
Setelah malam itu setelah mengungkapkan perasaaku kepada Puja aku dan Puja semakin intim dan bahagia, pernikahan kami terasa sempurna. Aku mencintainya dan begitupun sebaliknya, kami sama-sama saling mencintai. Kami menghabiskan malam bersama, aku dan Puja saling mencinta dengan bercinta.
Tapi kebahagiaan itu hanya sebentar karena hari itu emak dan bapak memintaku untuk menikahi Risma, mantan tunanganku yang tidak jadi ku nikahi karena belum move on dari Ratna. Ayahnya Risma meminta imbalan atas budi baiknya selama ini kepada keluarga kami dengan cara menikahi Risma. Tentu saja aku langsung menolak mentah-mentah. Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai Puja. Aku tidak habis fikir pada emak dan bapak, kenapa mereka begitu tega meminta hal diluar nalar seperti itu. Dan aku lebih kesal pada Risma dan ayahnya, bisa-bisanya dia ingin menikah dengan lelaki beristri.
Saat aku akan kembali ke kamar, aku melihat Puja tengah menangis sesegukan dengan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Aku yakin Puja pasti sudah mendengar obrolan kami. Ya, jelas saja, tidak mungkin Puja menangis tanpa sebab. Puja melengos begitu saja saat aku memanggilnya. Saat didalam kamar, aku meyakinkan Puja jika aku tidak akan melakukan apa yang emak dan bapak minta. Aku tidak akan menikahi wanita lain selain Puja. Hanya Puja satu-satunya. Hanya di dekat Puja aku merasa bergairah dan bersemangat. Bahkan, saat bersama dengan Ratnapun aku tidak pernah seposessive ini.
Namun, ujian lagi-lagi datang, tiba-tiba bapak sakit dan harus dirawat dirumah sakit karena ginjalnya kembali bermasalah. Saat dirumah sakit, bapak terus memohon agar aku mau menuruti keinginannya. Jujur, saat itu aku sangat bingung. Aku tidak tega menolak keinginan bapak yang sedang terbaring lemah, tapi aku juga tidak sanggup jika harus menyakiti Puja. Saat itu aku sangat dilema, rasanya lebih baik aku mati saja daripada dihadapkan dengan keadaan sulit seperti ini.
Aku keluar dari ruangan dengan perasaan kacau. Bapak dan emak terus mendesakku membuatku pusing setengah mati. Saat aku melihat kesekeliling, aku baru menyadari Puja sudah tidak berada disana. Aku mencarinya kesetiap sudut rumah sakit tapi tetap tidak ada. Tanpa fikir panjang, aku langsung melajukan motorku menuju rumah.
Sesampainya dirumah, aku mencarinya kesetiap sudut ruangan, tetap saja Puja tidak juga ku temukan. Mataku tidak sengaja melihat secarik kertas yang berada diatas meja rias. Aku membacanya, dan ternyata itu surat dari Puja. Puja pergi, Puja memilih mundur dan meninggalkanku. Tubuhku lemas dan luruh kelantai. Tangisku pecah dan teriak-teriak memanggil nama Puja seperti orang kesetanan. Aku hancur! aku tidak sanggup, aku tidak mau kehilangan Puja. Aku bisa gila!
__ADS_1
Aku mencoba menguhubunginya, nomornya aktif tapi tidak diangkat. aku mengirim pesan padanya, dibaca, tapi tidak dibalas. Aku kembali menghubunginya, tapi sekarang nomornya malah tidak aktif! aku mengamuk dan melempar semua barang-barang dikamarku! aku bahkan meninju kaca lemari dikamarku! tanganku berdarah, aku tak merasa nyeri sedikitpun. Yang kurasakan hanya rasa takut! takut kehilangan Puja. Aku sangat frustasi!
Aku teringat Iis teman Puja, aku langsung mencari Puja ke kos-kosan Iis. Tapi hasilnya nihil, Puja tidak disana. Aku mengacak rambut frustasi. Namun seketika aku teringat Toni. Ya, aku yakin Toni pasti tahu dimana Puja. Aku langsung melajukkan motorku kerumah Marvel.
Sesampainya disana aku langsung menanyai Toni, tapi sialnya Toni juga tidak mengetahui dimana Puja, Toni berani bersumpah karena dia sendiri sibuk mengantar Melodi. Begitupula Melodi yang terkejut saat mendengar Puja yang pergi dari rumah. Aku mencoba menghubungi Ratna, dan ternyata Ratna juga tidak mengetahui keberadaan Puja. Aku semakin frustassi karena tidak berhasil menemukan Puja.
'Sayang, Puja dimana? kang Sofyan enggak mau kehilangan Puja, tolong jangan tinggalin kang Sofyan' ucapku disepanjang perjalanan menuju rumah.
Tiba-tiba ditengah perjalanan emak menelfonku, katanya kondisi bapak memburuk. Aku langsung menuju rumah sakit. Dan sesampainya disana bapak sudah tiada. Tubuhku luruh ke lantai! perasaanku sangat kacau! disaat bersamaan, aku gagal mewujudkan terakhir bapak, dan juga gagal menjadi suami yang baik untuk Puja.
"Jangan sentuh! sial*n!" ucapku dengan mata memerah. Risma nampak terkejut, begitu pula emak dan ibunya Risma.
__ADS_1
"Puas kamu sekarang! puas menghancurkan hidup saya! istri saya pergi, bapak meninggal! puas!" aku membentaknya.
"Sofyan, jangan keterlaluan!" bentak emak.
"Mereka yang keterlaluan! kalau tidak ikhlas menolong, lebih baik tidak usah sekalian! jangan malah merusak hidup orang dengan mengungkit-ungkit kebaikan dan minta balas budi!" ucapku lantang.
"Ambil! ambil rumah, tambak! ambil semua buat balas budi bapak! tapi jangan harap aku bakalan mau nikahin kamu! istriku hanya Puja! hanya Puja! dan kalian semua sudah mengambilnya dari saya! kalian memisahkan suami istri yang saling mencintai! kalian egois!" ucapku dengan keras sampai membuat orang-orang yang melayat kembali berbalik karena mendengar teriakanku.
Tubuhku luruh ke tanah, lalu tangisku pecah, aku meraung-raung memanggil nama Puja.
"Hu... Puja...!!!!!!" aku berteriak memanggil nama Puja di dekat makam bapak. Setelah itu aku seperti orang linglung. Kadang menangis kadang tertawa terbahak-bahak! apakah aku sudah gila? entahlah! aku tidak perduli walaupun saat ini aku tengah menjadi tontonan orang.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Masih mellow ya. Cup cup kang Sop ayam, Puja aman kok. Puja diciptakan hanya untukmu.