Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Kemarahan Alya


__ADS_3

Ditempat lainnya Mahmud dan Sofyan saling memandang dengan wajah bingung.


"Maaf Mud. Karena Bagja..."


"Semua sudah terjadi kang, menjaga anak gadis dan bujang jauh lebih sulit dari pada menjaga kambing di padang rumput." ucap Mahmud lesu. Sofyan mengangguk membenarkan ucapan Mahmud.


"Saya hanya bingung bagaimana nasib Dila kedepannya? karena Bagja kan dua hari lagi akan menikah dengan anaknya Risma." ucap Mahmud lesu.


"Saya akan nikahkan Bagja dengan Dila." ucap Sofyan.


"Tapi bagaimana dengan Risma dan Ilyas? mereka pasti kecewa kang, anaknya dibikin malu karena tak jadi menikah. Dila akan dicap buruk oleh tetangga-tetangga kita kang." ucap Sofyan.


"Itu lebih baik dari pada mereka menikah dan akhirnya bercerai. Saya yang akan menjelaskan kepada Risma dan Ilyas semoga mereka mau mengerti karena dari awal saya memang merasa ada kesalahanfahaman tapi saya belum sempat mencegah malah semua ini terjadi." ucap Sofyan.


"Tidak usah kang, Dila biar saya carikan jodoh yang lain saja." tolak Mahmud.


"Kamu menolak besanan dengan saya Mud?" tanya Sofyan.


"Bukan begitu kang, saya hanya tidak ingin hubungan baik kang Sofyan dan keluarga Risma jadi hancur karena Dila." ucap Mahmud.


"Itu lebih baik dari pada saya melihat Dila yang hancur, saya menyayangi Dila bahkan sudah seperti putri kandung sendiri Mud, bukan saya tidak kasihan atau tidak punya perasaan pada keluarga Risma, tapi saya tidak mau kedepannya Bagja akan hancur karena menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya." ucap Sofyan.


"Jadi kita besanan kang?" tanya Mahmud canggung.


"Iya, tidak ada salahnya, kita kan saudara Mud." ucap Sofyan sambil menepuk pundak Mahmud. Mahmud berkaca-kaca lalu balas memeluk Sofyan.


//


"Alya?" ucap Dila dan Bagja berbarengan.


"Jangan lancang kamu Dila! A Bagja calon suami aku!" ucap Alya dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Al, aku minta maaf tapi kami saling cinta, dan kami..."


"Kamu menyodorkan tubuh kamu untuk mendapatkan Bagja? iya?! kamu tidak lebih dari perempuan murahan tahu enggak! kamu tega sama sahabat sendiri! kamu tega menghancurkan masa depan aku! aku ada salah apa sama kamu?! hah!!" ucap Alya dengan mata berair.


"Al, ini diluar kendali kami. Tapi yang jelas disini bukan hanya Dila yang salah saya juga salah. Saya minta maaf tapi pernikahan kita tidak bisa dilanjutkan." ucap Bagja.


"Enggak! aku enggak terima penghinaan ini! kita harus tetap menikah! aku enggak perduli, aku akan tetap terima A Bagja walaupun perempuan itu hamil sekalipun!" ucap Alya yang kekeh ingin tetap melanjutkan rencana pernikahan mereka.


"Alya..." Puja berusaha membujuk.


"Tante tolong jangan ikut campur!" ucap Alya memperingati.


"Al, aku minta maaf. Aku..."


Plaakk!!


Cap lima jari menempel indah dipipi Dila hingga meninggalkan jejak merah dipipi chaby putih mulus itu.


"Kenapa? dia yang keterlaluan! dia pantas menerimanya! memang siapa yang tidak sakit hati dikhianati sahabat sendiri? bahkan pernikahan kita hanya tinggal dua hari lagi A!" ucap Alya dengan air mata berderai.


"Kamu boleh pukul saya sepuasnya, tapi jangan sentuh Dila. Saya tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya!" ucap Bagja yang semakin memantik emosi didalam diri Alya. Alya tersenyum kecut saat Bagja yang terlihat begitu membela dan melindungi Dila.


"Ck! apa sih hebatnya Dila? apa? dia enggak bisa ngapa-ngapain! masak enggak becus, otak juga isinya nol! apa karena dia lebih cantik dari aku? enggak! aku rasa cantik kami sama! apa karena bodynya yang lebih bohhay? perempuan jalaang seperti dia apa sih bagusnya?!" tanya Alya. Dila yang merasa tak terima langsung menatap Alya dengan tatapan galaknya.


"Kamu mau tahu apa kelebihan aku dibanding kamu? kelebihan aku itu enggak pernah punya fikiran buruk sama orang lain, apalagi sampai ngejelek-jelekin orang lain didepan orangnya langsung semarah apapun aku sama orang itu. Tadinya aku merasa kasihan sama kamu Al, tapi melihat sikap arogan kamu aku jadi merasa enggak menyesal merebut A Bagja. Dan aku bakal perjuangkan apa yang menjadi milik aku. A Bagja milik aku. Kamu lihat?" tunjuk Dila ke lehernya dan leher Bagja.


"Ini tanda cinta kami, kami sudah saling memiliki. Rasanya sangat nikmat saat bercinta dengan A Bagja semalam." ucap Dila yang merasa tak Terima disebut jalaang. Ya sudah sekalian saja menjadi jalaang seperti tuduhan Alya. Sudah panas tinggal digolakin (dibuat mendidih) aja sekalian! Alya semakin naik pitam!


"Dasar murahan! dasar pelakor! keturunan pelakor dan biduan murahan selamanya akan menjadi murahan!" ucap Alya yang kini dipenuhi emosi.


"Maksud kamu apa Alya? kamu menghina tante?" tanya Iis yang tidak terima Dila dikatai keturunan pelakor. Dia memang mantan biduan, tapi dia bukan pelakor.

__ADS_1


"Atau tante Puja?" timpal Puja yang juga merasa tersindir karena dia merasa mantan biduan dan mantan pelakor.


"Iya! kalian sama! kalian tidak becus mendidik anak! sehingga sifat kalian menurun ke anak kalian yang kegatelan!" ucap Alya mengorek-ngorek masa lalu.


"Stop! jangan hina mamah! mamah enggak salah, kalau mau marah jangan bawa-bawa orang lain. Disini saya yang paling bersalah." ucap Bagja tak terima Puja dihina.


"Itu kenyataannya! memang benar kan mamahnya A Bagja tu pelakor! mantan biduan! tukang goda suami orang! hasilnya ya A Bagja ini, hasil ngerebut paman Sofyan dari umi aku. Semua orang juga tahu!" ucap Alya yang sudah tidak perduli lagi jika Puja akan membencinya setelah ini. Karena selama ini juga dia merasa percuma bersikap baik untuk mengambil hati Puja, toh Puja tetap lebih menyayangi Dila dibandingkan dirinya. Alya mengetahui semua cerita itu dari mendiang sang nenek yang terus mencecoki fikirannya sejak dia masih kecil Sehingga makin menggununglah kebenciannya kepada Puja.


"Terus kenapa kamu mau-maunya sama anak dari wanita yang kamu sebut pelakor?" Tiba-tiba Sofyan muncul dari arah belakang. Dia menatap kecewa kepada Alya yang ternyata diam-diam memiliki sifat buruk yang baru diketahuinya. Alya menunduk. Jika Sofyan sudah turun tangan dia akan menjadi sangat lemah, bukan apa-apa, tapi dia begitu segan kepada Sofyan karena Risma dan neneknya selalu cerita kepadanya jika Sofyan banyak membantu keluarga mereka. Namun menurut versi sang nenek, Puja selalu menghalang-halangi Sofyan saat ingin membantu Risma sehingga Sofyan sering sembunyi-sembunyi saat membantu Risma karena takut ketahuan Puja.


"Paman tahu kamu kecewa, tapi apa kamu berhak menggali masa lalu orang lain? untuk apa? semua sudah berlalu kan? dan kamu bilang tadi tante Puja yang merebut Paman? itu salah besar! paman dan tante Puja menikah setelah hubungan paman dan Mama kamu berakhir, mama kamu yang membatalkan pertunangan kami. Bukan paman, bahkan saat itu paman belum kenal dengan tante Puja. Maaf paman harus bilang ini, tapi asal kamu tahu, selama ini ibu kamu yang selalu jadi orang ketiga diantara paman dan tante Puja." ucap Sofyan dengan tenang. Seolah mengerti jika otak Alya sedang kena doktrin oleh seseorang yang dia juga tidak tahu siapa yang mencocoki kepala Alya dengan fikiran-fikiran negatif itu.


Deg!


Alya mendongak dan menatap tak percaya.


"Paman jangan bohong, jangan lempar batu sembunyi tangan. Kenapa paman malah fitnah uminya Alya? apa paman tidak lihat bagaimana lembutnya umi?" tanya Alya.


"Kamu yang membuka masa lalu, ya sudah paman buka saja sekalian. Umi kamu yang sekarang dengan yang dulu tidak sama Alya, bukan hanya paman, tapi om Mahmud juga salah satu korban keegoisan umi kamu dimasa lalu." ucap Sofyan.


"Udah kang, enggak usah dibahas lagi." ucap Mahmud.


"Biarin aja Mud. Karena saya tidak tahu siapa yang meracuni otaknya Alya sampai punya fikiran sejelek itu sama istri saya. Puja segalanya buat saya Mud, tapi anak ini dengan entengnya merendahkan Puja. Padahal yang menjerumuskan Puja juga bapaknya!" ucap Sofyan dengan wajah memerah.


"Kang...! cukup." Puja mengelus dada Sofyan dan membawa Sofyan pergi dari sana untuk ke kamarnya. Dia merasa tak tahan lagi jika harus membahas masa lalu.


Semua yang ada disana tertegun, termasuk Dila dan Bagja yang baru mengetahui fakta mengejutkan dari mulut Sofyan.


Alya tidak terima semua ini, dia tidak percaya Sofyan memfitnah umi dan abinya. Dia segera keluar dari rumah Sofyan untuk menemui umi dan ayahnya. Dia ingin mengetahui segalanya, segala sesuatu yang dia tidak ketahui.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2