
Pagi hari Bagja terbangun saat mendengar bunyi ponselnya yang terus bergetar dan terdengar sangat nyaring. Dia menghadap Dila yang kini tengah memeluknya, dan melepas tangan Dila dengan sangat hati-hati dari tubuhnya setelah itu dia duduk disisi ranjang dan mengangkat telfon yang ternyata dari Puja sang mama.
"Halo ma?" sapa Bagja.
"Bagjaaa...! ya ampun mamah hubungi dari semalam kok enggak diangkat-angkat? kamu dimana? kenapa semalam enggak pulang?" cecar Puja. Bagja memijat pelipisnya sejenak.
"Bagja di Bandung ma, sedang ada kerjaan." ucap Bagja.
"Kerjaan apa malam-malam? bukannya kamu sudah izin cuti nikah?" tanya Puja.
"Bukan kerjaan kantor, kerjaan lain mah." jawab Bagja.
"Terus kerjaan apa? yang jelas kalau ngomong tuh." ucap Puja.
"Nanti Bagja jelasin kalau sudah dirumah. Sekarang Bagja mau mandi dulu ma." ucap Bagja.
"Ya udah hati-hati dijalan. Inget kamu calon manten pandai-pandai jaga diri." pesan Puja.
"Iya mah" jawab Bagja. Setelah itu panggilan mereka terputus. Bagja menatap sekilas wajah Dila yang masih tertidur pulas lalu kemudian dia pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengguyur tubuhnya dibawah shower.
Sementara itu Dila yang juga ikut terbangun karena suara gemercik air dari dalam kamar mandi begitu terkejut saat melihat keadaan tubuh polosnya. Kepalanya terasa sangat pusing dan ketika dia hendak duduk dia merasakan sakit bercampur perih di area intinya.
"Sshh!!" Dila mendesis sakit.
"Aduh, ini dimana ya? kenapa kayak dikamar hotel? dan ini kenapa aku..." Dila tersadar dan langsung membuka selimutnya, Dila membelalakan matanya saat melihat noda merah yang berceceran di sprei.
__ADS_1
"Ya Allah, apa jangan-jangan Dila... hikss...!" Dila menangis karena tahu jika dirinya sudah tidak perawan, apalagi dia tak ingat dengan siapa dia melakukannya. Dia sangat takut jika dia sampai hamil dan pria yang menghamilinya tak mau bertanggungjawab. Disaat dia menangis sesegukan Bagja keluar dari dalam kamar mandi.
Klek
Deg
Dila dan Bagja saling bertatapan. Dila menutup mulutnya tak percaya saat melihat pria yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Bagja? dan lihatlah, area leher dan dadda pria itu begitu banyak tanda cinta yang semalam dibuatnya. Itu artinya apakah semalam mereka benar-benar melakukannya? Dila terus berfikir mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Dan akhirnya ingatan itu kembali, kepingan dan rentetan kejadian semalam kini berputar-putar dikepalanya dimana dia dengan sangat liar menggoda dan tak segan-segan meminta Bagja untuk melayaninya.
"A... kita...?" Dila menatap Bagja yang semakin mendekat kearahnya dan akhirnya duduk disisi ranjang dengan hanya mengenakan handuk sepinggang.
"Mandi dulu. Nanti kita bicara." ucap Bagja lembut. Dila menurut namun saat hendak turun dia merasakan sakit dan perih yang luar biasa pada intinya.
"Akkhh!!" pekik Dila. Dengan sigap Bagja membantunya lalu menggendong tubuh polos Dila dan membawanya kedalam kamar mandi.
//
Kini Bagja dan Dila sudah sama-sama rapi dan berpakaian seperti semalam. Mereka duduk disisi ranjang.
"Tadi malam, enggak sengaja kita ketemu disebuah diskotiik dan disana a Bagja lihat kamu mabuuk berat, bukan hanya itu, kamu juga hampir dibawa laki-laki asing yang enggak dikenal. Untungnya a Bagja sempat menolong kamu dari laki-laki brengsek itu. Tapi..." Bagja menarik nafas dalam-dalam.
"Tapi malah kita berakhir disini, dan kita melakukannya." ucap Bagja dengan wajah penuh sesal.
"A Bagja minta maaf karena tidak berhasil mengendalikan nafsuu dan pada akhirnya kita sampai melakukan perbuatan dosa." ucap Bagja. Dila terisak namun kemudian dia buka suara.
"A Bagja enggak usah minta maaf, Dila masih ingat kok, semalam yang menggoda duluan Dila. Bahkan Dila bertingkah seperti perempuan murahan yang minta dipuaskan." ucap Dila sambil terisak.
__ADS_1
"Wajar karena mungkin kamu dalam pengaruh obat yang diberikan pria brengsek itu. Yang enggak wajar a Bagja karena gagal mengendalikan nafsuu dan akhirnya merusak kamu." ucap Bagja dengan wajah sendu. Dila melihat kesedihan dan rasa bersalah diwajah Bagja.
"A Bagja enggak usah merasa bersalah, disini yang paling salah adalah Dila. Justru Dila berterimakasih karena a Bagja sudah mau menolong Dila, setidaknya yang mengambil keperawanan Dila adalah pria baik-baik seperti a Bagja." ucap Dila.
"A Bagja enggak perlu risau, a Bagja masih bisa melanjutkan pernikahan a Bagja dengan Alya tanpa harus bertanggungjawab, karena Dila enggak akan minta pertanggungjawaban apapun." ucap Dila sembari mengelap air mata di pipinya. Bagja menatap Dila dengan tatapan marah karena wanita itu, wanita yang semalam bercinta dengannya sama sekali tak mau meminta pertanggungjawaban darinya.
"Kamu ngomong apa? kamu fikir a Bagja laki-laki brengsek yang lari dari tanggungjawab setelah merusak anak orang? bagaimana kalau kamu sampai hamil? hah!!" ucap Bagja setengah emosi.
"Lalu bagaimana dengan Alya? bagaimana dengan orang tua kita kalau tahu kita melakukan ini? mereka akan sangat kecewa a! lagi pula Dila yakin Dila enggak akan hamil." ucap Dila sambil terisak.
"Bagaimana kamu bisa yakin? setelah semalam kita melakukannya berulang-ulang, entah sudah seberapa banyak bibit yang a Bagja tanam! hamil atau tidak a Bagja tetap akan bertanggungjawab!" ucap Bagja tak mau kalah.
"Tapi...! Dila enggak siap dibenci semua orang karena dikira merebut calon suami orang yang dua hari lagi akan menikah. Cap pelakor akan tersemat dalam diri Dila seumur hidup. Dila enggak siap melihat wajah kecewa orang tua kita." ucap Dila dengan air mata berderai.
"Itu resikonya, itu sudah jadi resiko. Tolong jangan keras kepala seperti ini." ucap Bagja memelas.
"A Bagja yang jangan keras kepala, fikirkan kebahagiaan yang lain, seberapa banyak yang akan dibuat kecewa, belum kerugian secara materiil. Tolong dipertimbangkan. Jika Dila yang mengalah hanya Dila yang kecewa, hanya Dila yang sakit, semua orang tidak akan merasakannya." ucap Dila kekeh.
"Lalu kamu fikir saya tidak akan sakit? saya akan hidup bahagia dengan Alya setelah mengambil kesucian kamu? hah?! enggak Dil! saya akan menyesal seumur hidup karena jadi laki-laki pecundang!" ucap Bagja.
"Lalu jika kita akhirnya menikah, apa a Bagja akan bahagia? enggak kan? karena cinta a Bagja untuk Alya! percuma kita menikah kalau tidak ada cinta diantara kita!" ucap Dila.
"Kamu fikir a Bagja pria gampangan yang bisa tidur dengan sembarang perempuan dan bisa melakukan hal itu tanpa cinta hah?! a Bagja melakukan itu karena a Bagja cinta sama kamu Dila! enggak mungkin a Bagja sampai kelepasan kalau enggak ada perasaan apapun dihati a Bagja untuk kamu! apa setelah semalam kita melakukannya berulang-ulang dan penuh gairah kamu masih belum bisa melihat jika a Bagja begitu menginginkan kamu!" ucap Bagja menggebu. Dila melongo mendengar pengakuan pria kulkas tersebut.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1