Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Tamu Meresahkan


__ADS_3

Dila yang kesana kemari mencari keberadaan Vino dan Alya dikejutkan dengan sebuah tangan yang mencekal lengannya.


"Mau kemana cantik?" sapa seorang lelaki berwajah bule namun masih ada Indonesia nya. Dan lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Alexander G Amstrong anak Marvel dan juga Ratna.


"Ih apaan sih, lepasin!" ucap Dila meronta.


"Jangan cuek-cuek dong. Nanti cantiknya hilang." goda Alex.


"Lepas ih! jangan pegang-pegang." Dila terus meronta meminta dilepaskan.


"Aku cuma mau kenalan baby, aku anak baru disini. Boleh dong minta nomor handphone." ucap Alex sambil menyigar rambutnya yang berwarna pirang itu. Alexander memang pria paling pede sedunia. Bahkan tingkat kepedeannya itu sampai sundul langit!


"Aku enggak minat kenalan sama kamu. Lagian kenapa dikampus ini ada orang gila sih." ucap Dila kesal.


"What?! handsome begini kamu bilang orang gila?" ucap Alex tak terima.


"Iya lah orang gila. Kalau bukan gila apa namanya? cuma orang gila yang suka ganggu orang." ucap Dila sambil terus meronta meminta dilepaskan. Namun Alex tetap mencekal lengan Dila dengan kuat.


"Lepasin! aku bilang lepasin! atau aku bakalan teriak!" ancam Dila.


"Teriak aja, teriak sekencang-kencangnya!" ucap Alex menantang. Dila memutar otak nya kemudian dia mendapat ide cemerlang.


"Mau kamu apa sih?" tanya Dila menurunkan sedikit nada bicaranya.


"Mau aku? mau aku kamu baby," ucap Alex sambil menatap Dila dengan mata tajamnya.


"Oh? mau aku. Oke..." Dila mendekat kearah Alex, dia terus mendekat dan hampir dipeluk Alex, namun hal tak terduga terjadi.


Dugh!


"Awww!!" Alex memekik kesakitan saat merasakan nyeri diarea pusakanya karena ditendang oleh Dila dengan sekuat tenaga. Genggaman tangannya di lengan Dila akhirnya terlepas. Dila kabur dengan senyum penuh kemenangan. Dia sangat puas karena berhasil memberi pelajaran kepada pria tengil itu.


"Rasain bule kamprett!!" ucap Dila sambil menjulurkan lidahnya.


"Sialan!!" umpat Alex yang masih memegangi pusakanya.


"Oh, my brothers, sabar ya.. kasihan kamu sampai dianiaya begini." ucap Alex sambil menatap kebawah sana. Namun kemudian Alex tersenyum, dia malah semakin merasa tertantang untuk mendekati Dila. Wanita cantik dan cuek. Tak mudah untuk didekati. Dila adalah wanita pertama yang menolaknya mentah-mentah.


//


Malam hari


Alya masih sibuk mengerjakan tugasnya, dia menatap layar laptopnya dengan intens memeriksa hasil ketikannya, apakah sudah sempurna atau belum, sudah benar atau masih salah. Dia yang begitu fokus tak menyadari kedatangan Dila yang tiba-tiba. Kebetulan Alya tak mengunci pintu kamarnya.


"Al," sapa Dila.


"Loh! kamu kok disini?" tanya Alya sambil menatap tak suka.


"Pengen main aja, bosen di kos sendiri. Aa Bagja masih ada kerjaan, jadi enggak bisa video call." ucap Dila sambil mengunyah camilan ditangannya.


"Vino mana?" tanya Dila.


"Ya dikamarnya lah." jawab Alya.

__ADS_1


"Kalian enggak sekamar?" tanya Dila.


"Belum" jawab Alya.


"Kenapa belum?" tanya Dila.


"Kamu enggak ada kerjaan ya kepoin urusan orang?" tanya Alya sinis.


"Jangan galak-galak dong adik ipar." ucap Dila santai.


"Udah lah, jangan ganggu. Aku masih banyak tugas." ucap Alya.


"Masa sih? aku lihat udah mau selesai. Tinggal tekan tombol enter rampung." ucap Dila.


"Ini masih..."


"Kita ke cafe yuk. Nongkring" ucap Dila.


"Nongkrong bukan nongkring!" ralat Alya.


"Sama aja adik ipar. Hayu lah, udah lama kita enggak nongkrong." ajak Dila.


"Aku males, kamu aja sendiri." ucap Alya.


"Ya udah kalau kamu enggak mau aku ajak adik ipar laki-laki aja." jawab Dila sambil beranjak keluar.


"Tunggu! jangan! awas aja kalau berani ngajakin suami aku jalan!" ucap Alya ketus.


"Mangkanya ayo ikut." ucap Dila.


"Oke adik ipar." jawab Dila sambil nyengir kuda.


//


Malam sudah semakin larut, Dila sudah tertidur pulas, sedangkan Alya masih menunggu maling dengan harap-harap cemas. Dia sengaja tak mengunci pintunya karena tadi siang Vino berpesan agar dia tak mengunci pintunya karena akan ada maling yang mau bertamu. Namun sudah pukul sebelas malam, Vino tak kunjung datang. Alya yang sudah mengantuk akhirnya ketiduran di karpet depan pintu.


Klek!


"Ya ampun, tidur kok dilantai. Udah tahu punya alergi dingin. Emang seneng banget cari-cari penyakit." ucap Vino sambil mengangkat tubuh Alya dan memindahkannya keatas kasur. Alya mengerjap-ngerjapkan matanya karena terbangun saat Vino merebahkan tubuhnya diatas kasur. Eh, ternyata malingnya sudah datang!


"Vino?" tanya Alya.


"Bukan ini maling." jawab Vino acuh.


"Mau ngapain kesini?" tanya Alya.


"Menurut kamu mau apa?" Vino balik bertanya.


"Mau nemenin aku tidur." jawab Alya.


"Bukan!" jawab Vino ketus.


"Terus mau apa?" tanya Alya.

__ADS_1


"Mau absen," jawab Vino.


"Absen?" Alya bingung. Vino mendekati Alya dan kini duduk berhadap-hadapan dengan istrinya itu. Kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah Alya.


Cup! Cup! Cup!


Vino mencium kening, hidung dan bibir Alya secara bergantian.


"Hanya ini?" tanya Alya.


"Terus mau apa lagi?" tanya Vino.


"Ya sudah, sana pergi. Kan absennya udah selesai." usir Alya.


"Dasar ambekan!" ucap Vino sambil menyentil hidung Alya. Lalu dengan sekali gerakan membawa Alya kedalam pelukannya.


"Kangen ya?" tanya Vino lembut.


"Enggak!" jawab Alya ketus.


"Bener?" tanya Vino.


"Bener!" jawab Alya.


"Mungkin kamu enggak kangen tapi tubuh kamu kangen untuk aku jamah." bisik Vino sambil meluncurkan tangannya yang merayap kemana-mana. Kalau sudah begini, Alya mana bisa nolak. Dan malam itu maling dan penghuni kos malah bermain kuda-kudaan, sampai shubuh malahan.


//


Seperti biasa, pagi-pagi sekali Bagja sudah video call dengan Dila, meminta amunisi lewat ciuman jarak jauh. Tak bisa dibayangkan sebegitu lebaynya pengantin baru ini, baru sehari tidak ketemu, merajuk nya sudah seperti anak kecil yang tak dibelikan mainan. Telat sedikit bibirnya sudah dimanyunkan.


"Aa kemana aja? Dila nungguin tahu," ucap Dila manja.


"Tadi bab dulu. Maaf ya nunggu lama." jawab Bagja.


"Iya enggak apa-apa. Udah sarapan belum?" tanya Dila.


"Udah kok. Sayang sendiri udah sarapan belum?" tanya Bagja.


"Udah sama nasi uduk. Aa mau?" Dila menawari nasi uduk miliknya yang tak habis dimakan.


"Kok enggak dihabisin nasinya? mubadzir sayang." ucap Bagja.


"Perut nya udah kenyang." jawab Dila. Cukup lama mereka Video call hingga akhirnya Dila menyudahi panggilan itu karena harus menabung didalam kamar mandi. Sedangkan Bagja sendiri harus sudah berangkat kerja karena selain dia orangnya yang memang disiplin, di kantornya akan ada breefing pagi.


//


"Hai kak, ganteng banget pagi ini." ucap Anya menyapa Bagja yang sudah lebih dulu datang. Bagja tak menanggapi. Dan fokus pada pekerjaannya. Anya tersenyum kecut karena Bagja mendiamkannya.


"Oh iya, nanti kita ke tambak kan? penyuluhan?" tanya Anya.


"Ya" jawab Bagja singkat.


'Kalau urusan kerjaan aja cepet jawabnya, giliran dipuji dan diajak ngobrol yang lain diam aja. Kalau begini caranya gimana mau deketin dia, apa aku minta bantuan papa ya, supaya aku dan dia lebih dekat. Ya, aku harus minta bantuan papa' batin Anya.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Othor jelasin ya, disini enggak akan ada perselingkuhan kok, hanya kesalahpahaman aja, konfliknya tidak seberat Puja dan Sofyan dulu. Untuk kehadiran Alex, ya dicerita ini Alex satu kampus dengan Alya, Vino dan Dila. Karena usianya yang satu tahun lebih tua dari mereka. Tapi kehadiran Alex di novel ini enggak akan lama. Karena bulan depan Novel Alex sudah akan rilis. Jangan dibandingin sama ceritanya Velia ya, kalau di novel Velia emang Alex masih SMA, karena alurnya lebih lambat dan Velia sendiri itu seumuran dengan Bagja. Dan emang enggak singkron. Tapi kalau dicerita ini nanti singkron nya dengan novel yang akan dirilis bulan depan. Dan yang menanyakan reuni antara Puja dan Ratna kalian tungguin aja, sebentar lagi. mereka akan ketemu di novel ini. Segitu dulu penjelasan dari othor.


__ADS_2