Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Pandangan Pertama


__ADS_3

"Puja... hiks" Iis berhambur kepelukan Puja.


"Kamu kenapa Is?" tanya Puja yang merasa bingung. Datang-datang Iis menangis, jangan-y habis dibe*gal.


"Ayo duduk dulu, ceritain pelan-pelan." ajak Puja kepada Iis. Mereka sama-sama duduk dikursi tamu. Setelah itu Iis menceritakan semua permasalahan nya kepada Puja. Dia juga menawarkan motornya agar Puja mau membelinya karena saat ini dia sangat membutuhkan uang yang cukup banyak.


"Soal itu Puja bilang dulu sama kang Sofyan ya. Sebentar Puja telfon kang Sofyan dulu. Orangnya masih ditambak." ucap Puja sembari mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Sofyan.


Beberapa saat kemudian...


Sofyan pulang bersama Mahmud karena kebetulan ada barang yang tertinggal dirumahnya.


"Assalamu'alaikum?" sapa Sofyan. Puja mendongak lalu mencium tangan Sofyan.


"Waalaikumsalam. Kang ini Iis ada yang mau di bicarain katanya." ucap Puja.


"Bicarain apa?" tanya Sofyan bingung, apalagi melihat wajah Iis yang sembab seperti habis menangis.


"Duduk dulu atuh." ajak Puja. Sofyan duduk disebelah Puja sementara Mahmud duduk di emperan teras sembari menajamkan telinganya. Dia cukup. kepo, sedang ada masalah apa antara Sofyan dan wanita asing itu. Iis mulai menceritakan kejadiannya dan niat nya yang ingin menjual motor kepada Sofyan untuk membiayai pengobatan adiknya yang saat ini tengah dirawat dirumah sakit dan harus segera di operasi. Sofyan mangut-mangut dan ikut prihatin dengan musibah yang menimpa keluarga Iis.


"Sebenarnya saya udah ada motor mah, dan enggak begitu perlu juga. Tapi ya udah enggak apa-apa, kamu butuh uang berapa?" tanya Sofyan.


"Belum tahu kang, tapi biasanya besar biayanya kang." jawab Iis.


"Iya sih, kamu enggak coba urus ke desa setempat atau ngurus surat-surat keterangan tidak mampu? " tanya Sofyan.


"Udah kang, tapi enggak bisa mendadak. Pihak RS enggak nerima kang." jelas Iis. Sofyan kembali menimang-nimang kemudian mengajak Puja kedalam kamarnya sebentar untuk diajak berunding. Sementara Iis masih duduk di kursi tamu yang berada di teras rumah Sofyan bersama Mahmud yang duduk di emperan teras.


"Adiknya kelas berapa yang kecelakaan?" tanya Mahmud berbasa-basi. Dari pada bosan tak ada obrolan.


"Kelas 2 SMP kang." jawab Iis.


"Jatuh sendiri apa gimana?" tanya Mahmud.


"Di boncengin temennya kang, tapi temennya mah enggak begitu parah cuman memar-memar aja." jawab Iis.


"Oh, saya ikut prihatin ya, Mudah-mudahan adiknya cepet sembuh. Hmm kamu temennya teh Puja?" tanya Mahmud penasaran.


"Iya, temen manggung." jawab Iis. Mahmud terkejut. Dan semua itu tak lepas dari penglihatan Iis. sepertinya setiap orang yang mendengar profesinya sebagai biduan menampilkan ekspresi yang sama. Sebegitu hina kah pekerjaannya? jika boleh memilih dia juga akan memilih pekerjaan lain, tapi karena dia hanya lulusan sekolah dasar dan juga adik-adiknya masih kecil dan butuh sokongan dana yang cukup besar untuk menyekolahkan mereka, Iis terpaksa mengambil profesi ini. Ayahnya sudah tidak ada, ibunya juga sudah sering sakit-sakitan jadi mau tidak mau dialah yang jadi tulang punggung untuk keluarganya.


"Oh.." Mahmud hanya ber oh ria dan kembali ke mode diam. Iis tak mengambil hati dan hanya diam saja melihat ekspresi Mahmud yang seketika berubah.

__ADS_1


"Is.." sapa Puja.


"Eh Puja." jawab Iis yang langsung tersadar dari lamunannya. Iis merasa heran saat melihat penampilan Puja dan Sofyan yang sudah berganti pakaian dan terlihat rapi.


"Ayo kita kerumah sakit." ajak Puja.


"Loh kok?" Iis bingung.


"Motor kamu ditinggal disini aja, kita pake mobil kesananya." ucap Puja.


"Berarti kalian... "


"Iya nanti biar kang Sofyan yang bayarin biaya pengobatannya. Kang Sofyan kan uangnya banyak.. hehe" kelakar Puja.


"Beneran? " tanya Iis dengan mata berkaca.


"Iya bener." jawab Puja. Iis berhambur memeluk Puja.


"Makasih ya Puja." ucap Iis sembari terisak saking terharunya.


"Iya sama-sama. kamu tenang ya, semua masalah ada jalan keluarnya, jangan panik dan putus asa." Jawab Puja.


"Kang, terus saya gimana?" celetuk Mahmud.


"Oh iya saya sampai lupa." ucap Sofyan sambil terkekeh kecil.


"Saya ambil dulu barangnya ya." ucap Sofyan.


"Iya kang." jawab Mahmud sambil sesekali melirik Iis. Entah kenapa Mahmud merasa tertarik dengan iis. Mata sayu dan wajah teduhnya membuat Iis terlihat manis dan manja. Puja yang merasa Mahmud curi-curi pandang pada sahabatnya langsung mengulum senyum. Wah, sepertinya dia akan mendapat job baru sebagai mak comblang nih!


//


Sementara ditempat lainnya ada sepasang pengantin baru yang tengah bergelora meneguk kenikmatan surga dunia. Pasangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Risma dan Ilyas.


Kamar yang tadinya rapi dan bersih kini sudah berantakan dengan pakaian berserakan dimana-mana, Ilyas benar-benar 'menyiksa' Risma dengan keahlian tangannya yang membuat Risma terus menganga. Hingga setelah beberapa kali penyatuan dan beberapa kali Ilyas menumpahkan benihnya di rahim Risma akhirnya dia tumbang dan berbaring disamping Risma.


Cup


"Makasih ya sayang." ucap Ilyas setelah mengecup lembut kepala Risma sekilas.


"Iya mas. Sama-sama. Oh iya mas, Risma pengen masakin opor buat ibu, Risma pengen jenguk ibu mas...." ucap Risma lirih.

__ADS_1


"Ya udah kita kerumah ibu ya, kita berusaha untuk mendapat restunya. Tapi kalau ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan kamu jangan sedih dan putus asa, coba lagi oke." ucap Ilyas.


"Iya mas." jawab Risma.


"Oh iya, mas Ilyas ada uang sedikit buat modal usaha, lusa rencananya mau buka warung sembako dipasar sama temen mas Ilyas, kamu enggak apa-apa kan kalau ditinggal sendirian dirumah? hanya pagi sampai sore aja, enggak sampai malam." tanya Ilyas.


"Iya mas enggak apa-apa. Risma nurut mas Ilyas aja." jawab Risma.


"Kalau bosen dirumah mas Ilyas anter ke rumah Puja ya, apa kerumah temen kamu yang lainnya." tawar Ilyas.


"Risma pengen jualan makanan di emperan teras deh mas, disekitaran sinikan banyak anak-anak. Dari pada nganggur." jawab Risma.


"Emang kamu enggak capek?" tanya Ilyas.


"Enggak lah mas, Risma udah biasa masak. Itu juga udah jadi hobinya Risma." jawab Risma.


"Ya udah apapun itu yang penting kamu seneng, kalau capek istirahat. Jangan maksain ya." pesan Ilyas.


"Iya mas. Oh iya duitnya mana?" tanya Risma sembari mengulurkan tangannya.


"Ya ampun enggak sabaran banget sih." ucap Ilyas sembari terkekeh. Ilyas mengambil uang dari dalam dompetnya dan memberi beberapa lembaran merah kepada Risma.


"Makasih ya mas, Risma seneng deh dapat nafkah lahir batin secara bersamaan." ucap Risma.


"Sama-sama. Do'akan mas Ilyas ya supaya usahanya lancar biar bisa kebeli rumah sendiri enggak ngontrak lagi." ucap Ilyas.


"Iya mas, Risma pasti do'akan." jawab Risma.


"Mas Ilyas juga merasa berhutang sama Sofyan dan Puja, ikan-ikan yang mati diracun dan uang warisan rumah Puja dan Ratna juga dulu mas Ilyas pakai buat senang-senang. Semoga usaha ini jalan dan mas Ilyas bisa mengganti uang itu." ucap Ilyas sembari menatap langit-langit kamarnya. Dia teringat akan perbuatannya yang sudah kelewatan. Sementara Risma sendiri hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada Ilyas. Dia senang karena ternyata Ilyas benar-benar mengakui dosa-dosanya dan berniat ingin mengganti semua kerugian yang disebabkan oleh perbuatannya.


"Maaf ya Ris, mas Ilyas terlalu banyak membawa masalah dalam hidup kamu." ucap Ilyas.


"Enggak kok mas, yang lalu biar berlalu, yang penting sekarang kita fokus menata masa depan dan memperbaiki semua itu. Dan satu lagi, kapan-kapan kalau ada rezeki kita juga jengukin anak mas Ilyas, siapa namanya itu mas?" tanya Risma.


"Ikhsan." jawab Ilyas.


"Iya Ikhsan. Kapan-kapan kita jengukin ke Jakarta. Risma juga pengen kenalan sama Ikhsan." ucap Risma.


"Iya lain kali mas Ilyas kenalin." jawab Ilyas.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2