Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Berpisah Darimu


__ADS_3

"A, sayang.. bangun," Dila mengelus rambut Bagja yang masih betah tidur dipangkuan nya. Bagja terbangun dengan menyunggingkan senyumnya. Entah kenapa rasanya begitu berat untuk pulang ke kampungnya dan berjauhan dengan Dila.


"Masih kangen, belum puas." ucap Bagja.


"Kalau enggak pulang sekarang, mau pulang jam berapa? ini udah mau jam 7 malam loh sayang. Nanti kemalaman," ucap Dila.


"Besok aja aa pulang shubuh-shubuh, aa bawa baju kerja kok, jadi langsung ke tempat kerja." ucap Bagja.


"Ya jangan gitu atuh a, aa kecapean nanti." ucap Dila.


"Enggak apa-apa lah Dil. Rasanya berat banget mau pulang, karena tidur enggak ada yang nemenin." ucap Bagja. Dila tersenyum sambil menggeleng pelan karena suaminya itu jadi bucin parah.


"Dila enggak mau aa sampai sakit, Dila mohon jangan begini." ucap Dila penuh perhatian.


"Tapi..." Dila keburu membungkam bibir Bagja dengan bibirnya dan dengan cepat naik keatas tubuh Bagja.


"Malam ini Dila kasih vitamin dulu, biar aa semangat. Tapi setelah puas aa harus pulang ya." ucap Dila. Bagja tak menjawab dan malah merampas bibir Dila dengan rakus. Mereka saling menyesap dan mencecap dengan gelora yang begitu menggebu. Entah bagaimana caranya kini mereka sudah sama-sama polos. Dila memimpin permainan, dia menari-nari dengan indah diatas tubuh Bagja membuat Bagja semakin terlena. Dan pada akhirnya permainan itu berakhir yang dimenangkan oleh Bagja, karena Dila kini lemas tak bertenaga. Bagja menyelimuti Dila kemudian mandi didalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu dia keluar mencari makan malam.


Beberapa saat kemudian


Bagja sudah kembali ke kos-kosan Dila, dia membawakan sate ayam maranggi dan juga beberapa cemilan untuk istrinya itu, kemudian menaruhnya diatas meja.


"Sayang, bangun makan dulu." ucap Bagja.


"Emh, duh, jam berapa ini a? maaf ya, Dila malah ketiduran." ucap Dila.


"Enggak apa-apa sayang, makan dulu, habis itu lanjut tidur enggak apa-apa. Aa mau pulang sekarang." ucap Bagja.


Dila melihat jam di dinding kamarnya, ternyata sudah jam 10 malam.


"Aa udah makan?" tanya Dila.


"Udah tadi, ini aa bungkusin." jawab Bagja. Kemudian dia menaruh sate itu kedalam piring dan mengambil sendok lalu menyerahkannya kepada Dila.


"Dila malah ngerepotin jadinya." ucap Dila tak enak hati.


"Enggak apa-apa sayang, ayo dihabisin." ucap Bagja. Dila mengangguk dan mulai menyuapkan sate itu kedalam mulutnya. Beberapa saat kemudian sate itu habis tandas tak bersisa, karena Dila memang benar-benar merasa lapar.

__ADS_1


"Aa pulang dulu ya." ucap Bagja.


"Masih kangeeen." kini malah Dila yang manja.


"Hari minggu aa kesini lagi." ucap Bagja.


"Sini bentar a," ucap Dila mengajak Bagja untuk duduk disebelahnya. Kemudian dia mengambil ponsel dan memotret Bagja yang sedang dicium olehnya, tak hanya pose itu banyak sekali pose yang diambil Dila, kemudian dia mengirimkannya ke ponsel Bagja.


"Buat ngilangin kangen." ucap Dila sambil nyengir kuda.


"Dasar nakal." ucap Bagja sambil mengelus pipi Dila dengan lembut.


"Baik-baik disini ya, jangan diri, jaga hati, jaga mata, jaga semuanya untuk aa." ucap Bagja.


"Iya sayang, aa juga, jaga semuanya untuk Dila." jawab Dila. Kemudian mereka kembali menyatukan bibir mereka, cukup lama berciuman hingga bibir Dila sedikit bengkak karena Bagja begitu semangat. Setelah itu Bagja berpamitan dan pulang ke kampungnya.


//


Sementara ditempat lainnya Alya tengah dilanda gelisah gundah merana kerena Vino tak tidur dikamarnya. Vino memang tadi sempat ketiduran di kamar Alya, tapi setelah mendengar adzan isya' dia langsung pindah ke kamarnya.


"Rasanya enggak enak banget sih tidur tanpa suami." ucap Alya merutuk.


//


Pagi hari Dila, Alya dan Vino sudah bersiap-siap hendak berangkat ke kampus. Dila memakai motor sendiri karena memang motornya berada di kos-kosan ini. Karena saat kejadian di club malam waktu itu, motornya diantar Doni dan Dimas ke kos-kosan milik Dila. Sementara Alya tidak membawa motor karena Puja meminta agar Vino selalu mengantar Alya kemanapun Alya pergi, dan juga karena Alya adalah istri nya yang itu artinya Alya sudah menjadi tanggungjawab nya.


"Dil, semalam kak Bagja pulang jam berapa?" tanya Vino saat mereka di parkiran kos.


"Jam sepuluh." jawab Dila singkat.


"Ooh" Vino hanya ber-oh ria. Sejujurnya dia masih merasakan getaran asmara saat didekat Dila, nama Dila belum sepenuhnya terhapus sempurna, namun dia terlalu pandai menyembunyikannya sehingga orang melihat Vino tak seperti orang yang sedang patah hati. Namun di samping itu, Vino juga terus berusaha menghapus perasaannya karena saat ini Dila sudah menjadi kakak iparnya. Dila sudah milik Bagja dan sudah tak mungkin dia bisa memilikinya.


"Ayo berangkat." ucap Alya sambil menepuk pundak Vino.


"Bentar, biar Dila duluan." ucap Vino. Setelah Dila mulai menjalankan motornya barulah Vino ikut melajukan motornya.


//

__ADS_1


Bagja sudah sampai di kantor dan dia dikejutkan dengan kedatangan Anya yang tiba-tiba sudah berada didekat meja kerjanya.


"Loh, kamu ngapain disini?" tanya Bagja bingung.


"Aku kan sekarang magang disini kak," jawab Anya.


"Oh, ya udah minggir dulu saya mau kerja." ucap Bagja. Anya menyingkir dari tempat duduk Bagja kemudian dia mengambil kursi dan duduk di sebelah Bagja.


"Kamu kok duduk disini?" tanya Bagja.


"Apa papa belum kasih tahu ya kalau Anya magangnya di bagian budidaya. Itu artinya kak Bagja yang jadi mentor aku." ucap Anya sambil tersenyum lebar.


"Papa yang kamu maksud siapa? dan kenapa harus sama saya? yang lain kan ada." ucap Bagja.


"Kepala dinas itu kan papa aku. Ya karena menurut papa, kak Bagja yang paling kompeten." ucap Anya.


"Tapi jadi mentor anak magang kan bukan job desk saya. Ada sendiri yang bertugas untuk itu." ucap Bagja.


"Jadi kak Bagja keberatan?" tanya Anya dengan raut kecewa.


"Bukannya gitu tapi kan..."


"Pak Bagja anda dipanggil oleh pak kepala di ruangannya." Tiba-tiba ada seorang wanita yang merupakan bawahan Bagja, yang diperintahkan oleh pak kepala dinas untuk memanggilnya.


"Saya?" tanya Bagja.


"Iya pak." jawab wanita itu. Bagja mengangguk kemudian dia beranjak menuju keruangan pak kepala dinas.


Beberapa saat kemudian


Bagja mendengus kesal karena menurutnya pak kepala sangat tidak professional dengan menyuruhnya utnuk menjadi mentor anaknya yang sedang magang. Ya, ternyata pak kepala dinas adalah ayahnya Anya. Bagja merasa heran, kenapa harus dirinya, memang tidak ada yang lain?


"Jadi papa udah jelasin kan?" tanya Anya yang menyambut Bagja dengan senyuman manisnya.


"Hm." jawab Bagja singkat.


"Dan kalau ada penyuluhan ke lapangan aku boleh ikut dong." ucap Anya.

__ADS_1


"Iya" jawab Bagja singkat. Kemudian dia mulai menjelaskan pekerjaan apa saja yang harus dilakukan oleh Anya dan menjelaskan beberapa materi yang berhubungan dengan budidaya ikan. Bagja bersikap profesional dalam bekerja, dan itu membuat Anya semakin terpana kepada Bagja, dimatanya Bagja adalah tipe pria dingin namun cerdas, dan sangat menantang untuk ditaklukan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2