Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Calon Istri


__ADS_3

Mahmud membawa Risma kerumahnya untuk dikenalkan sebagai calon istrinya kepada adik dan ibunya.


"Assalamualaikum mak?" sapa Mahmud yang melihat ibunya tengah duduk digazebo teras rumahnya.


"Waalaikumsalam, Mud, udah pulang kerja?" jawab ibunya.


"Ini tadi Mahmud izin sebentar ke kang Sofyan mak, em... mak, ini Risma." ucap Mahmud mengenalkan.


Ibunya Mahmud menyipitkan penglihatannya, karena memang penghilatannya sudah buram efek umur yang sudah lanjut usia.


"Emak seperti pernah lihat ya? tapi dimana?" ucap ibunya Mahmud sembari mengingat-ngingat kapan dan dimana pernah bertemu dengan Risma.


"Waktu tunangan kang Sofyan mak. Risma mantan tunangan kang Sofyan." ucap Mahmud.


"Oo.. iya bener, jadi ini neng Risma tunangan Sofyan ya?" tanya ibunya Mahmud.


"Mantan tunangan mak, kan sekarang kang Sofyan sudah menikah dengan perempuan lain." sela Mahmud.


"Oh.. iya, maaf ya neng emak lupa. Maklum udah pikun, jadi sering lupa." ucap ibunya Mahmud ramah.


"Iya mak enggak apa-apa. Itu hanya masa lalu." ucap Risma.


"Sini duduk neng, emak sampai lupa eneng berdiri dari tadi enggak ditawarin duduk." ucap ibunya Mahmud.


"Iya mak." ucap Risma seraya mendudukkan bokongnya disebelah ibunya Mahmud.


"Emak mau masak apa?" tanya Risma yang melihat ibunya Mahmud sedang memetik kacang panjang.


"Mau ngoseng kacang dicampur teri." jawab ibunya Mahmud.

__ADS_1


"Enak itu mak, boleh Risma bantuin?" tawar Risma.


"Enggak usah Ris, nanti kamu capek. Istirahat aja didalam. Mahmud mau bicara dulu sama emak sebentar." sela Mahmud.


"Mak, Mahmud anter Risma dulu ke kamar ya, biar Risma istirahat." ucap Mahmud. Sedangkan ibunya Mahmud menautkan kedua alisnya pertanda bingung kenapa anaknya membawa perempuan yang bukan makhromnya kedalam kamar.


"Nanti Mahmud jelasin mak" ucap Mahmud yang mengerti akan kebingungan ibunya.


"Iya" jawab ibunya Mahmud.


Setelah menunjukkan kamarnya, Mahmud menyuruh Risma untuk beristirahat lalu kembali ke depan untuk menemui ibunya dan menjelaskan niat dan keinginannya untuk menikahi Risma. Dia juga menceritakan kondisi Risma yang saat ini tengah hamil dan kondisi psikisnya yang sangat tertekan.


Mulanya ibunya Mahmud sedikit keberatan, namun melihat cinta dimata anaknya untuk Risma, dengan ikhlas ibunya Mahmud menerima keputusan anaknya itu.


"Iya, tapi Mud, setahu emak wanita hamil enggak boleh dinikahin, harus nunggu melahirkan." ucap ibunya Mahmud.


"Iya enggak apa-apa mak, tapi kalau bisa Mahmud nikahin Risma dulu aja biar anaknya Risma ada bapaknya. Nanti habis melahirkan kita nikah ulang mak. Dan juga biar Risma bisa tinggal disini, Mahmud enggak tega mak lihat Risma dimarahin terus sama ibunya." ucap Mahmud.


"Iya mak. Lagian Mahmud tiap malam tidur di tambak mak, pulang kerumah juga cuma sore sampai maghrib selebihnya emak kan tahu sendiri Mahmud lebih banyak waktu di tambak." ucap Mahmud.


"Iya, enggak apa-apa. Tapi..." ibunya Mahmud sedikit ragu.


"Tapi apa mak?" tanya Mahmud.


"Ibunya Risma merestui enggak. Emak tahu giamana sifatnya ibunya Risma. Dia termasuk orang terpandang dikampung kita Mud." ucap ibunya Mahmud yang merasa ragu jika calon besannya itu dapat menerima Mahmud sebagai menantunya, mengingat mereka adalah keluarga kurang mampu.


"Itu nanti Mahmud coba minta tolong sama kang Sofyan mak." ucap Mahmud.


"Iya Mud, emak do'ain yang terbaik untuk kamu. Emak tahu kamu anak baik, pekerja keras dan sayang sama keluarga, mudah-mudahan Allah beri kemudahan dalam urusan kamu." ucap emak.

__ADS_1


"Iya mak, makasih ya mak do'anya. Mahmud yakin, do'a seorang ibu pasti diijabah sama Allah." ucap Mahmud penuh keyakinan. Ibunya Mahmud hanya terseyum dengan mata berkaca. Tak menyangka jika anak lelakinya itu akan segera menikah. Walaupun perempuan yang dipilih Mahmud tengah hamil anak pria lain, namun tak mengapa asal Mahmud bahagia, rasanya sudah cukup selama ini Mahmud mengabdikan hidupnya untuknya dan Amel adiknya Mahmud yang kini tengah sekolah menengah pertama.


"Mahmud kedalam dulu ya mak, pamit sama Risma mau kerumah kang Sofyan." ucap Mahmud.


"Iya." jawab ibunya Mahmud.


Setelah itu Mahmud kembali ke kamarnya dan melihat Risma tengah menunggunya dengan gusar.


"Gimana? emak mau nerima Risma?" tanya Risma. Mahmud tersenyum.


"Alhamdulillah emak setuju." jawab Mahmud. Risma terkejut namun sedetik kemudian dia menangis haru karena masih ada orang baik yang mau menolongnya.


"Makasih ya.." ucap Risma.


"Kang Mahmud. Panggil kang Mahmud atuh." titah Mahmud.


"Emh,,, i-iya k-kang.. maaf Risma belum terbiasa." ucap Risma.


"Iya enggak apa-apa, pelan-pelan aja. Oh iya Ris, akang mau kerumah kang Sofyan dulu ya. Kamu disini dulu sama emak ya, emm... kalau mau mandi pinjem baju emak dulu enggak apa-apa kan? nanti biar akang beliin yang baru." ucap Mahmud.


"Enggak usah kang. Nanti tanya kang Sofyan aja kontrakan Risma yang di ci ******* disana ada baju-baju dan beberapa keperluan Risma yang belum sempet Risma ambil." ucap Risma.


"Oh iya, nanti akang tanyain sama kang Sofyan. Sekarang kamu istirahat ya, jangan banyak fikiran. Insya Allah disini aman, enggak akan ada yang tahu keberadaan kamu disini." ucap Mahmud.


"Iya kang, sekali lagi makasih banyak udah mau bantuin Risma." ucap Risma.


"Iya. Sama-sama calon istri." ucap Mahmud dengan menunduk. Sungguh dia tak pandai merayu perempuan. Selama ini waktunya dihabiskan ditambak Sofyan bahkan sebelum Sofyan punya tambakpun dia sudah bekerja sebagai buruh ditambak orang lain. Jadi, hari-harinya hanya dihabiskan dengan berkencan bersama para ikan. Disamping itu Mahmud juga merasa tak percaya diri karena bukan berasal dari keluarga kurang mampu.


Risma sendiri menunduk malu, entah kenapa mendengar ucapan Mahmud seperti itu hatinya sedikit berdesir.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Yang kemarin jawabannya bener, othor kasih voucher buat berkencan dengan ikan-ikannya Sop ayam buehehe.


__ADS_2