih bisa nafkasi mamah sama adik Iis?" tanya Iis. Mahmud menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Lalu memberanikan diri meraih dan menggenggam tangan Iis.
"Akang percaya dengan menikah, rezeki kita juga bertambah, tidak mungkin Allah samakan rezeki orang yang single dan orang yang sudah menikah. Asalkan kita berusaha dan berdo'a insyaAllah kita bisa menghadapi semuanya ber sama-sama dan Allah akan beri rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Lalu untuk masalah kamu boleh kerja atau enggak, sebenarnya kang Mahmud inginnya kamu dirumah aja setelah menikah, fokus mengurus rumah tangga biar kang Mahmud yang kerja, akang akan bekerja lebih giat dan lebih keras lagi supaya bisa memenuhi kebutuhan kalian. Akang juga enggak rela kalau..."
"Kalau apa kang?" tanya Iis.
"Kalau lekuk tubuh istri akang dinikmati banyak orang." ucap Mahmud jujur. Iis tersenyum.
"Kang Mahmud tenang aja, kalau soal itu Iis bakalan keluar dari grup musik dan berhenti jadi biduan. Sebenarnya tadi Puja mau ngajak kerja sama buka salon kecantikan kang. Jadi nanti paling ya kerjanya kerja disalon, kalaupun enggak jadi Iis bakalan cari kerja yang lain bukan jadi biduan lagi kok." ucap Iis.
"Beneran kamu mau berhenti jadi biduan?" tanya Mahmud tak percaya.
"Iya kang." jawab Iis.
"Alhamdulillah, ya udah kalau gitu syarat apapun dari kamu akang akan penuhi Is. Yang penting akang minta kamu mau berjuang bersama kang Mahmud dari nol, kamu tahu akang bukan orang kaya tapi akang akan berusaha membahagiakan kamu Is. akang janji, akang butuh dukungan dari kamu sebagai penyemangat kang Mahmud." ucap Mahmud.
"Iya kang, Iis mau." jawab Iis. Mahmud senang bukan main lalu tak sengaja mereka saling bertatapan. Saling memandang satu sama lain dan...
Cup
Mahmud yang sudah tergoda sejak tadi tak kuat iman, dia menempelkan bibirnya dibibir Iis, menyesap dan melumaat benda kenyal yang sedikit tebal dan basah itu untuk dinikmati sari madunya. Ah, ternyata begini rasanya ciuman dengan orang yang kita cintai. Mereka begitu bersemangat dan menggebu menyalurkan hasrat yang selama ini tertahan dan terpendam. Iis mengalungkan tangannya di leher Mahmud membuat Mahmud dengan mudah menjelajahi aset Iis yang begitu menantang, yang tadi hanya bisa dirasakan dan kini bisa dipegang-pegang. Dengan tangan gemetar Mahmud meremaas dua buah delima milik Iis tersebut.
"Eungh... kang Mahmud.. " Iis meracau membuat Mahmud semakin kelimpungan. Sungguh saat ini Iis terlihat begitu sexy dan menggoda dimatanya. Kabut gairah begitu nampak dimata Mahmud yang merasa sangat tak tahan ingin segera menggagahi Iis.
"Is... Akang pengen.. akang enggak tahan Is" bisik Mahmud dengan suara serak. Iis menggigit bibirnya membuat Mahmud merasa ingin meledak sekarang juga.
"Iis masih perawan kang, dan Iis ingin menyerahkannya dimalam pertama kita. Kalau kang Mahmud sangat ingin keluar, Iis bisa bantu pakai ini." tunjuk Iis ke bibirnya.
"Ka-kamu... ma-masih..." Mahmud tak percaya.
"Iya kang, Iis masih perawan. Kalau enggak percaya coba masukin aja, masih segel kok. Tapi Iis maunya kita ngelakuin itu disaat malam pertama kita." ucap Iis.
__ADS_1
"Akang percaya kok, akang percaya. Maafin kang Mahmud, akang sampai kelewat batas tadi." ucap Mahmud yang kini membawa Iis ke pelukannya lalu mengecupi kepala Iis dengan gemas. Senyum tak henti terpancar dibibirnya, ternyata dia akan mendapatkan seorang perawan, pas sekali dia juga masih perjaka. Wah! kali ini kang Sofyan kalah telak!
🌻🌻🌻🌻🌻🌻