
Aku membuka mataku perlahan setelah tadi sempat tidak sadarkan diri karena kelelahan dan kehabisan tenaga saat melahirkan. Mataku memindai keseluruh ruangan, ternyata aku sudah dipindahkan dari ruang bersalin ke ruang inap. Saat aku menoleh ke samping, aku melihat sosok lelaki yang tengah duduk dengan mata terpejam di kursi disamping pembaringanku. Dia kang Sofyan. Benar, itu kang Sofyan. Apa aku sudah mati? apa aku sedang di surga? tapi kenapa semua ini terasa seperti nyata? kang Sofyan yang aku rindukan selama lebih dari tujuh bulan ini, kini sudah berada disampingku. Aku terus menatap wajahnya, kini wajah itu terlihat berbeda, penampilan kang Sofyan seperti tidak terawat. Kumisnya tebal, rambutnya memanjang, badannya juga kurusan dan wajahnya terlihat lesu dan kusam. Aku mencoba bangkit untuk berganti posisi menjadi duduk. Walaupun diarea intiku masih terasa perih, tapi sakit diperutku sudah hilang.
Ceklek!
"Puja... kamu sudah bangun sayang" ucap bibi yang baru masuk kedalam ruangan ini. Aku hanya tersenyum tipis. Sedangkan kang Sofyan langsung terbangun saat mendengar suara pintu dibuka. Kang Sofyan langsung mendekat kearahku.
"Puja... kamu udah bangun. Masih sakit?" tanyanya lembut.
"Enggak, cuma lemes aja kang" jawabku pelan. Kang Sofyan menciumi tanganku lalu kembali menatapku.
"Akang bahagia sekali kita ketemu lagi. Akang kangen banget sama Puja" ucapnya lirih. Matanya berkaca, sepertinya kang Sofyan sangat terharu.
"Puja haus..." ucapku manja. Kang Sofyan langsung mengambil air hangat yang dibawa bibi dari rumah.
"Ini sayang" ucap kang Sofyan sembari menyodorkan gelas itu.
"Anak kita mana kang?" tanyaku karena tak melihat keberadaan bayiku.
"Masih dibawa perawat tadi" jawab kang Sofyan seraya tersenyum hangat.
"Ya udah biar bibi ambil anaknya ya, kalian ngobrol dulu aja" ucap bibi, lalu keluar dari ruangan ini. Aku dan kang Sofyan mengangguk lalu kembali saling bertatapan.
"Makasih ya sayang, Puja udah kasih anugrah terindah dalam hidup akang, Puja udah kasih kebahagiaan bertubi-tubi" ucapnya sambil mengelap air mata dipipinya. Aku yang mendengar ucapan kang Sofyan ikut menangis. Aku merasa berdosa padanya karena pergi dari rumah tanpa izin.
"Maafin Puja, karena pergi enggak izin" ucapku lirih.
"Syuuuttt!! udah, jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang." ucapnya sambil mengusap lembut pipiku yang basah. Aku memegang tangannya lalu menciumi tangan kang Sofyan.
"Maafin Puja, makasih udah mau datang kesini" lagi-lagi aku menangis. Kang Sofyan beranjak bangun lalu kemudian duduk satu ranjang denganku.
"Cup cup cup udah... jangan terlalu difikirkan" ucapnya sambil memelukku dan menciumi pucuk kepalaku. Aku bersender di dadanya. Rasanya nyaman, kehangatan tubuh ini begitu menentramkan, sudah lama sekali aku tidak mencium aroma tubuh kang Sofyan. Aromanya tetap sama, tidak berubah sedikitpun.
"Akang juga minta maaf, karena terlambat menemukan Puja, jadinya Puja menjalani proses kehamilan sendirian tanpa ada akang disisi Puja. Dan semua itu pasti berat" ucap kang Sofyan yang mendekapku semakin erat, seperti tidak mau kehilangan.
"Akang marah enggak sama Puja?" tanyaku sambil mendongak dengan mata berkaca.
__ADS_1
"Mana bisa akang marah sama kamu. Tapi akang benar-benar gila saat Puja pergi ninggalin kang Sofyan, hidup kang Sofyan rasanya hancur." ucapnya dengan mata sendu.
"Ma... euumm" belum sempat aku berbicara kang Sofyan sudah lebih dulu menyambar bibirku. Menyesapnya dengan lembut, lalu menyusuri setiap rongga mulutku. Aku membalasnya, menyesapnya dan ikut membelit lidahnya yang sejak tadi bermain-main. Tapi tiba-tiba kang Sofyan melepas pangutan kami.
"Udah dulu. Puja agresif banget, akang jadi enggak tahan. Rasanya tambah enak dan nikmat, tapi Puja masih nifas" bisiknya serak. Pipiku bersemu merah mendengar ucapannya. Lalu membenamkan wajahku didadanya untuk menutupi rasa maluku.
"Dari dulu enggak pernah berubah, selalu aja mesum!" ucapku.
"Mesumnya kan sama istri sendiri bukan sama orang lain" ucapnya lalu mehadapkan wajahku untuk melihat kearahnya.
"Akang kangen banget sama Puja" ucapnya lirih.
"Puja juga kangen banget sama kang Sofyan" jawabku.
"Janji ya sama akang, jangan pernah pergi lagi dari sisi kang Sofyan. Akang bener-bener enggak sanggup kehilangan Puja" ucapnya memohon. Aku mengangguk.
Cup cup cup
Kang Sofyan menciumi wajahku dengan gemas. Aku merasa kegelian saat kumis tebalnya bersentuhan dengan kulit wajahku.
"Geli ih! akang kenapa jadi kumisan gini. Ini juga nih rambut sampai udah panjang gini enggak dicukur" ucapku sembari menyentuh kumis dan menyisir kecil rambut kang Sofyan dengan jariku.
"Tetep ganteng kok, tapi jadinya kayak bapak-bapak" jawabku spontan.
"Kan emang udah jadi bapak. Udah ada si jalu (sebutan anak lelaki)" ucapnya.
"Tapi kalau dicukur kan kelihatan tambah ganteng, dan lebih gagah" ucapku.
"Emang selama ini kang Sofyan kurang gagah?" tanyanya dengan senyum penuh arti. Aku mengerutkan keningku karena bingung, namun sedetik kemudian aku mengerti arti kata 'gagah' yang dimaksud oleh kang Sofyan.
"Iiihh!! kang Sofyan mesumm!!" aku mencubit gemas perutnya. Kang Sofyan tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggodaku.
"Gimana enggak mesum kamunya menggoda gini" ucapnya sambil menoel daguku.
"Tadi mesum sekarang gombal! orang gendut gini, apanya yang menggoda" ucapku.
__ADS_1
"Siapa bilang gendut? malah tambah semok dan montok gini kok. Makin hot malahan!" selorohnya tanpa jeda.
"Bohong!" ucapku.
"Serius. Sini akang ukur" ucapnya dengan tangan nakal yang bergrilya menuju puncak everest.
Plakk!!
"Punya si jalu, udah dikontrak dua tahun!" ucapku sambil memukul tangan nakalnya yang petakilan.
"Pegang doang, gemess! kayak balon!" ucapnya tak tahu malu.
"Diem!" ucapku galak sambil memelototinya.
"Oke... enggak, awas aja ya kalau udah selesai nifas. Akang bikin melendung lagi" ancamnya. Ish! nyebelin!
Saat masih asyik bercanda ria, tiba-tiba bibi masuk dengan membawa anak kami kedalam ruangan itu.
"Ini anak ganteng nyariin mamanya ni mau minta cucu" ucap bibi sambil menyodorkan anak kami kepangkuanku.
"Sayang... ganteng banget anak bunda" ucapku sambil memperhatikan wajah tampan putraku.
"Iya lah ganteng, kan nurun dari ayahnya" celetuk kang Sofyan penuh percaya diri.
"Enggak ah, yang ada nurun dari bundanya" ucapku tak mau kalah.
"Coba lihat, hidungnya, matanya, alisnya, bibirnya, sampai rambutnya semua mirip kang Sofyan, kamu enggak kebagian!" ucapnya dengan semangat.
"Ish nyebelin!" ucapku sambil cemberut. Tapi memang benar sih, wajahnya plek ketiplek banget sama kang Sofyan. Wajar saja, karena pada saat proses pembuatannya ayahnya yang selalu memimpin. Bundanya selalu dibuat terkapar lemas setelah pelurunya ditembakkan. Aku jadi senyum-senyum sendiri saat teringat bagaimana agresifnya kang Sofyan saat diranjang.
"Sayang, namanya siapa?" tanya kang Sofyan yang langsung membuyarkan otak mesumku.
"Eh, itu Puja belum kepikiran. Kalau akang?" aku balik bertanya.
"Hmm, ya belum juga kan akang baru tahu sayang. Nanti akang fikirkan" ucapnya. Setelah itu aku membuka kancing bajuku untuk memberi asi pada anakku. Anakku terlihat semangat menghisap choco chip ku, seperti orang yang tengah kehausan. Aku tak sengaja melirik kearah kang Sofyan yang melihat kami dengan jakun naik turun. Aku memelototinya untuk bersikap lebih sopan karena masih ada bibi diruangan ini. Namun tanpa diduga, kang Sofyan malah menyanyikan sebuah lirik lagu yang membuatku ingin tertawa.
__ADS_1
'Harusnya, aku yang disana....!'
Dasar kang mesum!