
Sore itu Mahmud menemui Sofyan dirumahnya untuk meminta tolong sekaligus mengutarakan niatnya untuk menikahi Risma karena hanya Sofyan kerabat dekat yang dia punya dan sudah menganggap Sofyan seperti saudaranya sendiri.
Dan disinilah mereka semua berada, Sofyan, Mahmud dan juga Puja duduk diruang tamu rumah Sofyan.
"Jadi, kamu mau nikahin Risma walaupun kamu tahu kalau itu bukan anak kamu?" ucap Sofyan memastikan. Dia sangat terkejut saat Mahmud mengutarakan keinginannya.
"Iya kang, Insya Allah saya siap dengan semua konsekuensi yang akan saya terima termasuk jika harus berhadapan dengan Ilyas. Saya enggak tega kang lihat Risma hancur, ibunya terus menekan dia, bahkan sampai mau bun*h diri." jelas Mahmud.
"Jadi niat kamu hanya ingin menolong gitu ya? tapi pernikahan itu suatu komitmen Mud, enggak bisa dipermainkan" ucap Sofyan.
"Iya kang, tapi ya kita sama-sama saling belajar untuk menerima satu sama lainnya." jawab Mahmud.
"Beneran kamu ikhlas mau nerima dia?" tanya Puja tak percaya karena masih ada orang baik seperti Mahmud.
"Iya teh, insya Allah saya ikhlas." jawab Mahmud.
"Kalau ibunya dia enggak setuju kamu masih bakalan tetap nekad menikahi dia?" tanya Puja.
"Itu.. mangkanya saya kesini karena mau minta bantuan kang Sofyan untuk bicara sama ibunya Risma. Karena kan dulu abahnya Risma sempat nitip Risma ke kang Sofyan dan minta dicarikan jodoh untuk Risma, begitu teh." jelas Mahmud. Puja mengangguk faham lalu menggenggam tangan Sofyan.
__ADS_1
"Ya udah bantuin aja mereka, kasihan. Daripada sama Ilyas." ucap Puja kepada Sofyan.
"Tapi kalau Ilyas sampai tahu dan dia ngancem kita gimana?" tanya Sofyan.
"Kita laporin aja dia kepolisi biar enggak bikin ulah terus! sms ancaman dari dia kemarin juga masih ada tuh. Akang gak usah takut." ucap Puja.
"Bukan gitu, akang sebenarnya enggak takut, tapi lebih khawatir karena dia orangnya nekad sayang. Takutnya akang pas enggak dirumah, terus dia kesini dan berbuat macem-macem sama kalian." ucap Sofyan.
"Kalau gitu ibunya Risma gak usah dikasih tahu, nikah diam-diam aja dulu pake wali hakim. Yang penting sah, dan kita saling menjaga aja jangan sampai Ilyas tahu sampai anak itu lahir. Pasti Ilyas gak akan tahu lah, Soalnya kan dia enggak kenal sama Mahmud." saran Puja.
"Gimana Mud? ini saya enggak bisa berurusan sama ibunya Risma dulu soalnya, kamu tahu sendiri saya punya keluarga yang harus dilindungi dari Ilyas yang jika saya masih berhubungan dengan Risma pasti Ilyas bakalan mengusik keluarga saya. Lagipula Risma kan udah enggak punya wali, jadi gampang aja kamu nikahin dia. Nanti kalau untuk surat-surat biar saya yang urus. Saya juga bisa jadi saksi, yang penting Risma bisa tinggal dirumah kamu dulu, dan mudah-mudahan jika kalian berjodoh pernikahan itu akan bertahan selamanya." ucap Sofyan.
"Sama-sama Mud, oh iya untuk kunci rumah kontrakan yang di ********* itu di cantelin dideket meteran listrik nanti kamu kesana sendiri aja ambil baju-baju Rismanya, saya enggak bisa nemenin." ucap Sofyan.
"Iya kang. Makasih ya kang, kalau begitu saya permisi dulu kang." pamit Mahmud. Kemudian pergi menuju kontrakan rumah yang disewa Sofyan untuk mengambil baju-baju dan perlengkapan Risma.
Sementara itu, Puja tengah bermanja-manja di dada Sofyan.
"Jadi kapan nih ngajakin bulan madunya?" tanya Puja.
__ADS_1
"Maunya kapan? besok juga akang oke. Tapi mau urus tambak dulu ya, kan kudu dititipin dan urusan Mahmud sama Risma belum kelar kita bantu menyelesaikan dulu aja." ucap Sofyan.
"Iya deeehh... jadi enggak sabar pengen cepet-cepet main ke puncak." ucap Puja.
"Akang juga enggak sabar." ucap Sofyan.
"Enggak sabar apa?" tanya Puja.
"Enggak sabar itu-itu sama kamu." jawab Sofyan.
"Iihh! fikirannya messum mulu!!" ucap Puja.
"Tapi kamu suka kaaan?" tanya Sofyan.
"Enggak suka, tapi doyan, hehe.." mereka tertawa bersama, saling mencubit, dan bercanda gurau seperti biasa. Dalam hatinya Puja berharap setelah ini tak ada lagi ujian dan masalah berat yang menimpa mereka.
🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa like, komentar dan juga vote nya ya.
__ADS_1