Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Abang


__ADS_3

"Bang Ikhsan?" ucap Alya dan Vino bersamaan.


"Bang, Alya kangen..." Alya berhambur ke pelukan sang kakak menumpahkan rasa rindu sekaligus rasa sakit hatinya.


"Abang juga kangen sama Alya, mangkanya abang kesini." ucap Ikhsan sambil mengelus puncak kepala Alya, melihat itu Vino merasakan panas, dia merasa tak suka saat Ikhsan memeluk Alya dengan begitu erat, walaupun Vino tahu jika Ikhsan adalah kakak kandung Alya, kakak sebapak yang darahnya sama-sama mengalir dari Ilyas. Tapi tetap saja dia tak rela ada laki-laki lain yang menyentuh istrinya itu, apa dia cemburu? entahlah yang jelas Vino merasa panas.


"Kita pulang ya, ayah enggak bisa jemput mangkanya abang yang jemput." ajak Ikhsan.


"Enggak bisa, Alya istri saya, dia bakalan pulang Bareng saya." ucap Vino dengan mata menyala. Ikhsan tersenyum remeh.


"Kamu dapet dari mana sih suami modelan begini Al?" tanya Ikhsan sinis.


"Udah bang ayo pulang, orang kaya dia jangan diladenin." Alya menarik Ikhsan untuk segera pergi dari sana, Vino tak terima, Alya sama sekali tak mengaggapnya ada, padahal dia masih suaminya, sudah sepantasnya Alya minta izin padanya.


"Al, kamu enggak bisa giniin aku dong, aku masih suami kamu Al!" ucap Vino sambil menyusul Alya. Dia terus mendekati Alya dan akhirnya berhasil meraih tangan Alya.


"Lepasin Vin!" Alya memberontak.


"Aku enggak mau lepasin kamu, kamu harus pulang sama aku!" ucap Vino sambil mencengkram lengan Alya dengan kencang. Saking kencangnya tangan Alya sampai memerah.


"Lepasin brengsek!" ucap Ikhsan sambil mendorong tubuh Vino.


"Bang Ikhsan enggak usah ikut campur ini urusan rumah tangga saya!" sentak Vino.


Bugh!


Ikhsan yang sudah tak tahan menahan emosinya sejak tadi, akhirnya memberikan satu hadiah diwajah Vino. Dia menarik tangan Alya dan membawanya masuk kedalam mobil. Kemudian dia melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Vino hanya bisa menatap nanar kepergian Alya, hatinya terasa hampa, seperti ada yang hilang. Kenapa melihat Alya marah hatinya bisa sesakit ini?


//


"Udah, jangan terlalu difikirkan. Laki-laki kayak dia enggak pantes ditangisin." ucap Ikhsan sambil fokus menyetir mobilnya. Alya hanya diam saja sambil sesekali menyeka air matanya yang tumpah membasahi pipinya.

__ADS_1


"Kalau tahu begini, kemarin mendingan enggak usah nikah Al, laki-laki yang enggak bisa menjaga perasaan wanita enggak pantes dipertahankan. Walaupun dia enggak cinta sekalipun tapi setidaknya kalau sudah terikat pernikahan minimal punya komitmen." ucap Ikhsan.


"Alya memang bodoh," ucap Alya lirih.


"Bukan kamu yang bodoh, tapi dia yang enggak bersyukur." sela Ikhsan.


"Udah kamu tenang aja Al, laki-laki enggak hanya dia, nanti abang kenalin teman-teman bang Ikhsan. Mereka lebih mapan, lebih dewasa dan lebih segalanya dari pada bocah itu." lanjutnya. Alya tak menjawab dia hanya diam saja.


"Oh iya bang, umi sama abi jangan dikasih tahu ya, Alya enggak mau mereka sedih, masa baru seminggu nikah udah mau cerai lagi." pinta Alya.


"Kamu tenang aja, soal itu abang udah ngerti kok." jawab Ikhsan.


"Iya bang," jawab Alya.


"Oh iya gimana kabar tante Ratna? katanya kak Veli mau lahiran ya," tanya Alya.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Ikhsan.


"Kamu udah ketemu sama Alex?" tanya Ikhsan.


"Udah bang, anaknya tengil ya," ucap Alya.


"Bocah itu tahunya hanya senang-senang, sama kayak suami kamu. Abang aja sampai kewalahan ngadepin dia, susah banget disuruh belajar. Main terus kerjaannya. Abang sampai keluar masuk kantor polisi karena dia sering ketangkap pas balapan liar." ucap Ikhsan.


"Anak orang kaya mah bebas." ucap Alya.


"Ya kalau kelewat bandel gitu kan malah nyusahin Al," ucap Ikhsan.


"Oh iya abang kapan nikah?" tanya Alya.


"Nunggu jodohnya turun dari langit." ucap Ikhsan sambil terkekeh.


"Abang mirip sama A Bagja tau enggak, enggak pernah pacaran sama sekali. Dingin kayak es kalau ke perempuan. Tapi nasib A Bagja lebih beruntung karena udah nikah duluan." ucap Alya sambil membayangkan wajah dingin Bagja.

__ADS_1


"Tetep gantengan abang Ikhsan." ucap Ikhsan pede.


"Gantengan dia lah, abang mah jelek, buktinya sampai sekarang belum laku-laku." ucap Alya mencibir.


"Abang kan masih fokus sama perusahaan Al, papa udah mulai tua, paman apalagi. Kalau bukan abang siapa lagi, Alex masih begajulan." ucap Ikhsan.


"Abang kok mau sih besarin perusahaan milik paman Marvel, padahal dia bukan..."


"Dia papa bang Ikhsan. Papa Marvel adalah papa yang paling sempurna di dunia ini." sela Ikhsan.


"Abi Ilyas juga." ucap Alya. Ikhsan hanya bisa tersenyum, Alya tidak tahu saja luka yang ditorehkan Ilyas kepadanya masih membekas hingga sekarang. Ikhsan sudah memaafkan, tapi jika ditanya lebih sayang mana pada Ilyas atau pada Marvel? mungkin Ikhsan lebih memilih jadi anak durhaka karena memang dia lebih menyayangi Marvel. Disaat Ratna sibuk mengurus adik-adiknya, Marvel tak pernah melupakan Ikhsan, di balik kesibukannya dia selalu ada waktu untuk menghibur dan mencurahkan kasih sayangnya, sehingga Ikhsan tak pernah merasa kekurangan kasih sayang semenjak Ratna menikah dengan Marvel. Dan Ikhsan tak menyesal karena orang tuanya berpisah. Karena jika masih bersama, belum tentu Ikhsan sebahagia ini.


"Sampai sekarang abi selalu nangis tiap habis sholat. Katanya banyak dosa ke abang." ucap Alya sendu.


"Penyesalan memang datangnya terlambat Al," jawab Ikhsan.


"Tapi abang udah maafin abi kan?" tanya Alya.


"Allah saja maha pemaaf kenapa abang enggak. Ya jelas udah abang maafin dari dulu juga. Kalau abang kurang deket sama abi dan kalian itu hanya karena masalah tempat tinggal dan kesibukan abang, tapi abang sayang kok sama Alya, sama abi dan umi Risma." ucap Ikhsan.


"Sayang banget Abang enggak tinggal serumah, pasti menyenangkan tinggal sama abang yang baik dan perhatian, sayang lagi sama adik dan orang tua. Alya jadi iri sama kak Veli dan Alex." ucap Alya.


"Kenapa harus iri, kalian sama-sama adik Abang," ucap Ikhsan sambil mengusak kepala Alya dengan sayang.


//


Sementara itu ditempat lainnya, ada yang sedang menangis sambil memandangi foto pernikahannya. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Vino. Hatinya resah dan galau, sejak tadi nomor Alya tidak aktif. Disamping itu Vino juga merasa takut, jika Alya benar-benar akan mengajukan gugatan cerai. Apalagi Ikhsan sudah mengetahui permasalahan antara dirinya dan Alya, tentu saja Ikhsan tak akan tinggal diam melihat adiknya disakiti sebegitu dalam.


Lama Vino termenung hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke kampungnya. Setidaknya disana ada Puja dan Sofyan yang akan membantu menyelesaikan masalahnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa Vote, sebentar lagi Vino akan berjuang lebih keras karena akan ada saingan baru nih. Siapa kira-kira ya?

__ADS_1


__ADS_2