
Setelah acara bulan madu di puncak Bogor akhirnya mereka kembali kerumah masing-masing dan mulai menjalankan aktivitas seperti biasanya, juga menjalankan rencana yang sebelumnya sudah dirancang dengan matang. Puja dan Iis membuka salon dirumah kontrakan yang sempat ditinggali Risma sebelumnya. Dengan berbekal tekad dan skill yang memadai, Iis dan Puja berhasil menjalankan usaha mereka. Setelah dua tahun, usaha salonnya cukup terkenal dan juga maju dan tentu saja itu sangat membantu perekonomiannya. Hingga usaha mereka sudah semakin besar dan rumah itu akhirnya dibeli oleh mereka. Lalu dirombak menjadi tempat yang lebih nyaman untuk sebuah salon kecantikan. Beberapa karyawan direkrut sehingga Iis tak begitu kelelahan lagi. Dan dari sana Iis baru mengandung karena selama membangun salon itu untuk menjadi besar dia meminum pil pencegah kehamilan, bukan mau menolak hanya saja Iis ingin mengejar cita-cita nya terlebih dahulu agar adik dan ibunya bisa terjamin karena Iis tak ingin memberatkan Mahmud, Iis memiliki anak perempuan, Puja menyusul dan memiliki anak lelaki. Anak mereka seumuran, hanya beda bulan saja. Begitupula dengan Risma, kondisi kandungannya yang lemah menyulitkan dirinya untuk mengandung, setelah beberapa kali keguguran akhirnya ditahun kedua pernikahan mereka Risma berhasil hamil lagi dan kali ini kandungannya cukup kuat lalu lahirlah anak perempuan pertama mereka. Anak kedua Puja diberi nama Vino sedangkan anak Iis diberi nama Adila, dan anak Risma bernama Alya.
//
18 Tahun kemudian
Terlihat tiga orang anak remaja yang beranjak dewasa baru selesai melaksanakan ospek (orientasi studi dan masa pengenalan kampus) dari sebuah universitas ternama di kota kembang. Setelah itu mereka sama-sama mengendarai motor untuk pulang ke kos-kosan mereka yang jaraknya tidak jauh dari kampus tersebut. Kos mereka bersebelahan, sejak kecil hingga kini mereka tetap setia dengan persahabatan mereka, sekolah bareng, kos bareng bahkan hingga kampus pun mereka memilih tempat yang sama. Setelah membersihkan diri masing-masing malam harinya mereka nongkrong di sebuah cafe untuk merayakan masa ospek mereka yang sudah berakhir dan sudah dah menjadi seorang mahasiswa dan mahasiswi.
"Akhirnya, kita selesai juga ya ospek nya. Udah gak sabaran deh cepet lulus, terus kawin!" celetuk Dila.
"Kawin mulu di fikirin, masih lama woi! emang kamu udah ada calon? pacar aja enggak punya Hu....!" ejek Vino.
"Ada, tuh aa Bagja calon aku uweee!!" ucap Dila sembari menjulurkan lidahnya. Sedangkan Aliya hanya bisa tersenyum miring, karena kedua sahabatnya itu jika sudah bertemu pasti seperti guguk dan kucing.
"Mana mau aa Bagja sama perempuan bar-bar kayak kamu! diih!" ucap Vino mengejek.
"Iih nyebelin!!" setelah itu Dila mencubit pinggang Vino dan dibalas Vino dengan cubitan balik hingga mereka saling cunit-cubitan.
"Udah, udah! kalian ini kenapa sih ribut mulu. Malu tahu dilihatin orang." ucap Alya yang mulai merasa jengah.
"Abis tuh si anak kutil kawin mulu difikirin." ucap Vino.
"Dari pada kamu anak kutu aer!" ucap Dila tak mau kalah.
"Kalian berantem mulu entar lama-lama jodoh loh!" ucap Alya.
__ADS_1
Seketika Vino dan Dila saling berpandangan. Lalu..
"Ogaaaahhhhh!!!!!" mereka berteriak bersamaan.
//
Karena mereka diliburkan selama seminggu akhrinya mereka pulang kerumah masing-masing di ci *****.
"Kaseeep, bangun atuh masa udah siang masih juga tidur, nanti rezekinya keduluan orang." teriak Puja dari dapur. Namun yang diteriaki masih asyik didunia mimpi. Puja geram lalu masuk kedalam kamar putra bungsunya itu dengan membawa sebuah kemoceng. Kemudian Puja menjulurkan dan menggerak-gerakkan kemoceng itu di hidung dan sekitaran wajah Vino. Seketika Vino bersin-bersin.
"Ha.. ha... haccuuummm!!!" Vino bangkit dengan wajah cemberut.
"Mangkanya kalau disuruh bangun tuh ya bangun. Udah dikasep-kasep, di herang mencrang, masih juga molor! (tidur)." ucap Puja kesal.
"Mamah jangan marah atuh, nanti cantiknya hilang, nanti ayah cari daun muda gimana hayo?" Vino menakuti.
"Kalau cantik mah mau aja, kan bisa dijadiin sambilan pas kondangan. hahahah...." Vino tertawa keras membuat Puja semakin merasa geram.
"Oh.. jadi mau punya ibu tiri, rasain nih rasain!!" Puja memukul-mukul Vino dengan kemoceng ditangannya membuat Vino merasa kegelian, ya namanya juga dipukul kemoceng, tak seberapa sakitnya. Mungkin Puja lupa kalau Vino sudah beranjak dewasa, tapi perlakuannya sejak dulu tetap sama, kalau nakal pasti dipukul pakai kemoceng.
"Mah, ada sih pagi-pagi udah ribut?" tanya Sofyan yang tiba-tiba datang ke kamar Vino.
"Ayaah, Masa Vino bilang katanya ayah mau punya daun muda, ya udah sama mamah di marahin." ucap Puja manja. Kemanjaan nya tak hilang dimakan usia, Puja dan Sofyan tetap mesra meski sudah tua.
"Ya enggak lah mamah, mamah paling cantik sedunia, biar nanti ayah hukum suruh ngangkutin pakan ikan ke tambak, biar tahu capeknya kerja." ucap Sofyan sembari melotot tajam kearah Vino.
__ADS_1
"Tapi yah, Vino masih kecil atuh yah, masa harus ngangkat-ngangkat pakan segala? Vino kan calon sarjana yah, mas ake tambak malu atuh yah." ucap Vino tak terima.
"Baru calon, kakak kamu yang udah sarjana aja enggak malu kerja ditambak." ucap Sofyan.
"Kakak kan emang jurusan perikanan. Wajar kalau kerjaannya di tambak, kalau Vino kan jurusannya beda yah." ucap Vino kekeh.
"Pokoknya ayah enggak mau tahu, kerjakan tugas itu atau ayah tarik motor kamu dan ayah potong uang jajan kamu! biar ke mana-mana pakai angkot." ucap Sofyan.
"Ayah mah enggak asik! kak Bagja aja dikasih mobil, Vino cuma dikasih motor aja mau tarik segala. Bisa hilang atuh yah pesona Vino didepan cewek-cewek." ucap Vino menggerutu.
"Ya kalau gitu kerjain tugas dari ayah, cuma ngangkut pakan apa susahnya sih, belajar kerja ku laki-laki bukan aki-aki!" ucap Sofyan.
"Kan ayah yang aki-aki!" celetuk Vino.
"Apa?!!" Sofyan semakin murka.
"Sabar, sabar sayang..." Puja mengelus-elus dada Sofyan yang mulai emosi menghadapi anak bungsunya tersebut dan membawanya kekamar mereka. Sifat Vino memang menurun dari Puja, petakilan, nakal dan asal ceplos. Sedangkan Bagja sifatnya begitu pendiam dan dingin, pekerja keras dan tidak neko-neko, persis seperti Sofyan. Dinginnya melebihi kulkas lima puluh pintu.
"Itu tuh anak kamu. Masa akang dibilang aki-aki?" ucap Sofyan tak terima.
"Sabar sayang, namanya juga anak bungsu mah emang suka begitu. Tapi bener sih kan emang akang udah aki-aki." ucap Puja.
"Kamu kok malah ikut-ikutan sih?" tanya Sofyan tak terima.
"Iih dasar baperan, coba sekarang buktiin ke Puja beneran udah aki-aki apa masih kuat?" bisik Puja nakal. Sofyan menyeringai lalu mulai menerkam istrinya yang semakin tua semakin menantang tersebut. Umur boleh tua tapi jiwa dan gelora tak kalah dari anak muda. Seketika kamar mereka dipenuhi suara erangan dan racauan khas bercinta. Namun kali ini emak tak mendengarnya, karena emak sudah tiada. Dan kamar itu sudah didesain sedemikian rupa menjadi kedap suara agar anak-anak mereka tak mendengar yang tak semestinya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻