Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Kedatangan Ilyas.


__ADS_3

Pagi harinya Puja terbangun dengan tubuh lemas karena semalaman digempur habis-habisan oleh Sofyan. Sementara emak dan bi Yayah terbangun dengan mata panda karena tak bisa tidur semalaman.


Mereka semua berkumpul dimeja untuk sarapan bersama. Senyuman tak henti-hentinya terpancar diwajah Sofyan, ya dari sekian orang yang berada disana, hanya Sofyan lah yang menampilkan wajah berseri-seri.


"Mak, besok kita jadi berangkat ke puncak kan?" tanya Sofyan.


"Ya emak mah terserah kamu Sofyan, tambaknya bisa ditinggal emangnya?" tanya emak.


"Insya Allah bisa mak." jawab Sofyan.


"Oh iya, emak pesen, besok kita nginep dihotel atau paviliun aja yang disewakan, jangan dirumah amang kamu." ucap emak.


"Loh kenapa mak?" tanya Sofyan bingung.


"Dirumah amang kamu itu banyak orang Sofyan, emak malu kalau sampai kalian buat ulah." sindir emak.


"Buat ulah apa mak?" tanya Sofyan tak mengerti.


"Nanti kalau kalian bercocok tanam dirumah orang suaranya sampai kemana-mana emak malu atuh Sofyan." jelas emak.


Deg


Puja dan Sofyan saling berpandangan lalu setelah itu menundukkan wajahnya yang sudah semerah tomat. Mereka terdiam dengan fikirannya masing-masing. Namun tak lama setelah itu ponsel Sofyan bunyi. Ternyata Mahmud menelfonnya.


"Mud, ada apa nelfon pagi-pagi?" tanya Sofyan.


"Kang tolong kang, Risma..." Suara Mahmud terdengar panik.


"Risma kenapa Mud?" tanya Sofyan.


"Risma pendarahan kang." jawab Mahmud sembari menangis pilu.


"Ya udah kamu tunggu, saya jemput pakai mobil." ucap Sofyan tanpa basa-basi.


#Flashback On


Risma baru saja keluar untuk mengantar Mahmud sampai kedepan pintu, namun baru saja Mahmud akan berangkat, ada seseorang yang meninju wajahnya hingga Mahmud tersungkur. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ilyas.


Ya, Ilyas akhirnya mengetahui keberadaan Risma yang kini tinggal dirumah Mahmud dan ternyata mereka sudah menikah siri. Dia mengetahui informasi ini dari ceu Imas pemilik warung tempat Sofyan dan Mahmud nongkrong kemarin sore. Ilyas yang tak percaya jika Sofyan tidak terlibat dengan menghilangnya Risma nekad memata-matai Sofyan. Dan karena dia melihat Sofyan sempat berbincang-bincang dengan ceu Imas, akhirnya Ilyas menggali informasi dari ceu Imas, dan dia sangat marah mengetahui jika Risma telah menikah secara diam-diam.


"Badjingan! berani sekali kamu nikahin Risma!" ucap Ilyas dengan kobaran api kemarahan dimatanya.


"Mas Ilyas, ngapain kamu disini! pergi!" usir Risma. Dia mencoba menghampiri Mahmud berniat membantu Mahmud untuk berdiri namun Ilyas langsung menahannya.

__ADS_1


"Kamu hamil anak aku Risma! kenapa kamu malah nikah sama dia?!" tanya Ilyas berapi-api.


"Biarin! emang kenapa kalau aku nikah sama dia? lebih baik aku nikah sama dia dari pada nikah sama laki-laki brengsek seperti kamu! aku enggak sudi!" ucap Risma tak mau kalah.


"Saya enggak mau tahu, pokoknya kamu harus cerai sama dia dan nikah sama saya!!" ucap Ilyas kekeh.


"Aku enggak mau!" ucap Risma sembari berontak.


"Ayo ikut!!" Ilyas menarik paksa. Namun baru akan melangkah Mahmud sudah lebih dulu meninjunya hingga dia tersungkur. Cengkraman ditangan Risma terlepas, kemudian Risma lari kearah Mahmud.


"Kang, Risma takut." ucap Risma gemertar.


"Tenang Ris, kang Mahmud akan jagain kamu." ucap Mahmud.


"Kurang ajar!!"


BUGH


Ilyas kembali meninju Mahmud hingga tubuhnya terhuyung ke tanah. Tak puas sampai disana, Ilyas kembali mengarahkan tinjunya untuk memukul Mahmud. Namun tiba-tiba...


Bugh


"Akkhhhh!!!" Risma menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Mahmud, dan pukulan itu justru mendarat diperutnya.


"Tolong, Tolong!!" Mahmud berteriak meminta pertolongan. Tetangga disekitar rumah Mahmud berhamburan keluar rumah, Ilyas ketakutan. Dia kabur dari sana karena takut akan dilaporkan ke polisi, namun tetap dia mengawasi dari kejauhan.


Flashback Off


//


Sofyan, Puja dan Mahmud kini tengah menunggu dikursi tunggu rumah sakit dengan perasaan cemas. Risma masih ditangani oleh dokter yang bertugas.


Klek!


"Dok, bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Mahmud dengan mata berkaca.


"Istri bapak kondisinya mulai membaik, tapi sayangnya janinnya tidak dapat diselamatkan. Istri bapak mengalami keguguran." ucap dokter itu dengan wajah prihatin.


"Innalillahi wa innailaihi roozi'un. Ya Allah.." Mahmud menangis mendapati kenyataan yang begitu menyakiti hatinya itu. Begitu pula Puja dan Sofyan yang tak kalah terkejut. Sofyan mengusak-usak punggung Mahmud.


"Yang sabar Mud, ikhlaskan, insya Allah akan segera dapat gantinya." ucap Sofyan.


"Makasih kang, terus istri saya sudah boleh dijenguk?" tanya Mahmud.

__ADS_1


"Istri bapak masih belum sadarkan diri, dan kami akam segera melakukan tindakan kuret setelah bapak menandatangani surat pernyataan terlebih dahulu." ucap dokter itu.


"Iya dok, lakukan yang terbaik." ucap Mahmud.


//


Mahmud, Sofyan dan Puja kembali menunggu Risma diruang tunggu.


"Kang, saya benar-benar lemah karena enggak bisa melindungi Risma dari Ilyas. Ini semua salah saya kang." ucap Mahmud lirih.


"Emang gimana ceritanya Mud?" tanya Sofyan.


Mahmud menceritakan semuanya kepada Sofyan dan Puja. Seketika wajah Sofyan memerah karena ternyata Ilyas ikut andil dalam musibah ini.


"Ya Allah kang, padahal kemaren tuh dia ngancem-ngancem Puja loh, sekarang dia malah celakain Risma dan secara tidak langsung membu*nuh anaknya sendiri. Ini sih udah kriminal kang, dia harus dilaporkan ke polisi." ucap Puja berang.


"Apa? dia ngamcem kamu lagi?" tanya Sofyan terkejut.


"Iya kang, ini Puja masih ada bukti chatnya." jawab Puja sembari merogoh ponselnya dari dalam dompet.


"Apa kamu yang kasih tahu kalau Risma tinggal dirumah Mahmud?" tuduh Sofyan.


"Ya enggak lah kang. Nih baca." ucap Puja menyodorkan ponselnya. Sofyan membuka chat antara Ilyas dan Puja.


"Terus kalau bukan kamu siapa yang kasih tahu? tahu dari mana si Ilyas?" ucap Sofyan.


"Puja mana tahu kang, mungkin kang Sofyan atau Mamud enggak sengaja kasih tahu orang lain." ucap Puja yang tak mau disalahkan karena memang dia sudah tutup mulut.


"Apa.. ceu Imas yang kasih tahu ya kang." timlal Mahmud yang ingat jika kemarin sore mereka ngobrol diwarung ceu Imas.


"Iya Mud bener. Coba nanti saya tanyain." ucap Sofyan.


"Akang cerita sama orang lain? ya ampun kang, Ilyas itu kupingnya banyak. Dinding aja bisa nguping, akang lain kali hati-hati lah." ucap Puja.


"Ya akang enggak tahu. Kebawa suasana aja, mana akang tahu si Ilyas sampai berbuat sejauh itu." ucap Sofyan.


"Kita harus laporin dia ke polisi biar enggak bisa berbuat nekad lagi. Kalau dibiarin dia bakalan terus berbuat ulah." ucap Puja.


"Kita tunggu Risma bangun aja dulu teh" ucap Mahmud.


"Iya kamu benar Mud, mudah-mudahan Risma enggak shock mendengar kabar duka ini." ucal Sofyan.


"Iya kang, mudah-mudan dia bisa mengikhlaskan bayinya." jawab Mahmud.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2