Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Kembali Patah


__ADS_3

Ditempat lainnya Dila tengah meraung menangisi nasibnya, dia tidak menyangka jika Bagja akan menyelingkuhinya.


"Aa kenapa tega sama Dila? Dila salah apa? kenapa A Bagja jahat banget!!" Dila memukul-mukul bonekanya yang dia peluk, dia membayangkan jika boneka itu adalah Bagja, sehingga dia memukulnya dengan kuat.


"Dasar jahat! tukang selingkuh! penghianat! Dila benci sama A Bagja!" Dila terus memukul dan memaki boneka itu.


Tok tok tok!


"Dil, Dila kamu kenapa?" Alya dan Vino yang baru saja pulang selepas makan siang terkejut mendengar teriakkan dari kamar Dila. Dila mengelap air matanya kemudian membukakan pintu untuk Alya.


Klek!


"Dil kamu kenapa?" Vino yang panik saat melihat Dila menangis langsung menerobos masuk dan membawa Dila ke dalam pelukannya tanpa memikirkan perasaan Alya. Dila menangis sesenggukan, sungguh saat ini dia membutuhkan tempat untuk bersandar mencurahkan rasa sakit hatinya.


"Kamu tenang ya, aku disini." ucap Vino sambil mengelus lembut rambut Dila. Alya mengepalkan tangannya, pemandangan didepannya ini sungguh menyesakkan dada. Terlihat jelas bagaimana Vino begitu menghawatirkan Dila, Vino juga seperti sangat menyayangi Dila. Atau mungkin Vino memang mencintai Dila? Alya tak kuasa melihat semua ini, dia berbalik dan berlari menuju kamarnya. Lalu menutup pintu rapat-rapat dan menumpahkan semua kesedihannya. Dia tak menyangka jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Lalu apa artinya selama ini? sikap manis Vino, sikap baik Vino dan malam-malam panas yang telah mereka lewati bersama. Apa semuanya hanya sekedar kebutuhan batin? atau hanya rasa kasihan. Ah, semuanya pasti benar, Vino hanya butuh dia untuk melampiaskan nafsuunya dan juga merasa kasihan padanya. Kini, bukan hanya Dila yang merasakan sakit hati, tapi Alya juga.


Sementara itu Dila yang sudah mulai mereda melepas pelukan itu, dia baru menyadari jika sejak tadi yang dipeluk adalah Vino, padahal yang dibayangkannya adalah Bagja.


"Makasih Vin, sebaiknya kamu balik ke kos-kosan kamu." ucap Dila sambil menyeka air matanya.


"Kamu lagi ada masalah apa sih Dil? coba cerita." ucap Vino.


"Bukan apa-apa." jawab Dila.


"Kalau bukan apa-apa, enggak mungkin kamu sampai nangis kencang banget." ucap Vino.


"Aku emang lagi ada masalah tapi semua itu enggak ada urusannya sama kamu, jadi lebih baik kamu enggak usah ikut campur." jawab Dila.


'"Apa A Bagja yang nyakitin kamu?" tebak Vino.


"Aku udah bilang ini bukan urusan kamu, udahlah Vin. Aku butuh waktu untuk sendiri." ucap Dila.


"Apapun urusan kamu itu akan jadi urusan aku Dil karena..."

__ADS_1


"Karena apa?" tanya Dila.


"Karena... aku..."


Brakk!!


Dila menutup pintunya dengan kencang, tak ingin mendengar ucapan Vino yang arahnya sudah terbaca. Dila tak ingin jadi orang ketiga antara Vino dan Alya.


"Dil, buka pintunya aku belum selesai ngomong." Vino terus saja menggedor-gedor pintu kamar Dila.


Dila tak memperdulikannya, dia menyalakan lagu diponselnya dan memasang earphone di telinganya. Lama kelamaan Dila tertidur karena kelelahan sehabis menangis.


//


Bagja telah sampai dihalaman kos-kosan Dila, dengan tergesa dia berjalan menuju kamar Dila. Namun ternyata disana ada Vino yang tengah duduk didepan pintu kamar Dila.


"Vin, ngapain kamu disini" tanya Bagja sambil menepuk pundak Vino karena Vino tengah menunduk. Vino tersadar dari lamunannya, dan menengok ke arah sumber suara. Dia menatap benci pada Bagja yang baru saja datang.


"Lo apain Dila? kenapa dia sampai nangis gitu!" ucap Vino emosi.


"Jelasin ke gue, lo apain Dila!" kini Vino berteriak lebih keras hingga penghuni kos lainnya keluar, termasuk Alya yang juga melihat keributan kakak beradik itu. Dila yang tengah tertidur pun terbangun saat mendengar teriakan Vino.


Bagja menahan amarahnya karena tak ingin ada keributan, terlebih dia dan Vino kakak beradik.


"Mau ada masalah apapun antara kakak dan Dila itu bukan urusan kamu. Jadi jangan ikut campur urusan rumah tangga orang." ucap Bagja dingin.


"Gue ngerelain Dila nikah sama elo bukan untuk disakiti! gue berharap dia bahagia, tapi apa yang gue lihat, baru seminggu nikah lo udah nyakitin perasaan Dia, lo udah buat dia nangis!" ucap Vino dengan keras.


"Terus urusannya sama kamu apa?!" tanya Bagja.


"Ya gue enggak terima lah, gue cinta sama Dila! dan kalau lo enggak bisa bahagiain dia, jangan salahin gue ngerebut Dila dari elo!" ucap Vino lantang.


Bugh!

__ADS_1


"Sialan!" Bagja akhirnya tersulut emosi. Amarahnya meledak ketika Vino mengatakan jika Vino mencintai Dila dan akan merebut Dila darinya. Tak hanya Bagja, ditempat lain Alya merasa seperti tersambar petir saat mendengar ucapan Vino barusan. Hatinya seperti tersayat belati tajam.


Vino yang sempat tersungkur akhirny bangkit dan hendak membalas pukulan Bagja namun tiba-tiba Dila membuka pintu kamarnya.


"Vino! stop!" Dila terlihat begitu marah. Ya, dia memang marah, bagaimana bisa Vino mengatakan semua itu dihadapan semua orang, apalagi ada Alya, istrinya. Dila tak dapat membayangkan bagaimana sakitnya Alya saat ini.


"Dil, akhirnya kamu keluar." ucap Vino yang hendak mendekat kearah Dila, namun secepat kilat Bagja mendorongnya.


"Lebih baik kamu pergi Vin! balik ke kamar kamu! jangan buat keributan disini!" usir Dila.


"Tapi Dil..." Vino memelas.


"Aku bilang pergi Vin! aku enggak mau lihat muka kamu!'' ucap Dila sambil menangis. Vino terpaksa pergi dari sana dengan membawa luka hatinya, dia merasa hancur saat ini, tanpa disadari nya ada hati yang jauh lebih hancur dari pada dirinya. Dia Alya, istrinya.


"Mau ngapain kamu kesini?!" tanya Dila dengan tatapan marah.


"A Bagja kesini mau ngejelasin semunya sayang." ucap Bagja.


"Enggak ada yang perlu dijelasin, semuanya udah jelas! A Bagja urus aja perceraian kita!" ucap Dila dengan mata memerah.


"Kamu ngomong apa sih Dil, kenapa ngomong nya ngelantur gitu! sampai jadi tanah pun aa enggak akan menceraikan kamu, selamanya kamu akan tetap jadi istri A Bagja." ucap Bagja.


"Dasar laki-laki serakah! udah seligkuh masih aja enggak mau ngalah, maunya punya dua biar bisa jadi serep gitu?!" ucap Dila pedas. Bagja makin gemas mendengar ucapan Dila, karena kecemburuannya Dila sampai mengatainya tukang selingkuh, padahal demi apapun Bagja rela bersumpah jika Dila satu-satunya wanita yang berhasil menggetarkan hatinya.


"Terus aja nuduh suami yang enggak-enggak, kamu berdosa Dil memfitnah suami sendiri." ucap Bagja sambil mencoba meraih tangan Dila, namun Dila menepis kasar tangan itu, kemudian dia masuk kedalam kamar kosnya dan hendak menutup pintu. Tapi Bagja menahan pintu itu dengan kakinya dan menerobos masuk kedalam.


Brak!


Pintu dikunci dari dalam, Bagja dan Dila sudah sama-sama berada dikamar Dila.


"Aa mau apa kesini?!" tanya Dila dengan tatapan marah.


"Mau bikin kamu hamil," Jawab Bagja santai.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2