
Hari bahagia telah tiba, dua pasang pengantin telah bersiap untuk mengucap janji suci pernikahan melalui ijab qobul dimimbar, keduanya sama-sama calon pengantin. Namun aura yang dimunculkan cukup bertolak belakang. Yang satu sama-sama bahagia dengan wajah berseri-seri, yang satu pasang lagi murung dan diam saja, tak ada rona bahagia sedikitpun. Namun semua itu tak menghalangi pernikahan mereka. Semua berjalan mulus seperti jalan tol. Kini mereka sudah sahabat menjadi pasangan pengantin baru. Setelah acara ijab qobul itu Vino dan Alya pergi kerumah Risma yang kini sedang diadakan pesta. Sedangkan Bagja dan Dila dirumah Sofyan.
Sepanjang acara Vino hanya diam saja, tak pernah sedikitpun mengajak Alya untuk sekedar berbincang atau mengobrol seperti saat mereka masih bersahabat dulu. Sebenarnya Alya tidak memperdulikan dan mempermasalahkan hal itu tapi lama-lama bosan juga dicuekin suami sendiri. Ya, biar bagaimanapun Vino kini sudah menjadi suaminya.
"Vin, kamu enggak lapar?" tanya Alya saat mereka berada dikamar untuk beristirahat.
"Enggak" jawab Vino singkat.
"Ya udah kalau gitu aku makan sendirian aja." ucap Alya yang langsung pergi dari sana untuk mengambil makanan. Tidak lama dia kembali lagi dengan sebuah nampan dengan berisi dua piring nasi dan dua gelas air mineral.
"Makan dulu. Aku enggak mau kamu pingsan karena kelaparan, dan keluarga aku jadi gunjingan semua orang, dikira tega dan pelit enggak mau kasih makanan." ucap Alya ketus.
"Simpan aja, ntar juga kalau lapar aku makan." ucap Vino.
"Ya udah." jawab Alya.
"Ya udah, mau makan aja ribet banget." jawab Vino yang kini tengah memainkan ponselnya. Alya tak menjawab dan dia mulai memasukkan sendok demi sendok nasi kedalam mulutnya. Hatinya menggerutu, sebab, tak pernah sekalipun terbayang dalam benaknya jika dia akan mengalami pernikahan seperti ini. Biasanya pasangan pengantin baru pada umumnya akan bermesraan, makan bersama, satu piring berdua, saling suap-suapan. Tapi apa yang terjadi dengannya benar-benar miris, jangankan suap-suapan, Vino justru malah asyik memainkan ponselnya.
"Besok aku mau pulang, enggak betah tidur disini." ucap Vino tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel ditangannya.
"Terus aku gimana?" tanya Alya.
"Ya terserah, yang jelas aku enggak betah tidur dikamar orang." ucap Vino acuh.
"Kok terserah sih Vin, kamu ngajakin aku pindah apa enggak? apa aku disini aja?" tanya Alya memastikan.
"Ya kalau mau ikut enggak apa-apa, tapi jangan rubah apapun dari kamar aku, aku paling enggak suka barang-barang aku disentuh orang lain." ucap Vino.
"Siapa juga yang mau nyentuh barang-barang kamu, paling sesuatu yang enggak berguna dan hal-hal receh." ucap Alya meremehkan. Vino tak menggubris dan melanjutkan chat bersama teman-teman dan juga para wanita-wanita yang berstatus pacarnya.
//
"A Bagja lapar?" tanya Dila saat mereka berada didalam kamar.
"Iya, ambilin ya." pinta Bagja.
"A Bagja sukanya pakai lauk apa?" tanya Dila.
"Apa aja, yang penting halal." ucap Bagja sambil tersenyum manis. Manis sekali.
__ADS_1
"Ya udah Dila ambilin dulu." ucap Dila sambil berjalan keluar dari kamar Bagja. Bagja melihat ponselnya dan mendapat pesan dari teman-teman nya jika mereka akan datang ke pesta pernikahannya dengan Alya, Buku-buku Bagja membalas pesan mereka dan mengatakan agar mereka datang ke rumahnya saja.
Klek
"Ini a Makannya." ucap Dila sambil membawa satu piring nasi dan satu gelas air mineral.
"Loh kamu enggak makan?" tanya Bagja.
"Emh, makannya berdua..." ucap Dila manja.
"Nanti enggak kenyang kalau makan berdua." ucap Bagja yang kurang faham soal romantis-romantisan.
"Iih, di mana-mana kalau pengantin baru makannya sepiring berdua!" ucap Dila sambil cemberut.
"Biar apa emang makan berdua, kayak kekurangan beras aja." ucap Bagja.
"Iiih dasar nyebelin!" ucap Dila sambil memukul tangan Bagja dengan kesal.
"Loh kenapa marah?" tanya Bagja.
"Enggak tahu! gak mau ngomong pokoknya!" ucap Dila merajuk. Bagja hanya menggeleng lalu mengambil nasi itu dan memakannya dengan lahap karena memang dia merasa lapar. Hingga makanan itu tak bersisa sedikitpun. Dila yang melihat itu semakin dibuat kesal.
"Loh kok mukanya seperti Bebek, ada apa?" tanya Puja sambil membawa Dila kedalam pelukannya.
"Bunda, A Bagja jahatin Dila!!" Dila merengek.
"Emang kamu diapain?" tanya Puja.
"Masa dia enggak mau makan berdua, padahal kan biasanya pengantin baru kalau makan sepiring berdua bun, masa dia bilang nanti enggak kenyang. Kayak orang kekurangan beras aja. Gitu buuun!" ucap Dila mengadu.
"Oh ya ampuun, jadi hanya gara-gara itu?" tanya Puja.
"Iya bunda marahin bun, Dila kesel tau!" ucap Dila manja.
"Bagja memang begitu karakternya, kaku." ucap Puja.
"Tapi kan Dila sama A Bagja udah jadi suami istri bun." protes Dila.
"Ya maka dari itu, kalian harus saling memahami satu sama lain, saling belajar membangun rumah tangga yang hangat." Puja menasehati.
__ADS_1
"Itu baru hal kecil loh, belum ujian-ujian besar lainnya. Dila harus belajar ya, belajar jadi istri yang baik, begitupun Bagja akan bunda nasehati supaya lebih romantis dan hangat sama istri sendiri." ucap Puja. Iis muncul dari arah dapur.
"Loh ada apa Puja?" tanya Iis saat melihat wajah Dila yang kusut.
"Bagja nakal katanya." ucap Puja sambil mengerlingkan matanya.
"Ya kalau nakal dilawan jangan diam aja." ucap Iis.
"Emang enggak dosa?" tanya Dila.
"Ya enggak lah, malah dapat pahala." ucap Iis.
"Bukan nakal yang itu Is." ucap Puja menjelaskan, karena Iis salah tangkap maksudnya.
"Terus nakal yang bagaimana?" tanya Iis.
"Itu..."
"Mah, Teman-teman Bagja mau kesini katanya." ucap Bagja yang tiba-tiba ikut nimbrung.
"Oh, ya udah suruh sini aja." ucap Puja.
"Tante, om Mahmud dimana ya?" tanya Bagja.
"Loh kok masih om dan tante sih?" protes Iis.
"Eh itu.. em, Bagja panggil apa dong?" tanya Bagja.
"Ya mamah sama Bapak sama kayak panggilan Dila. Kamu kan udah jadi mantu mamah." ucap Iis.
"Iya tan, eh mamah." ucap Bagja sambil tersenyum kikuk.
"Ni istri kamu diapain, ngadu ke mamah katanya A Bagja nakal." ucap Puja sambil menatap tajam ke arah Bagja.
"Enggak diapa-apain kok, emang diapain?" Bagja balik bertanya.
"Tuh lihat bun, A Bagja tuh enggak merasa bersalah. Padahal udah jelas-jelas salah." ucap Dila kembali merajuk.
"Bagja, kudu lebih peka atuh sama istri, jangan terlalu dingin. Harus faham istri maunya apa, perempuan itu butuh dimengerti." ucap Puja. Bagja hanya tersenyum kikuk, karena merasa bingung apa yang kesalahannya sehingga Dila merajuk?
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻