Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Berpisah


__ADS_3

Sofyan masuk keruangan itu dengan wajah ditekuk.


"Kang, kok sendirian? kang Mahmud mana?" tanya Puja.


"Mahmud pulang." jawab Sofyan.


"Loh kan Risma masih disini?" ucap Puja.


"Mahmud terlanjur kecewa Puja, jadi.. dia tetap dengan keputusannya." ucap Sofyan pelan. Padahal Risma dan Mahmud baru beberapa hari menikah, namun kini pernikahan siri itu berakhir sudah.


"Jadi.. Risma benar-benar dicerai kang? Risma jadi janda?" tanya Risma sambil terisak.


"Maaf Ris, kang Sofyan udah coba bujukin Mahmud tapi dia kekeh. Mungkin kalian emang enggak jodoh mau gimana lagi." jawab Sofyan lesu.


"Hu... hu... " Risma menangis pilu, jiwanya terguncang, bagaimana tidak. Dalam hari yang sama dan waktu yang hampir bersamaan, dia kehilangan janinnya, juga suaminya menceraikan Risma karena kebodohannya sendiri.


"Puja.. Risma harus gimana sekarang. Hu.. hu..." Risma menangis dipelukan Puja. Entahlah Risma merasa memiliki sahabat, selama ini bahkan dia tak punya tempat bersandar, bahkan ibunya sendiri justru malah memaki-maki dirinya. Sedangkan Puja, orang yang selama ini dia benci dan dia rendahkan justru orang yang paling tulus disaat dia kesusahan.


Puja melirik Sofyan, meminta pendapat suaminya. Tapi Sofyan yang juga bingung hanya bisa mengendikkan bahunya.


"Kamu tinggal dirumah kami dulu aja Ris. Tidur dikamar tamu sama bi Yayah, kamu pulihkan dulu tubuh kamu." ucap Puja. Sejujurnya dia berat mengambil keputusan ini, tapi kondisinya Risma tengah stress berat tidak mungkin membiarkan Risma tinggal dirumahnya dengan sosok ibu Risma yang cerewet luar biasa.


"Puja kamu yakin?" tanya Sofyan tak percaya.


"Iya kang, biar dia pulih dulu. Kasihan, enggak mungkin kan dia pulang kerumah Mahmud. Mereka sudah bercerai." jawab Puja.


"Tapi sayang..."


"Enggak apa-apa kang, Puja yakin Risma udah berubah. Puja juga percaya sama kang Sofyan." ucap Puja mantap.


"Puja.. Jangan, aku pulang aja kerumah. Aku enggak mau merepotkan kalian lagi." ucap Risma lirih.


"Enggak apa-apa Ris. Sementara aja, fikiran kamu juga perlu ditenangin supaya kamu bisa berfikir jernih." ucap Puja.


"Terimakasih Puja, maaf selama ini malah memusuhi kamu dan membuat kegaduhan dirumah tangga kamu dan kang Sofyan." ucap Risma lirih.

__ADS_1


"Iya Risma sama-sama." jawab Puja. Setelah itu mereka kembali berpelukan.


//


Risma sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit, Puja dan Sofyan membawanya kerumah mereka. Awalnya emak merasa terkejut, tapi setelah dijelaskan secara pelan-pelan emak akhirnya bisa mengerti dan membolehkan Risma tinggal dirumahnya.


Selama masa pemulihan Risma benar-benar dirawat dengan baik oleh bi Yayah dan emak. Sehingga baru satu minggu tubuhnya sudah kembali fit dan bertenaga. Sofyan sendiri lebih banyak menghabiskan waktu ditambak demi menghindari fitnah dan kesalahfahaman. Ditambah Mahmud yang mogok kerja karena sedang patah hati membuat Sofyan sedikit kelimpungan dan bekerja lebih keras dari biasanya. Puja juga berkorban banyak, rencana liburan mereka akhirnya mundur, dia juga jarang mendapat jatah dari Sofyan karena Sofyan lebih sering menginap ditambak. Tapi Puja mencoba ikhlas dan tak mempermasalahkan hal itu.


Siang itu Risma termenung. Dia mendapat pesan dari Ilyas yang berpamitan padanya jika sore ini Ilyas akan berangkat ke sumatra. Entah kenapa dia merasa sedih dan kehilangan.


"Risma.. ngapain ngelamun disini sendirian?" sapa Puja. Setelah itu dia duduk disamping Risma.


"Enggak apa-apa." jawab Risma.


"Ada apa? cerita aja. Siapa tahu aku bisa bantu." ucap Puja.


"Risma.. Risma dapat sms dari mas Ilyas, katanya sore ini dia mau pulang ke sumatra." jawab Risma lirih.


"Ya bagus dong, itu artinya dia enggak bakalan gangguin kamu lagi." ucap Puja.


"Kamu suka sama mas Ilyas?" tanya Puja to the point.


"Itu.. Risma enggak tahu Puja, Risma juga bingung dengan perasaan Risma sendiri." jawab Risma.


"Kamu sedih dan merasa kehilangan ya mas Ilyas mau pulang ke sumatra?" tanya Puja.


"Iya Puja. Entah kenapa aku sedih banget, aku.."


"Berarti kamu jatuh cinta sama mas Ilyas." ucap Puja.


"Tapi aku takut Puja, aku takut nikah sama mas Ilyas, aku takut bernasib seperti Ratna dan kamu yang dicampakkan." ucap Risma.


"Sebenarnya, dibalik sikap tempramen dan sikap jahatnya dia ke aku dan kak Ratna, aku pernah merasa kalau dia itu orang baik. Dia royal dan enggak perhitungan, tapi ya itu hatinya mudah berpaling. Mungkin selama ini dia terbiasa dengan kesenangan dan memiliki segalanya jadi dia khilaf dan berbuat semena-mena. Aku enggak menampik, aku juga pernah jatuh cinta sama dia, dia cinta pertama aku." jelas Puja.


"Jadi aku harus bagaimana Puja?" tanya Risma.

__ADS_1


"Ya kamu coba temui dia, bicara dari hati ke" hati. Beberapa hari lalu kebetulan aku dapat kabar dari temen aku namanya Wulan, temen manggung aku waktu disumatra. Kata Wulan ibunya sudah meninggal, dan semenjak ibunya meninggal dia jadi banyak berubah, katanya dia kembali kejawa buat ngajak aku balikan. Tapi mungkin karena kecewa aku nikah dengan kang Sofyan dia kembali berbuat nekad. Tapi yang aku lihat kemarin saat dirumah sakit, sepertinya dia terlihat tulus sama kamu Risma." ucap Puja. Risma terkesiap.


"Tapi kamu udah enggak ada perasaan apa-apa kan sama mas Ilyas?" tanya Risma.


"Ya enggaklah. Udah penuh sama cintanya kang Sofyan. Sampai luber-luber malahan." jawab Puja terkekeh.


"Iya lah, siapa yang bisa nolak pesona kang Sofyan. Aku aja sampai bertahun enggak bisa move on." celetuk Risma.


"Ish nyebelin kamu mah! awas aja kalau jadi ulet bulu lagi!" ucap Puja mengancam.


"Hehe.. ya ampun Puja segitunya cemburu. Takut banget yah kehilangan kang Sofyan. Tapi emang kang Sofyan itu spesial sih." goda Risma.


"ih udah ah, jangan bahas-bahas suami aku. Nanti telinganya sakit gara-gara diomongin." ucap Puja.


"Iya iya enggak.. hehe.." Risma terkekeh geli. Sikap manja Puja membuatnya gemas. Dia saja gemas, apalagi Sofyan, wajar sampai dia tergila-gila pada biduan satu ini.


"Ya udah ayo kita berangkat. Entar keburu mas Ilyas beragkat ke sumatra." ucap Puja.


"Kita naik apa kesananya? aku sama kamu kan enggak bisa naik motor. Tempatnya juga lumayan jauh." ucap Risma.


"Aku coba telfon kang Sofyan." ucap Puja sembari mengeluarkan ponselnya dari sakunya.


Namun baru akan menelfon Sofyan bunyi motor terdengar dari halaman depan rumahnya.


"Ah, panjang umur. Yang ditungguin dateng." ucap Puja. Risma ikut senang. Lalu mengekor dibelakang Puja menyambut Sofyan.


"Sayaaaang. Cup!" Puja menghadiahi Sofyan cengan kecupan singkat dibibirnya. Dengan manja dan tak tahu malu dia melingkarkan tangannya dileher Sofyan.


"Malu atuh sayang ada orang." ucap Sofyan sembari melepas pelukan Puja.


"Biarin aja, biar dia cemburu!" ceplos Puja.


"Ish! siapa juga yang cemburu. Enggak lah." jawab Risma.


"Baguss! tahu diri. Tuh denger kang, dia udah tahu diri, jadi biasa aja enggak usah malu-malu." ucap Puja. Sofyan mati kutu. Benar-benar Puja sangat nakal!

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2