
"Sayang, Vino kok enggak diajak nginep di sini?" tanya Risma yang sejak tadi merasa janggal karena Alya kekeh ingin ikut pulang bersama kerumahnya.
"Vino masih kangen sama mamah Puja," jawab Alya.
"Emang betah tidur sendirian tanpa suami?" tanya Risma yang mencoba menggali informasi dari Alya, dia ingin tahu sudah sejauh mana kedekatan dan ikatan cinta anaknya dan menantunya itu. Risma sempat khawatir jika pernikahan anaknya yang tanpa didasari oleh cinta itu akan berakhir tak seperti yang diharapkan.
"Em.. ya betah betah aja Umi, kayak anak kecil aja kalau tidur minta ditemenin," ucap Alya.
"Umi, maaf ya Alya duluan ke kamar mau istirahat, capek banget Mi," ucap Alya dengan wajah memohon. Alya merasa tak nyaman saat Risma terus menanyainya perihal Vino. Dia takut keceplosan ataupun salah bicara dan pada akhirnya malah membuat orangtua-nya jadi kepikiran. Alya tak ingin itu semua terjadi, kesehatan mereka nomor satu. Tapi Alya tak menyadari jika feeling seorang ibu tak pernah salah. Dan saat ini Risma tengah merasakan kegundahan dan perasaan tak enak.
"Ya udah, istirahatlah," ucap Risma sambik mengelus rambut Alya dengan lembut.
Setelah itu Alya beranjak ke kamarnya untuk merebahkan diri dan melepas sejenak rasa penat dan lelahnya, lelah fisik, lelah hati dan fikirannya. Tanpa tahu semalaman Vino tak dapat memejamkan matanya barang sejenak. Dia dilanda gelisah galau merana. Karena Alya tak berada di sampingnya.
//
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ikhsan sudah datang menjemput Alya kerumah Ilyas dan Risma. Dia berencana mengajak Alya jalan-jalan seperti janjinya kemarin yang akan mentraktir Alya dan membelikan apapun yang diinginkan adik perempuannya itu. Karena sudah lama sekali mereka tak pernah jalan berdua sebagai saudara kandung.
"Pagi-pagi banget datangnya Bang, agak siangan aja," ucap Alya saat menyambut kedatangan Ikhsan.
"Kamu kan tahu kalau Abang sibuk Dek, dan pagi ini adalah waktu senggangnya Abang," ucap Ikhsan.
"Ooh, tapi kalau mengganggu enggak jadi juga enggak apa-apa kok jalan-jalannya," ucap Alya.
"Enggak kok, kamu tenang aja, Abang mau sekalian kenalin kamu sama seseorang," bisik Ikhsan.
"Siapa Bang?" tanya Alya penasaran.
"Calon Kakak ipar kamu," ucap Ikhsan pelan.
"Yang bener??" Alya memekik senang.
__ADS_1
"Abi udah tahu kalau Abang udah punya pacar? Alya kasih tahu ya," ucap Alya antusias.
"Jangan dulu, nanti aja kalau memang sudah benar-benar siap," tahan Ikhsan.
"Kenapa? Abi pasti seneng banget dengernya," tanya Alya.
"Abang enggak mau terburu-buru Dek, santai aja, semua ada prosesnya," ucap Ikhsan.
"Ya udah deh kalau gitu," ucap Alya.
Tidak lama setelah itu Alya dan Ikhsan berangkat menuju kota Bandung untuk berjalan-jalan sekaligus mengenalkan Alya pada calon istri Ikhsan.
//
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya mereka sampai disebuah cafe mewah yang cukup terkenal dikota Bandung.
"Mau makan apa, pesen aja," ucap Ikhsan saat mereka sudah sama-sama duduk di kursi cafe itu.
"Takutnya lama, udah pesen dulu aja, minuman juga enggak apa-apa," ucap Ikhsan.
"Ya udah, Alya pesan jus Alpukat aja," ucap Alya. Setelah itu Ikhsan langsung memanggil pelayan dan memesankan satu jus Alpukat untuk Alya, satu jus Strawberry untuk kekasihnya dan satu jus Jeruk untuknya.
"Oh iya, ceweknya Abang orang mana?" tanya Alya penasaran.
"Orang Bandung sini, tapi ada campuran Belanda," ucap Ikhsan sambil tersenyum.
"Wooww! selera abang yang bule-bule rupanya, sama seperti Bibi Ratna," ucap Alya.
"Ya enggak juga, wajahnya malah enggak ada bule-nya sama sekali. Oriental Indonesia," ucap Ikhsan.
"Tapi tetep aja kepincutnya sama yang belasteran," ucap Alya.
__ADS_1
"Ga apa-apa lah untuk memperbaiki keturunan," ucap Ikhsan.
"Ikhsan! apa kabar?" sapa seorang lelaki yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Ikhsan menoleh dan begitu terkejut saat melihat wajah pria itu. Dia Damar, teman Ikhsan semasa kuliah dulu.
"Damar?! wah kebetulan banget ada di sini, ayo duduk," ucap Ikhsan mempersilahkan, namun sebelum itu mereka berpelukan sebentar untuk melepas rindu karena sudah lama sekali mereka tak bertemu, karena Ikhsan melanjutkan S2 ke luar negeri, sementara Damar langsung bekerja di perusahaan yang cukup ternama.
"Saya enggak ganggu kalian nih?" tanya Damar sambil melirik Alya.
"Enggak kok, oh iya kenalin ini Adik saya, namanya Alya. Dan Alya ini Damar temen kuliah Abang dulu," ucap Ikhsan memperkenalkan keduanya.
Alya dan Damar saling berjabat tangan, lalu saling berkenalan dengan singkat. Karena tidak lama setelah itu Kayshilla, yang merupakan kekasih Ikhsan datang ketempat itu.
"Sayang," ucap Kaysila dengan wajah sumringah.
Ikhsan hanya tersenyum kemudian mengajak Kayshilla untuk ikut duduk bergabung bersama yang lainnya.
"Al, Damar, Ini Kayshilla calon istri Bang Ikhsan," ucap Ikhsan memperkenalkan.
"Hai ... kamu pasti Alya, Adik perempuan Ikhsan kan? cantik sekali, manis seperti Abang kamu," ucap Shilla sambil melirik Ikhsan.
"Terimakasih kak. Kak Shilla juga cantik banget, pantesan Bang Ikhsan sampai kepicut sama Kakak," ucap Alya yang tak mau kalah memuji Shilla.
"Kalau ini siapa? Pacar kamu?" tunjuk Shilla kepada Damar.
"Bukan Sayang, Alya sudah menikah," ucap Ikhsan.
"Oh, jadi ini Suaminya?" tebak Shilla.
"Bukan, bukan yang ini," ucap Alya yang ikut menimpali, dia tak nyaman karena disandingkan dengan pria lain. Padahal Vino tak berada di sana, tapi entah kenapa dia merasa harus menjaga perasaan Vino dimanapun berada. Ada atau tidak ada Vino di sisinya.
Sementara Damar menatap Alya dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
[Oh, jadi ini yang namanya Alya]