
Aku terbangun saat mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Aku memindai kesekeliling dan kang Sofyan sudah tidak ada disampingku. Sepertinya kang Sofyan sedang mandi, aku merubah posisiku menjadi duduk, tubuhku masih polos tanpa busana. Untungnya Bagja anakku masih terlelap, entah kenapa anak itu sangat pengertian disaat orang tuanya sedang berbuka puasa. Tiba-tiba aku merasa kebelet pipis, dan dengan terburu-buru aku memakai handuk bermodel kimono dan langsung menerobos masuk kedalam kamar mandi.
"Puja... mau apa?" tanya kang Sofyan kaget.
"Pipis" ucapku sambil nyengir kuda. Setelah selesai, aku langsung beranjak untuk keluar dari kamar mandi ini, namun tanganku dengan cepat dicekal oleh kang Sofyan.
"Mau kemana?" tanyanya lembut.
"Keluar lah, mau lihat Bagja" jawabku.
"Mandi bareng, Bagja kan masih tidur" ucapnya dengan suara serak.
"Tapi... Euuummm" belum sempat aku menjawab, kang Sofyan sudah lebih dulu menyambar benda kenyal dan basah milikku. Tangan nakalnya menanggalkan kimono handuukku, lalu dengan cekatan menghidupkan shower sederhana dikamar mandi ini, shower biasa yang tidak sama seperti dihotel-hotel. Kang Sofyan menyandarkan tubuhku kedinding kamar mandi ini. Lalu dengan penuh nafs* melahap kedua bulatan kenyal yang besar dan menantang yang disebutnya seperti balon.
"Kang... eunghh! nanti Bagja bang... un.. emhh!!" ceracauku. Kang Sofyan tak mengidahkan ucapanku dan malah tambah bersemangat menyesap benda kenyal itu dengan semangat, namun hanya permukaannya saja, tidak dengan choco chipnya. Bahaya! nanti bisa-bisa ada kasus, istriku, ibu susu ku! wkwk.
Setelah dirasa puas, kang Sofyan menurunkan wajahnya hingga kini posisinya berjongkok tepat didepan liang kenikmatan milikku. Kang Sofyan memandanginya sebentar, lalu mengusap dan membelai semak-semak indah dibawah sana.
"Kang..." ucapku sensual.
Kang Sofyan tersenyum manis lalu dengan rakus membenamkan wajahnya diantara kedua pahaku. Lidahnya benar-benar memanjakan intiku yang berkedut-kedut kenikmatan. Suara erangan dan gemercik air beradu padu menjadi satu hingga menghasilkan sensasi memabukkan yang luar biasa.
"Udah... uukkhhh!" aku tak tahan, dengan gerakan lidah kang Sofyan dibawah sana. Sampai akhirnya aku mencapai ******* dan tubuhku seketika menengang lalu lemas begitu saja.
"Sekarang giliran akang" bisiknya sensual. Kang Sofyan merenggangkan kedua pahaku dan dengan sekali gerakan menghujamkan miliknya pada intiku.
Jleb!
"Uhhhh!!!" aku memejamkan mataku menahan kenikmatan yang terus diberikan kang Sofyan.
Jrusshh!!
__ADS_1
Jrusshh!!
Jrusshh!!
Kang Sofyan terus memacu memaju mundurkan miliknya yang menusuk tajam intiku.
"Lebih cepat kang..." aku yang tak tahan memintanya untuk segera menuntaskan permainan ini.
"Kamu... Sexy dan luar biasa Puja..." ucapnya dengan suara serak.
"Eungh!! kang..." aku hanya menjawabnya dengan lenguhan.
Jrusshh!!
Jruusshh!!
Jruussshh!!
Cup cup cup
Kang Sofyan menciumi wajahku dengan lembut.
"Makasih, kang Sofyan jadi berasa muda kembali" ucapnya dengan senyum nakal. Aku hanya mengangguk, rasanya sangat lelah, tapi juga puas.
"Ayo mandi, nanti Bagja keburu bangun" ajak kang Sofyan. Aku hanya mengangguk.
********
Pagi harinya, saat hari sudah terang, kami semua berkumpul dimeja makan. Aku berencana pulang kerumah kang Sofyan di ** *****.
"Bi, paman, ini kang Sofyan mau ngajak Puja pulang ke ** *****" ucapku disela-sela sarapan kami. Bibi dan paman saling memandang. Ada raut sedih yang terpancar diwajah mereka.
__ADS_1
"Sebenarnya paman dan bibi pasti akan sangat kehilangan kalau kalian kembali pulang, tapi demi kebaikan dan keutuhan rumah tangga kalian, paman dan bibi tidak bisa melarang. Paman harap kalian sering-sering main kesini dan juga keluarga kalian selalu bahagia" ucap paman dengan mata berkaca.
"Benar itu Puja, Sofyan, kami sudah menganggap kalian seperti anak kandung kami sendiri, dan tentu saja rumah ini akan terasa sepi tanpa keberadaan kalian dirumah ini. Tapi bibi dan paman juga tidak bisa egois karena kalian bebas memilih jalan sendiri" timpal bibi.
"Makasih ya paman, bibi, karena udah jagain Puja selama ini, kalian menyayangi Puja dengan tulus. Puja sangat bersyukur karena bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian" ucapku seraya menyeka sudut mataku yang berair.
"Sofyan juga mau ngucapin terimakasih banyak sama paman dan bibi, karena kalian sudah membantu menjaga Puja selama Sofyan tidak ada disisinya. Entah apa yang akan terjadi dengan Puja, kalau tidak bertemu dengan kalian" tambah kang Sofyan.
"Sama-sama Sofyan. Tolong jaga Puja dengan lebih baik lagi, Puja sudah seperti anak kandung kami sendiri, jadi kami harap kamu jangan mengecewakan kami" Pesan paman.
"Iya paman, Sofyan janji" jawab kang Sofyan. Setelah itu kami melanjutkan sarapan kami dan bercengkrama dan tertawa ria bersama.
Dan akhirnya keesokan harinya kami pulang ke kampung ** *****. Sesampainya dirumah, emak tersemyum menyambut kedatangan kami.
"Puja..." matanya berair saat melihatku yang tengah menggendong Bagja.
"Mak..." aku mencium tangan emak lalu tersenyum hangat.
"Ini cucu emak?" tanyanya sambil melihat Bagja yang tengah tertidur pulas.
"Iya mak" jawabku.
"Ganteng, kayak Sofyan waktu masih bayi" ucap emak sambil mengelus lembut pipi Bagja.
"Ayo masuk. Emak udah beresin kamar kalian, emak juga udah beliin box bayi buat cucu emak" ucap emak antusias.
Setelah itu kami sama-sama masuk kedalam rumah. Saat kami tengah berbincang-bincang, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu depan.
"Assalamualaikum"
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Panas ya...! padahal mendung, awokwok..! jangan Lupa vote, like dan komentar ya, biar author semakin semangat menulis ceritanya.