Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Berkumpul Bersama


__ADS_3

Alya benci dengan dirinya karena hati dan tubuhnya tidak bisa singkron. Hatinya masih sakit, tapi tubuhnya malah pasrah saja menerima sentuhan demi sentuhan tangan Vino yang bermain-main menyusuri setiap bagian titik sensitifnya.


"Vinhhh...!" Alya mend-esah saat Vino dengan bersamaan menggigit kecil cupingnya dan mer-emas bulatan kenyal miliknya.


"I miss you..." bisik Vino.


"Kamu enggak kangen sama aku?" tanya Vino dengan suara serak karena gairahnya sudah diubun-ubun.


"Aku...hh" Alya sampai tak bisa bernafas saat Vino mulai turun dan membalik posisi tubuhnya hingga saling berhadapan kemudian dengan secepat kilat masuk ke dalam dress tidur Alya dan bermain-main di tempat paling favoritnya.


"Vinhh..." tubuhnya bergetar saat Vino mulai menyapukan lidahnya didalam sana, membau, mel-udahi, mel-umat dan mengunyah sampai lu-bang itu menganga basah.


"Basah sekali Al," ucap Vino sambil mendongak dan menunjukkan jarinya yang penuh dengan cairan pelumas pertaminus. Alya memalingkan wajahnya karena merasa begitu malu.


"Hey, kenapa malu-malu begini?" goda Vino yang kini sudah berdiri sejajar dengan Alya. Alya tak menjawab dan lebih memilih untuk menunduk.


Tanpa membuang waktu Vino menuntun Alya untuk sama-sama berbaring di atas kasur.


"Kamu suka?" tanya Vino.


"Ish, apaan sih Vin," ucap Alya ketus.


"Ya kalau enggak suka aku mau pulang," ucap Vino tanpa merasa berdosa sedikitpun. Bisa-bisanya Vino berniat meninggalkan Alya setelah membuatnya basah.


"Vin," Alya menahan Vino saat Vino hendak bangkit.


"Apa Sayang?" tanya Vino dengan panggilan romantis membuat Alya merasa jatuh ke tumpukan bunga sekebon.


"Kamu tadi bilang apa?" tanya Alya yang masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Sayang," bisik Vino. Alya semakin tersipu. Kalau Vino romantis begini, rasanya Alya tak keberatan membuka kakinya lebar-lebar setiap saat. Tapi sayangnya selama ini Vino justru bersikap sebaliknya bahkan sampai membuat Alya mengalami patah hati yang begitu mendalam.


"Pelan-pelan, jangan kasar," ucap Alya.


"Enggak kasar tapi kalau temponya dicepetin boleh?" tanya Vino dengan bahasanya yang kelewat vul-gar.

__ADS_1


"Boleh," jawab Alya dengan senyum malu-malu.


"Aku mulai sekarang ya," ucap Vino.


"Hem," jawab Alya.


Dan setelah itu Vino mulai bekerja, memompa dan menghentak dengan mantap. Alya tak bisa berhenti menjerit dan merin-tih nikmat. Tangannya mencengkram sprei dengan kuat menggelinjang kesana dan kemari saat menerima setiap huja-man yang diberikan Vino di ladangnya.


"Al, aku menginginkan anak dari rahim kamu," Vino menceracau seiring gerakan tubuhnya yang secepat rudal balistik rusia ketika dipencet tombolnya. Begitu cepat dan mantap sekali sehingga Alya merasa kesetrum enak, dia tak henti-hentinya mend-esah keras. Dia sampai tak memperdulikan apakah orang tuanya mendengarnya atau tidak karena kamar Alya tidak ada peredam suaranya, hanya di plafon biasa saja.


"Aku juga ingin hamil anak kamu Vin," ucap Alya lirih begitu Vino menumpahkan banyak sekali jentik-jentik manja di rahim Alya.


//


Keesokan harinya pagi-pagi sekali, semua sudah berkumpul di meja makan. Vino nampak begitu segar karena shubuh tad habis keramas. Berbanding terbalik dengan Alya yang nampak lemas tak bertenaga, Alya seperti orang kelelahan. Bagaimana tidak kelelahan, Vino menjamahnya semalam suntuk tanpa membiarkan Alya barang sejenak.


"Umi, Abi, hari ini Alya mau Vino ajak ke tambak ya," ucap Vino disela-sela menikmati sarapannya.


"Loh ya terserah, kamu kan suaminya. Jadi berhak membawa Alya kemanapun kamu mau, asal jangan dibawa ke jurang," ucap Ilyas sambil terkekeh kecil.


"Umi bisa aja," ucap Vino malu. Kalau Alya jangan ditanya, saat ini pipinya sudah semerah kepiting rebus karena saking malunya.


Setelah sarapan dan beres-beres rumah, Vino langsung mengajak Alya menuju tambak. Disana ternyata ada Bagja dan juga Dila yang memang ikut bersama Sofyan dan Puja. Sofyan tersenyum saat melihat Vino sudah berhasil membawa Alya kembali.


"Alya, kamu ikut kesini Sayang?" ucap Puja tak menyangka.


"Iya Mah, diajak Vino," ucap Alya.


"Baguslah jadi kita ngumpul bareng-bareng disini, kita liwetan ya, bakar-bakar ikan. Nih mamah juga bawa Ayam kampung yang udah diungkep. Tinggal ikut dibakar untuk makan siang bareng-bareng nanti," ucap Puja sembari menunjuk ke arah bekal yang dibawanya.


Para lelaki mulai mengerjakan tugasnya masing-masing, Vino memberi makan ikan dan menyusun beberapa pupuk sementara Bagja membantu Sofyan membersihkan tambak dari eceng yang sudah mulai banyak merambat hingga menutupi sebagian tambak ikannya. Kenapa harus dibersihkan, karena eceng merupakan hama yang cukup mengganggu dan menghambat pertumbuhan ikan. Mereka para lelaki menjadi lebih semangat dalam bekerja karena ditemani pasangan masing-masing tanpa terkecuali Vino yang mendadak Rajin juga cekatan. Tidak seperti biasanya yang lemas dan malas-malasan.


Sementara itu Puja dan kedua menantunya mulai memasak untuk makan siang, Alya dan Puja di tugaskan untuk mengurus ikan dan ayan bakarnya juga sambal. Sementara Puja yang memasak nasi liwetnya.


"Alya, aku minta maaf ya soal waktu itu. Aku enggak tahu kalau..."

__ADS_1


"Enggak tahu kalau suami aku ternyata punya perasaan juga sama kamu, gitu?" tanya Alya.


"Iya aku memang enggak tahu soal itu dan aku enggak nyangka sama sekali," ucap Dila dengan perasaan bersalah. Walaupun dia tak membalas cinta Vino tapi tetap saja dia merasa tak enak, karena saat itu Vino mengucapkannya di hadapan banyak orang termasuk Bagja suaminya sendiri.


"Kamu tenang aja Al, aku enggak punya perasaan apapun kok sama Vino," lanjut Dila.


"Aku enggak perlu di kasihani. Bagi aku enggak penting kamu punya perasaan yang sama atau enggak sama Vino," ucap Alya.


"Aku enggak ngasihani kamu kok, aku hanya ingin menegaskan sama kamu kalau aku..."


"Stop Dil! Please jangan bahas-bahas sesuatu yang buat aku enggak nyaman!" ucap Alya ketus.


"Oke, aku enggak akan bahas-bahas soal itu lagi. Tapi please bersikap normal seperti biasanya ya, aku enggak mau Mama Mertua kita sedih karena melihat menantunya enggak akur," pinta Dila.


"Memang kenyataannya kita enggak akur, masa harus pura-pura, enggak banget!" ucap Alya yang masih saja ketus kepada Dila.


"Terserah lodeh!"


"Kamu ngatain aku sayur lodeh?" tanya Alya.


"Punya telinga tuh dipasang mangkanya, biar gak salah faham," ucap Dila.


"Jelas-jelas tadi kamu bilang dasar lodeh! maksudnya apa coba?" tanya Alya kesal.


"Dasar kuping bud-eg! bersihin sana pakai cotten bud! kayaknya telinga kamu kesumbat iri dengki, mangkanya aku selalu salah dimata kamu!" ucap Dila ketus.


"Kamu tuh nyebelin banget sih Delot lemot!" ucap Alya' mengejek.


"Dari pada kamu Alyot peyot!" balas Dila tak mau kalah. Mereka bertengkar hingga terdengar oleh Puja.


"Ini ada apa?" tanya Puja dengan mata melotot karena panik saat mendapati kedua menantunya dalam kondisi rambut berantakan. Bukan hanya itu tangan mereka yang saling menjambak dan tubuh yang saling membelit membuat Puja merasa sulit bernafas.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hayooo kalian tim yang mana? Dilot lemot apa Alyot peyot?? wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2