
Malam harinya, emak, Sofyan dan Puja tengah menikmati makan malam bersama.
"Yan, besok kamu udah mulai ke tambak lagi?" tanya emak.
"Belum tahu mak, Sofyan rencananya mau cari orang buat bantu Puja jagain Bagja" ucap Sofyan. Emak mengerutkan keningnya pertanda bingung.
"Ya enggak usah cari orang, biar emak aja yang bantu Puja." ucap emak.
"Enggak apa-apa mak, kasihan emak, emak harus lebih banyak istirahat. Sofyan enggak mau emak dan Puja kelelahan" ucap Sofyan. Puja hanya menunduk dan melanjutkan makan malamnya, tidak merespon perkataan suaminya itu. Sebab, itu memang sudah jadi keputusan Sofyan, bukan apa-apa, sebenarnya bukan perkara takut kelelahan atau tidak, tapi Sofyan takut Ilyas datang kerumah ini disaat dia sedang berkerja dan tidak ada orang yang menemani Puja dirumah. Setidaknya, jika ada yang menemani Puja, Sofyan bisa lebih tenang dalam bekerja.
"Ya udah kalau itu sudah jadi keputusanmu, oh iya tadi Risma bilang, temen-temennya yang dari kota mau main kerumah dia, terus katanya mau ngajak liwetan ditambak kamu, boleh enggak?" tanya emak.
Uhuukk!!
Seketika Sofyan kembali panik, lalu melirik kearah Puja yang raut wajahnya sudah berubah masam.
"Terus emak bilang apa?" tanya Sofyan.
"Ya emak bilang mau tanya dulu sama kamu" ucap emak.
"Harusnya ditolak aja atuh mak, tambak Sofyan bukan tempat wisata. Tapi buat kerja" jelas Sofyan.
"Ya sekali-sekali kan enggak apa-apa Sofyan. Cuma numpang buat ngeliwet aja, temennya juga enggak banyak katanya cuma tiga orang" ucap emak. Puja semakin jengah mendengar emak yang seakan-akan meminta Sofyan untuk setuju dengan permintaan Risma.
"Puja enggak keberatan kan?" kini emak malah bertanya pada Puja.
"Ya kalau Puja terserah kang Sofyan aja mak8" jawab Puja asal.
"Disana kan enggak hanya Sofyan aja, ada anak buahnya Sofyan juga, si Endang, Mahmud, sama Engkus. Puja tenang aja, emak yakin Sofyan pasti bisa jaga hati" ucap emak.
"Kalau gitu biar Mahmud aja yang nemenin Risma, Sofyan tetap dirumah" ucap Sofyan yang tak ingin membuat istrinya semakin cemburu.
__ADS_1
"Itu kan tambak kamu Sofyan, masa iya yang punya tambak enggak nongol." ucap emak.
"Bagja kayaknya bangun mak, Puja permisi kedalam kamar dulu" ucap Puja berusaha menghindar. Puja yang sudah merasa emosi karena permintaan konyol emak, langsung uring-uringan dikamarnya.
'Udah dikasih cucu juga, masih aja ngedeketin suami gue sama si ulet bulu!' batin Puja kesal.
Sementara Sofyan yang masih berada dimeja makan langsung menatap emaknya dengan raut wajah kecewa.
"Emak kenapa sih, kok enggak bisa jaga perasaan Puja?" tanya Sofyan dengan kecewa.
"Emak dimimpiin almarhum bapak, katanya..." emak malah menangis membuat Sofyan merasa iba.
"Itu cuma perasaan dan rasa bersalah emak aja, mak.. Sofyan enggak mau mak dijodoh-jodohin sama Risma, Jodoh Sofyan ya Puja. Dan Sofyan enggak akan nikah lagi. Titik!" tegas Sofyan.
"Bapak pasti udah tenang disana, emak jangan terlalu banyak fikiran, emak pikirin kesehatan emak juga" ucap Sofyan penuh kelembutan.
"Tapi emak merasa tertekan Sofyan, emak malu sama keluarga Risma yang..."
"Mereka enggak ngomong apa-apa, kamu benar Sofyan, emak aja yang terlalu merasa bersalah. Maaf Sofyan" ucap emak lirih.
"Iya, dan Sofyan minta emak tolong jaga perasaan Puja ya, Sofyan sama Puja baru aja bersama, kami juga udah punya anak. Masa iya emak tega lihat Sofyan dan Puja bertengkar lagi? Sofyan enggak bisa hidup tanpa Puja mak" ucap Sofyan memohon.
"Iya emak tahu, emak tahu kamu sangat mencintai Puja. Maafin emak, disini memang emak yang salah." ucap emak lirih.
"Ya udah mak, Sofyan ke kamar dulu ya, mantu emak ngambek lagi tuh" jawab Sofyan sambil tersenyum kecil.
"Sofyan!" langkah Sofyan terhenti saat emak memanggilnya.
"Iya mak?" jawab Sofyan.
"Jangan terlalu keseringan dan terlalu semangat, kasihan Puja nanti kecapekan" ucap emak ambigu. Namun, tak lama Sofyan mengerti arah pembicaraan emak dan hanya mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Ceklek!
Saat memasuki kamar, Sofyan melihat Puja tengah tertidur dengan posisi menyamping membelakanginya. Sofyan tahu istrinya itu tengah merajuk, lalu perlahan Sofyan ikut naik keatas ranjang dan memeluk Puja dari belakang.
"Udah tidur?" tanya Sofyan sambil berbisik ditelinga Puja. Puja tak merespon, sebenarnya Puja belum tidur, tapi dia pura-pura memejamkan matanya karena malas meladeni suaminya. Sofyan sendiri tak tinggal diam, Sofyan tahu Puja hanya berpura-pura, dan dengan sedikit belaian dan remasan dititik sensitif, sukses membuat Puja Medes*h dan melenguh. Dengan sekali gerakan, Sofyan langsung membalik posisi sang istri agar menghadap kearahnya. Benar saja, akhirnya Puja membuka matanya.
"Maafin emak ya" ucap Sofyan lembut. Puja tak menjawab dan memilih diam.
"Akang janji enggak bakalan melakukan sesuatu yang membuat Puja cemburu, sekarang tidur, tapi jangan munggungin akang, akang enggak suka" ucap Sofyan lembut. Puja hanya mengangguk lalu tangannya menyusuri permukaan wajah Sofyan, memainkan matanya, hidungnya, alisnya dan terakhir benda kenyal yang selalu membuatnya mendes*h tak karuan.
"Jangan nakal, kang Sofyan bisa khilaf lagi nih" ucap Sofyan.
"Mau nakal juga boleh.." ucap Puja dengan nada sensual.
"Enggak, malam ini kita istirahat dulu ya.." ucap Sofyan yang langsung membuat Puja mengerucutkan bibirnya.
"Akang udah enggak selera ya sama Puja!" ucapnya merajuk.
"Iih! siapa bilang, justru Puja selalu membuat kang Sofyan bergairah. Tapi sayang, Bagja masih terlalu kecil untuk punya adik, mana Puja belum KB lagi" ucap Sofyan.
"Iiih! Puja sampai lupa loh kalau Puja belum KB! gimana nih, kang Sofyan siiih!!" Puja malah tambah merajuk.
"Kok jadi akang sih?" tanya Sofyan merasa bingung.
"Gimana kalau Puja sampai hamil?" tanya Puja khawatir.
"Ya enggak apa-apa? kan ada bapaknya, kenapa bingung?" goda Sofyan.
"iih!! akang nyebeliiiin!" Puja mencubit perut Sofyan. Dan akhirnya suasana kembali cair pasutri itu sudah saling bercanda gurau lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1