Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Perjodohan


__ADS_3

Karena Sofyan dan Vino ada pekerjaan ditambak dan Bagja juga sedang bekerja, Puja hanya mengajak Dila kerumah Risma dengan membawa sample baju ketiga prianya.


Sesampainya dirumah Risma mereka disambut ramah oleh wanita yang dulu sempat menjadi rivalnya itu.


"Assalamu'alaikum" sapa Puja sambil mencium pipi Risma secara bergantian.


"Waalaikumsalam" jawab Risma yang juga melakukan hal sama.


"Lagi rame ya jahitannya?" tanya Puja yang melihat beberapa karyawan baru di rumah jahit Risma.


"Alhamdulillah mendekati puasa pesanan suka meningkat, jadi nambah karyawan lagi deh. Ayo masuk." ajak Risma kepada Puja dan Dila untuk duduk di kursi tamu.


"Mau minum apa?" tanya Risma.


"Enggak usah ngerepotin lah, tadi sebelum kesini udah pada sarapan kok." jawab Puja.


"Iya tante, Alya kemana tante?" tanya Dila.


"Alya lagi bantu abinya di toko kebetulan toko sedang rame juga, Alhamdulillah." jawab Risma.


"Oh, rajin banget mau bantu-bantu orang tua, anak aku mah si Vino kalau disuruh sama ayahnya beuuhh!! harus pake otot dulu nyuruhnya." ucap Puja.


"Betul tuh, emang kutu aer nyebelin bun!" timpal Dila.


"Tapi nyebelin-nyebelin gitu kan juga calon suami kamu." goda Puja.


"Iiih bunda, enggak mauuuuu!!!" Dila memanyunkan bibirnya.


"Oh iya Bagja bagaimana kerjaannya?" tanya Risma.


"Alhamdulillah lancar, belum ada setahun udah mau naik pangkat. Emang kalau anak satu itu mah soal kerjaan serius, ya gimana bapaknya lah." ucap Puja.


"Haduuh, jadi enggak sabar mau jadiin mantu." ucap Risma.


Deg


Wajah Dila seketika pias karena ternyata Risma menginginkan Bagja menjadi menantunya.


"Memang Alya mau sama Bagja?" tanya Puja.


"Pasti mau lah, siapa yang bisa nolak laki-laki seperti Bagja. Jadi gimana, kita besanan ya?" ajak Risma.


"Coba nanti aku tanya sama anaknya dulu mau apa enggak. Soalnya kalau soal cewek dia tuh dingin banget, tertutup gitu enggak kayak si Vino ada apa-apa selalu bilang, selalu ngadu. Digigit nyamuk aja ngadu. Kalau Bagja digigit buaya aja diem." ucap Puja.


"Emang pernah digigit buaya?" tanya Risma.


"Itu cuma perumpamaan. Hehe.. amit-amit jangan sampai deh kejadian begitu." ucap Puja.


"Semoga Bagja nya mau ya, kalau Alya mah pasti mau lah, anak itu selalu nurut apa kata orang tua." ucap Risma.


"Iya, nanti aku omongin. Oh iya aku kesini mau jahit baju buat lebaran. Biasa baju couple. Tapi enggak pada ikut yang tiga, sampel bajunya aja ini ada." ucap Puja sembari mengeluarkan baju Sofyan Bagja dan Vino.

__ADS_1


"Ukuran yang tahun kemarin juga disini masih ada kok, kayaknya enggak jauh beda yah, kecuali..."


"Kecuali apa?"


"Kecuali Dila, kayaknya bagian dadaanya makin besar aja hehe..." Risma tertawa kecil. Dila hanya tersenyum miring, dia masih badmood karena Risma dan Puja hendak menjodohkan Alya dan Bagja.


"Iya lah, ini makin kenceng, makin gede, beuhh puas nanti suaminya nih." goda Puja.


"Bunda bisa aja." jawab Dila pelan.


Setelah berbincang dan memilih kain akhirnya Puja dan Dila kembali ke salon, saat diperjalanan Dila mencoba menanyai Puja soal rencana perjodohan itu.


"Bunda beneran mau jodohin Alya sama Aa Bagja?" tanya Dila.


"Bukan hanya mereka, kamu sama Vino juga mau bunda jodohin." jawab Puja.


"Jangan bun, Dila enggak mau." jawab Dila.


"Kenapa enggak mau, emang kurangnya Vino apa?" tanya Puja.


"Kurang ajar!! hehe..." jawab Dila.


"Tapi kalian cocok loh menurut bunda, Sama-sama nakal dan gesrek." jawab Puja.


"Tapi Dila tetap enggak mau dijodoh-jodohin gitu bun." jawab Dila.


"Iya enggak, biar mengalir seperti air." ucap Puja.


"Bun emang Alya itu menantu idaman bunda ya bun sampai bunda mau jodohin sama Aa Bagja?" tanya Dila.


"Oh..." Dila hanya ber oh ria. Dia mengira Puja tak menginginkannya menjadi menantu Puja, dan jika Dia dan Alya sama-sama menjadi menantu Puja, sudah pasti Alya lebih disayang karena menantu idaman. Dila lupa jika Puja menyayanginya bukan hanya sekedar menantu tapi sudah seperti anak sendiri. Bahkan yang dianggap anak bungsunya adalah Dila, bukan Vino.


//


"Dila, bunda mau minta tolong boleh enggak?" tanya Puja.


"Minta tolong apa bun?" tanya Dila.


"Ini lo, tadi hpnya Bagja ketinggalan, bisa kamu anterin ke dinas? kasihan takutnya penting." ucap Puja sembari menyerahkan ponsel milik Bagja.


"Oh iya bun, mana HP nya biar Dila anterin." jawab Dila sembari mengambil ponsel tersebut. Setelah itu dia memasukan ponsel milik Bagja kedalam tasnya.


"Ya udah bun, Dila berangkat dulu ya." ucap Dila sembari mencium tangan Puja.


"Iya, Hati-hati dijalan ya." jawab Puja.


//


Dila sudah sampai di kantor dinas tempat Bagja bekerja tepat saat jam makan siang dan istirahat. Pakaiannya yang cukup berani dengan wajah yang begitu menawan membuatnya menjadi pusat perhatian para pegawai di kantor tempat Bagja bekerja.


__ADS_1


"Permisi pak, saya mau ketemu sama pak Bagja bisa?" tanya Dila ke seorang satpam yang berjaga disekitar pintu masuk.


"Pak Bagja sepertinya belum keluar dari ruangannya. Tunggu sebentar lagi neng." jawab satpam tersebut.


"Oh iya udah saya tunggu disini aja deh pak." jawab Dila sambil menunggu dikursi tunggu. Dila cuek saat orang-orang menatapnya dengan tatapan aneh namun tak jarang yang menatapnya dengan tatapan memuja dan lapar.


Tak lama setelah itu Bagja keluar dari ruangannya bersama teman-temannya yang lain.


"Wih, siapa tuh cewek cantik bener. Bidadari dari mana nih." ucap Dimas salah satu teman kerja Bagja.


"Ya ampun itu mah gurih enyoy banget Dim, ajak kenalan yuk!" ucap Doni yang juga teman kerja Bagja.


Bagja menatap kearah Dila dan seketika itu juga dia merasa panas dan terbakar, ternyata wanita yang dibicarakan oleh teman-temannya adalah Dila. Disaat bersamaan Dila menengok kearahnya, Dila melambaikan tangannya dan berjalan menghampiri mereka.


"Dia manggil kita Dim, duh nyamperin segala." ucap Doni dengan kaki lemas.


"Mau ngajak kenalan kayaknya Don, aduh mimpi apa semalam disamperin bidadari cantik kayak gitu Don?" ucap Dimas yang juga tak kalah lemas karena Dila semakin mendekat bahkan aroma farfumnya saja sudah tercium.


Namun belum sempat mendekat, Bagja lebih dulu menarik tangan Dila dan membawanya pergi dari sana.


"Loh loh loh.. Ja! mau dibawa kemana woii?" ucap Doni. Bagja tak menggubris dan terus menarik tangan Dila agar menjauh dari tempat itu. Dimas dan Doni hanya bisa melongo.


"Apa jangan-jangan..." ucap Doni dan Dimas bersamaan.


Sementara itu...


Bagja membawa Dila kesebuah taman yang sepi dan jauh dari orang-orang.


"Mau ngapain kesini?" tanya Bagja dengan wajah galaknya.


"Dila cuma..."


"Cuma apa? cuma mau bikin gara-gara lagi? iya? mau bikin saya malu?" bentak Bagja.


"Aa Bagja kenapa sih negatif thingking mulu sama Dila?" tanya Dila sedikit nyolot.


"Memang kamu selalu cari-cari masalah." ucap Bagja. Dila semakin geram dan dengan cepat mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tasnya. Lalu menyerahkan ponsel itu kepada Bagja.


"Dila kesini karena ini, karena bunda yang nyuruh anterin HP nya Aa Bagja yang ketinggalan dirumah. Lain kali enggak usah nyolot bisa enggak sih!" ucap Dila yang begitu kesal karena Bagja selalu membentak nya. Ditambah rencana perjodohan Bagja dan Alya membuatnya semakin merasa kesal dan sesak. Matanya memerah, biasanya dia tak secengeng ini tapi kali ini entah kenapa dia merasa sedang tertimpa kesialan bertubi-tubi.


Bagja hanya diam saja, dia merasa bersalah sekaligus menyesal karena membentak-bentak Dila. Apalagi saat melihat mata Dila yang memerah, dia jadi semakin merasa kasihan. Tapi mulut nya seakan terkunci untuk mengucapkan kata maaf. Itu sesuatu yang sulit baginya.


"Dila permisi, maaf kalau udah ganggu dan bikin malu." ucap Dila yang langsung berbalik hendak pergi dari tempat itu. Namun dia tak sengaja tersandung batu yang berukuran cukup besar dan...


Hap!


Bagja menangkapnya. Mereka saling berpandangan cukup lama hingga Bagja tersadar dan hendak melepas tangannya dari pinggang ramping Dila. Tapi tiba-tiba...


Cup!


Dila mencuri ciuman pertamanya dan kabur sebelum Bagja memaki dan memarahinya.

__ADS_1


"Dilaaaaa!!!!!!!"


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2