Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Yang Terakhir


__ADS_3

Semakin hari kang Sofyan dan Melodi semakin dekat, bahkan kang Sofyan terlihat lebih akrab dengan Melodi dibandingkan denganku. Aku jadi berfikir jika mereka saling menyukai, ah! kenapa rasanya sangat sakit. Mungkin seperti ini yang dirasakan kak Ratna dulu ketika melihatku dengan mas Ilyas bersama. Mungkin ini balasan yang harus aku terima. Aku tidak tahu kang Sofyan selingkuh atau tidak dengan Melodi, tapi yang jelas aku merasakan sesak setiap melihat mereka mengobrol dengan asyiknya. Bahkan aku melihat kang Sofyan bisa tertawa lepas. Tapi syukurlah, itu artinya kang Sofyan sudah move on dari kak Ratna.


Suatu ketika, saat siang hari, mas Toni datang kerumah. Sedangkan Melodi, seperti biasa, sedang ikut ke tambak dengan kang Sofyan.


"Ada apa kang?" tanyaku saat mas Toni sudah sampai didepan pintu.


"Enggak, cuma main aja. Kelamaan nunggu Melodi, bosen enggak ada temen ngobrol" ucapnya sambil tersenyum kecut. Aku hanya mengangguk, bingung harus menjawab apa.


"Kamu kok diam aja sih, Sofyan sama Melodi berdua-duaan ke tambak? kamu enggak takut suami kamu berbuat serong?" tanya Toni.


Aku tertawa getir mendengar ucapan mas Toni.


"Aku merasa enggak pantas untuk marah. Lagian kalau mereka saling suka ya udah enggak masalah" jawabku.


"Yakin? pernikahan seperti apa sih yang kamu jalani Puja? kenapa enggak mencoba pisah aja, ini udah enggak sehat" ucap mas Toni.


"Mungkin kang Sofyan masih butuh tubuh Puja mas, entar juga kalau udah bosen dia lepas" ucapku sambil mengelap kasar air mata yang merembes dipipiku. Mas Toni menatap iba ke arahku.


"Bodoh banget Sofyan, punya istri baik seperti kamu malah di sia-sia kan!" ucapnya.


"Puja bukan perempuan baik-baik mas Toni. Puja hanya pelakor murahan" ucapku dengan bibir bergetar. Lalu tangisku pecah meratapi nasib pernikahanku yang berada diujung tanduk. Mas Toni membawaku kepelukannya.


"Siapa yang bilang? dimata saya, kamu wanita baik-baik. Setiap orang punya masa lalu Puja, dan punya dosa. Dan saya yakin sekarang kamu sudah berubah" ucap mas Toni sembari mengusap lembut punggungku.


"Puja!"


Aku dan mas Toni reflex melepas pelukannya saat mendengar bentakan kang Sofyan. Di belakang kang Sofyan ada Melodi yang juga sedang menatap kami.


Bugh

__ADS_1


Tanpa basa-basi kang Sofyan memberi bogem mentah pada pipi mas Toni. Mas Toni tidak membalas dan malah tersenyum mengejek.


Bugh


Lagi-lagi kang Sofyan memukul mas Toni.


"Brengsek!" ucapnya dengan tatapan marah.


Aku mencoba menghentikan kang Sofyan dan menarik tubuhnya untuk masuk kedalam rumah. Sementara Melodi membawa mas Toni masuk kedalam mobil.


"Tahan emosinya kang, ini hanya salah faham" ucapku menjelaskan.


Plakk!!


Pipiku terasa perih karena mendapat cap lima jari dari kang Sofyan. Aku tertawa getir sambil memegangi pipiku yang terasa panas.


"Nih, yang kiri belum ditampar" ucapku sambil menyodorkan pipi kiriku.


"Murahan!" ucapnya dengan wajah memerah menahan amarah, tangannya terkepal kuat.


"Memang Puja murahan, selamanya dimata kang Sofyan Puja hanya perempuan murahan. Kang... Puja capek tahu enggak. Capek ngadepin kang Sofyan, kadang lembut, kadang baik, tapi enggak jarang kang Sofyan kasar" ucapku sambil terisak.


"Kenapa kita enggak cerai aja? apa karena emak? kang Sofyan tenang aja. Nanti Puja yang bilang sama emak, kalau ini keinginan Puja sendiri. Puja selingkuh sama laki-laki lain" ucapku dengan bibir bergetar.


Dia hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Puja juga mau hidup bahagia kang, tolong lepasin Puja. Ceraikan Puja" ucapku sambil menangis tergugu.


Aku merosot ke lantai dan memohon dikakinya.

__ADS_1


"Tolong biarin Puja cari kebahagiaan Puja sendiri, dan kang Sofyan juga silahkan cari kebahagiaan kang Sofyan sendiri. Pernikahan kita udah enggak sehat kang" ucapku sambil terbata.


"Bangun!" sentaknya.


Aku berdiri dan menatap matanya yang terlihat memerah.


"Kamu ngapain aja tadi sama si Toni hah!?" ucapnya.


"Puja enggak ngapa-ngapain kang" ucapku sambil terisak.


"Jangan bohong!" sentaknya.


"Puja enggak bohong!" ucapku tak mau kalah.


"Omongan perempuan murahan kayak kamu mana bisa dipercaya, jangan-jangan, selama ini saat saya ke tambak dengan Melodi, kamu ada main sama sopir sialan itu, iya!" sentaknya.


Plaakk!!


Kini aku yang menamparnya.


"Cukup! aku capek kamu tuduh-tuduh terus! aku membiarkan kamu berdua-duaan dengan Melodi, aku diam saat kamu terlihat sumringah kalau pulang dari tambak, aku juga diam aja saat kamu perlakukan seenaknya. Tapi sekarang aku benar-benar udah capek, lelaki pecundang kayak kamu enggak pantes aku cintai! walaupun aku perempuan murahan, tapi cinta aku untuk kamu tulus! dan aku nyesel karena bisa-bisanya jatuh cinta sama laki-laki biad*p seperti kamu!" ucapku lantang.


Kang Sofyan terlihat kaget saat mendengar aku mencintainya. Raut wajahnya berubah sedih dan mengiba. Tiba-tiba dia memelukku dengan sangat erat, tubuhnya bergetar. Sepertinya kang Sofyan menangis. Aku mencoba melepaskan pelukan itu.


"Hanya sebentar. Hanya sebentar Puja. Biarkan kang Sofyan peluk kamu. Setelah itu kamu boleh pergi, kamu boleh mengejar kebahagiaan kamu. Kita akan bercerai" ucapnya.


Ucapan kang Sofyan membuatku membeku. Aku menangis tersedu-sedu. Kenapa rasanya sakit sekali? Aku membalas pelukannya dengan lebih erat. Apakah ini perpisahan? apa aku benar-benar akan bercerai dengan kang Sofyan? entahlah. Yang jelas aku benar-benar tidak rela itu terjadi. Aku melonggarkan pelukan kang Sofyan. Lalu mengalungkan tanganku dilehernya. Setelah itu mencium dan menyesap bibirnya dengan penuh nafs*. Aku mulai berjalan dengan mengarahkan tubuhnya agar masuk kedalam kamar. Tautan kami tidak terlepas, sampai akhirnya kami sampai diatas ranjang.


Aku melepas satu persatu pakaian yang ku kenakan dan membuangnya kesembarang tempat. Kami sama-sama bergairah, sama-sama tidak mau kalah. Percintaan kami terjadi begitu panas, aku merasa ini yang terakhir. Biarkan! biarkan aku menjalani kewajibanku untuk yang terakhir kalinya! biarkan aku melayaninya sebagai istrinya. Ini yang terakhir, Ya, ini yang terakhir!

__ADS_1


__ADS_2