Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Permintaan maaf


__ADS_3

Risma telah siuman, pelan-pelan dia membuka matanya dan orang yang dilihat pertama kali saat membuka matanya adalah Mahmud yang kini duduk disisinya.


"Kang..." ucap Risma lirih, suaranya terdengar sangat lemah.


"Risma. Kamu udah sadar, Alhamdulillah. Apa masih sakit Ris?" tanya Mahmud penuh perhatian.


"Risma lemes banget kang." ucap Risma.


"Mau minum?" tanya Mahmud.


"Iya kang, Risma haus." jawab Risma. Dengan sigap dan secepat kilat Mahmud mengambil air putih dan menuangkannya kedalam gelas lalu menyerahkannya kepada Risma. Pelan-pelan Risma menyeruput air hangat tersebut, kini dahaganya terasa tersiram dan tidak kekeringan seperti tadi.


"Kang, anak Risma baik-baik aja kan?" tanya Risma lirih. Dia khawatir karena sempat merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


"Itu.. dia." Mahmud bingung harus menjawab apa.


Klek


Sofyan dan Puja masuk keruangan itu.


"Gimana Ris, keadaan kamu, udah enakan?" tanya Puja sembari tersenyum ramah. Risma mengangguk.


"Alhamdulillah perut Risma udah enggak begitu kerasa sakit, hanya linu-linu sedikit diarea kema*luan." jawab Risma jujur.


"Oh, syukur Alhamdulillah. Sehat-sehat ya, jangan banyak bergerak dulu, istirahatkan tubuh kamu sampai pulih, makan yang banyak buat tenaga." ucap Puja.


"Iya, Puja benar, kamu harus banyak-banyak istirahat. Karena..." Sofyan tak melanjutkan ucapannya begitu mendapat cubitan dari Puja.


"Karena apa kang?" tanya Risma.


"Karena kamu baru saja keguguran." jawab Mahmud yang tak mau menyembunyikan kenyataan ini lebih lama lagi.


"Apa?!!" Risma terkejut.


"Ja-jadi... hiks!" seketika tangisnya pecah. Dia merutuki dirinya yang tak bisa menjaga janinnya dengan baik. Mahmud jadi semakin merasa bersalah, apalagi saat itu perut Risma tertinju Ilyas karena Risma menjadikan dirinya sebagai tameng agar puukulan Ilyas tak mengenai Mahmud.

__ADS_1


"Maafin akang Ris, ini semua terjadi karena kang Mahmud tak becus menjaga kamu, dan malah sebaliknya, demi ngelindungin akang, kamu harus kehilangan anak kita. Akang enggak berguna jadi suami! hu... hu... " Mahmud menangis merasa bersalah sekaligus menyesal. Dia terus mengutuki dirinya sendiri. Risma menggeleng.


"Enggak kang, ini bukan salah kang Mahmud. Ini salah Risma, Risma membawa kang Mahmud untuk masuk kedalam masalah Risma." ucap Risma sembari menangkup pipi Mahmud. Mahmud semakin merasa bersalah lalu membawa Risma kepelukannya. Kini mereka saling berbagi kesedihan, menangis meratapi kepergian janin yang baru beberapa bulan tumbuh dirahim Risma. Pemandangan menyedihkan itu tak luput dari penglihatan Puja dan Sofyan. Sofyan dan Puja saling berpandangan, mereka ikut merasakan kesedihan yang tengah dirasakan Risma dan Mahmud karena mereka juga pernah mengalaminya.


Beberapa saat kemudian...


Tangis Risma dan Mahmud akhirnya mereda, Puja dan Sofyan baru berani membuka suara.


"Ris, yang sabar ya... ikhlaskan. insya Allah akan segera mendapat gantinya. Yang penting kamu sehatkan dulu badan kamu." ucap Puja lemah lembut.


"Iya Puja, makasih karena kalian udah banyak membantu Risma." ucap Risma terharu.


"Iya sama-sama Risma. Kamu semangat ya, yang lalu biar berlalu, jangan terlalu difikirkan, nanti kamu stress." ucap Puja menyemangati.


"Iya Puja, tapi Risma takut kalau Ilyas bakalan ganggu aku lagi." ucap Risma yang merasa risau.


"Soal itu tenang aja Ris, saya bakal laporin Ilyas ke polisi, karena bukan hanya kamu, Puja juga diancam-ancam sama dia." ucap Sofyan berapi-api.


"Iya kang Sofyan bener, kamu jangan takut sama Ilyas, kita bakal laporin dia kepolisi karena dia udah kelewatan." timpal Puja. Risma sedikit merasa lega, tapi dilubuk hatinya yang paling dalam dia juga merasa iba karena sejujurnya saat Ilyas membawanya ke kontrakan, Risma diperlakukan dengan sangat baik. Bahkan Ilyas melayani nya dengan penuh kelembutan. Dia juga tahu sebenarnya Ilyas mau bertanggung jawab terhadap kehamilannya tapi Risma menolak hingga Ilyas berbuat nekad. Di balik sikap jahatnya, Risma melihat kesungguhan dimata Ilyas.


"Jangan Puja. Ilyas jangan dilaporin, sumber masalahnya dari Risma, jadi Risma yang harus menyelesaikannya. Kalian jangan terlibat lagi, nanti dia malah nekad mencelakai kalian." ucap Risma.


"Risma perlu bicara dengan Ilyas kang. Risma harus menyelesaikan semua ini agar tidak berlarut-larut." ucap Risma.


"Tapi dia sudah buat kamu celaka dan kamu sampai kehilangan janin kamu Risma." ucap Mahmud.


"Dia enggak sengaja kang, dia marah." jawab Risma.


"Kenapa kamu jadi belain dia sih Ris!" ucap Mahmud kecewa.


"Risma bukan ngebelain kang, Risma hanya ingin menyelesaikan ini semua." jelas Risma.


"Terserah!" Mahmud keluar dari ruangan itu dengan perasaan kecewa dan rasa cemburu yang meletup-letup.


Sementara Puja dan Sofyan terbengong-bengong, mereka saling memandang lalu kembali mendekati Risma.

__ADS_1


"Kamu fikirkan dulu baik-baik ya Ris, kami permisi dulu." ucap Puja memberi ruang agar Risma bisa berfikir jernih dan tidak salah dalam mengambil keputusan.


Disaat Puja keluar dan pergi ke kantin dengan Sofyan karena merasa lapar, Ilyas menyelinap masuk saat melihat ada kesempatan.


Klek!


Risma menoleh dan terkejut saat Ilyas masuk keruangannya. Apalagi dia disana sendirian.


"Jangan takut Ris, saya kesini hanya mau minta maaf karena kebodohan saya, kita sampai kehilangan janin kita." ucap Ilyas dengan mata memerah. Dia berdiri cukup jauh dari ranjang Risma. Ilyas yang sejak tadi menguping pembicaraan antara Puja, Sofyan, Mahmud dan Risma, cukup terkejut saat Risma tak mau melaporkannya ke polisi.


"Itu kamu tahu, jadi apa belum puas kamu menghancurkan hidup saya?" tanya Risma dengan mata berkaca.


"Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak ada maksud ingin menghancurkan hidup kamu Risma, sejak awal saya ingin bertanggungjawab. Tapi kamu menolak, jujur saya sangat marah dan cemburu saat tahu kamu dinikahi laki-laki lain padahal kamu hamil anak saya. Andai saja kamu mau memberi kesempatan pada lelaki brengsek seperti saya, mungkin semua enggak akan terjadi. Tapi semua sudah terjadi. Disini saya minta maaf dan jika kamu mau melaporkan saya kepolisi silahkan, malah saya yang akan menyerahkan diri kepolisi dan menghabiskan waktu saya dibalik jeruji besi." ucap Ilyas sambil tertawa getir. Risma terenyuh mendengar penuturan Ilyas, entah kenapa dia merasa saat ini Ilyas berkata jujur.


"Risma enggak akan laporin kamu ke polisi, asal kamu janji jangan ganggu-ganggu Risma lagi." ucap Risma.


"Saya malah seneng kamu laporin kepolisi Ris, dari pada hidup luntang lantung tanpa tujuan. Hidup saya sudah hancur." ucap Ilyas putus asa. Risma merasa kasihan dan juga tak tega.


"Jangan putus asa, semua masih bisa diperbaiki. Kamu harus semangat untuk berubah." ucap Risma menyemangati.


"Iya, oh iya Ris, kalau begitu mungkin saya akan pulang ke sumatra. Tapi sebelum itu saya boleh meminta sesuatu?" tanya Ilyas.


"Minta apa?" tanya Risma.


"Saya ingin mencium kening kamu." ucap Ilyas.


"Sa-saya.. baiklah." jawab Risma. Ilyas mendekat dan duduk disisi ranjang. Dia menatap wajah Risma dalam-dalam dan membelai pipi Risma sebentar. Lalu mendekatkan wajahnya ke kening Risma, namun setengah perjalanan dia kembali menarik wajahnya.


"Saya tahu ini salah, kamu sudah jadi istri orang. Maaf.." bisik Ilyas ditelinga Risma. Namun baru akan menarik diri Risma malah menahannya.


Cup


Dia merampas bibir Ilyas dan dengan penuh kelembutan dia melumaat bibir pria yang sudah menodainya itu. Ilyas terkejut namun kemudian tersenyum dalam hati, ternyata perasaanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ilyas membalas ciu*man Risma tak kalah menggebu, saling membelit dan menyesap untuk meneguk kenikmatan sebanyak-banyaknya.


"Risma!!!"

__ADS_1


Seseorang mengejutkan mereka hingga pertautan itu terlepas.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2