Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Menantu Dan Mertua


__ADS_3

"Kamu ngomong apa sih Vin. Nuduh orang sembarangan." ucap Alya berusaha menyangkal.


"Udahlah Al, enggak usah akting. Dari dulu juga aku udah tahu hati kamu itu busuk! mangkanya aku lebih deket ke Dila dibanding kamu." ucap Vino membandingkan. Alya menggenggam tangannya kuat-kuat, merasa tak terima karena pria yang berstatus suaminya itu dengan terang-terangan membandingkannya dengan wanita lain, terlebih wanita itu adalah Dila, wanita yang sangat dibencinya karena dimatanya Dila sudah menghancurkan pernikahan impiannya bersama Bagja.


"Cukup Vin! enggak puas apa keluarga kalian nyakitin aku? mempermalukan aku yang hampir gagal nikah! aku mau nikah sama kamu hanya karena enggak mau umi dan abi menanggung malu karena anaknya gagal nikah!" ucap Alya.


"Cih! aku tahu kamu mau nikah dengan aku karena mau deketin kak Bagja kan? enggak usah pura-pura Alya, aku tahu isi hati kamu. Aku bukan laki-laki bego seperti yang kamu kira." cibir Vino dengan ekspresi jengah.


"Anggap aja seperti itu, kamu mau apa?" tantang Alya. Vino turun dari ranjang dan mendekati Alya.


"Aku enggak akan biarin itu terjadi, sebelum kamu menghancurkan rumah tangga mereka, aku yang bakal menghancurkan kamu!" ucap Vino dengan tatapan membunuh. Tangannya mencengkram rahang Alya hingga Alya meringis kesakitan. Sungguh Alya tak pernah melihat sisi Vino yang seperti ini, Vino yang sekarang terlihat kejam dan menakutkan.


"Lepas Vin, sakit tahu enggak!" Alya berusaha memberontak.


"Sakit? sakit ini enggak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit mama aku saat kamu bilang mama aku pelakor dan biduan gatel! padahal mama aku begitu sayang sama kamu, memuji-muji kamu dan begitu berharap ingin memiliki menantu yang serba bisa seperti kamu. Tapi apa balasannya? keluarga kalian, dari mulai ayah, ibu dan anak sama-sama enggak tahu diri!" ucap Vino sambil melepas kasar cengkraman nya dari rahang Alya. Alya memalingkan wajahnya, lalu mengelap kasar air mata di pipinya.


"Terus sekarang kamu maunya apa? apa mau cerai? oke! ayo kita cerai!" ucap Alya menantang. Alya tak dapat membayangkan jika berlama-lama menikah dengan Vino yang kasar dan kejam, bagaimana nasib dan masa depannya nanti.


"Enak saja! kamu fikir semudah itu lepas dari aku? kamu fikir aku bakalan biarin hidup kamu tenang? jangan harap!" ucap Vino dengan seringai liciknya. Setelah mengatakan itu dia kembali berbaring dikasurnya dan kembali memainkan ponselnya.


//


Keesokan harinya


"Ayah, ini gimana sih, udah jam 9 pagi Bagja sama Dila belum keluar kamar. Memangnya mereka enggak lapar?" tanya Puja.


"Namanya juga pengantin baru. Kayak enggak pernah ngalamin aja." ucap Sofyan.


"Iya tapi yah, kalau sampai Dila pingsan gimana? gara-gara anak kita terlalu semangat." ucap Puja asal ceplos.

__ADS_1


"Udah nanti juga keluar kok." ucap Sofyan sambil menarik tubuh Puja agar mendekat dan duduk di pangkuannya.


"Ayahh... malu atuh udah tua juga." ucap Puja.


"Biarinlah, memangnya kenapa harus malu. Memang yang boleh bercinta hanya yang muda?" tanya Sofyan sambil mengigit pipi Puja dengan gemas.


"Aww iih! nakal!" Puja memukul kecil dada Sofyan lalu menyenderkan kepalanya disana.


"Kenapa sih akang enggak pernah berhenti bikin Puja bahagia? akang selalu begini, enggak pernah berubah sedikitpun." ucap Puja lirih. Sofyan tersenyum lalu mengecupi kepala Puja.


"Karena akang bahagia kalau lihat kamu bahagia sayang." ucap Sofyan. Puja semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Sofyan.


"Jangan disini, kita ke kamar yah." ajak Sofyan.


"Ish! kok ke kamar lagi sih, dikit-dikit kamar!" gerutu Puja.


"Terus maunya kemana dong?" tanya Sofyan.


"Ya ampun kayak gitu dikepoin. Udah ah mending ikut akang ke tambak, pacaran disana kayak dulu." ajak Sofyan.


"Ish nakal ya! kalau ketahuan orang gimana? malu atuh udah nini-nini sama aki-aki masih pacaran." ucap Puja.


"Biarin! bodo amat!" ucap Sofyan sambil menggandeng Puja.


"Ya udah bentar mama siap-siap dulu." ucap PujaPuja sambil masuk kedalam kamarnya, namun saat baru saja bangkit dari duduknya Dila keluar dari dalam kamar mereka.


Klek!


Dila terlihat begitu kelelahan dan berantakan, namun tetap tak mengurangai kecantikannya sedikitpun. Tapi bukan itu yang membuat Sofyan dan Puja seketika saling menatap ngeri. Semua itu karena banyaknya tanda merah dileher bahkan sampai ke pipi Dila. Sudah seperti tato dan alergi, merah dimana-mana.

__ADS_1


"Bunda sama ayah kenapa lihatin Dila sampai segitunya?" tanya Dila yang merasa risih sekaligus malu.


"Kamu digigit apa sampai kayak alergi gitu Dil?" tanya Puja menggoda.


"Iih bundaa!!" Dila mengerucutkan bibirnya sambil tersenyum malu.


"Udah sana sarapan dulu. Kalian pasti capek dan lapar, makan dikamar juga enggak apa-apa, bunda sama ayah mau ke tambak sebentar, inget jangan sampai lupa sholat karena keasikan main." pesan Puja.


"I-iya bun." jawab Dila. Dila merasa sangat beruntung karena memiliki mertua yang begitu menyanginya, tak ada cerita di cemberut ini mertua gara-gara bangun kesiangan, yang ada malah disambut dengan senyuman, sarapan sudah disediakan, rumah sudah dibersihkan. Puja benar-benar mertua idaman.


Baru akan masuk ke kamar, Puja mendengar seseorang memanggil namanya dari arah depan, dan ternyata dia adalah Vino dan Alya yang mengekor dibelakangnya. Ya, Vino memutuskan untuk pulang kerumahnya karena tak betah berlama-lama berada dirumah Risma. Padahal Ilyas dan Risma memperlakukan nya dengan sangat baik.


"Loh, kok udah pulang aja anak mama yang ganteng?" tanya Dila sambil mencium kening Vino seperti biasanya. Vino pun begitu selalu mencium pipi Puja saat baru pulang entah dari mana saja, selalu terbiasa mencium pipi Puja karena saking sayangnya.


"Hmm pipi mamah bau iler! pasti habis dicium ayah." ucap Vino sambil menutup hidungnya.


"Masa sih?" Puja meraba pipinya dengan jarinya lalu mengarahkan ke hidungnya. Tidak kok! ah anak ini pasti mengerjainya.


"Dasar anak nakal! udah nikah juga masih aja jahil!" ucap Puja sambil mencubit perut Vino. Vino meringis kegelian sambil tertawa terbahak-bahak.


"Paman, Tante..." sapa Alya dari belakang tubuh Vino. Alya terus menunduk karena merasa malu, terutama kepada Puja.


"Sini mantu mamah." ucap Puja sambil merentangkan kedua tangannya. Alya terharu lalu langsung berhambur kepelukan Puja dan menangis disana.


"Maafin Alya ya tante." ucap Alya disela isak tangisnya.


"Udah, enggak usah difikirkan. Yang lalu biar berlalu. Udah bawa tas kamu ke kamar Vino. Kamarnya udah mama bersihin semalam. Inget panggilnya mama ya, jangan tante." ucap Puja.


"Iya tante, eh mama." ucap Alya. Dila tersenyum kecut melihat kedekatan Alya dan Puja, entah kenapa dia juga merasa egois karena tak mau berbagi kasih sayang Puja kepada siapapun. Bahkan pada Vino sekalipun tidak boleh.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2