
"Loh kangen bapak? tiap hari juga ketemu, ada apa cerita sama bapak." ucap Mahmud.
"Enggak ada apa-apa. Dila cuma mau main ke tambak aja." jawab Dila. Mahmud tahu jika anaknya itu sedang ada masalah, tapi Dila menutupinya dengan mencoba tersenyum.
"Ya udah, apa mau bakar ikan ditambak?" tawar Mahmud.
"Iya Pak Dila mau." jawab Dila cepat.
"Ya udah ayo kita kesana." ajak Mahmud.
Setelah mereka sampai ke saung apung milik Sofyan, Dila langsung masuk kedalam kamar, tapi ternyata disana sudah ada Vino dan Sofyan yang sedang beristirahat.
"Loh, sama siapa kesini Dila?" tanya Sofyan yang langsung bangkit dari tidurnya.
"Sama bapak, ayah lanjut aja istirahatnya, Dila nunggu diluar aja, lagian Dila mau bakar ikan sama bapak." jawab Dila.
"Oh iya atuh, Vin bantuin om Mahmud sana, bakar-bakar ikan sama Dila." titah Sofyan.
"Males. Bosen makan ikan mulu." ucap Vino sambil terus memainkan ponselnya.
"Dasar bedegong!" ucap Sofyan. Vino tak menggubris dan memilih fokus menonton film kesukaannya.
Sementara Dila menatap nanar pada hamparan air yang terlihat tenang dan hanya ada riak kecil-kecil karena tersapu angin. Suasana disini begitu menenangkan. Mahmud melihat dari kejauhan, sepertinya Dila sedang patah hati, tapi patah hati pada siapa? hingga akhirnya ikan bakar itu matang, Mahmud langsung memanggil Velia.
"Neng, ayo makan dulu ini udah mateng ikannya." ucap Mahmud. Dila yang masih melamun tak menjawab.
"Neng Dila!" Mahmud berteriak sedikit kencang hingga akhirnya Dila tersadar.
"Eh, iya pak." Dila tersadar lalu buru-buru menghampiri Mahmud.
"Mikirin apa sih neng?" tanya Mahmud.
"Enggak mikirin apa-apa kok pak." jawab Dila cepat.
"Apa anak bapak yang geulis ini sedang patah hati?" tanya Mahmud.
"Bapak ngomong apa sih, enggak lah." ucap Dila menyangkal.
"Jangan bohong. Coba kasih tahu bapak, siapa laki-laki yang udah nolak anak bapak yang paling cantik secirata ini?" tanya Mahmud.
"Bukan siapa-siapa pak. Udah ah Dila mau makan dulu, udah laper nih." ucap Dila yang langsung melahap ikan bakarnya setelah mencuci tangannya terlebih dahulu.
"Wah wah makan enggak ajak-ajak!" Vino tiba-tiba keluar dan ikut bergabung bersama Mahmud dan Dila.
"Biarin! bakar sendiri kalau mau!" ucap Dila.
"Minta atuh Dil, jangan pelit, nanti kuburannya sempit." ucap Vino yang langsung menyerobot ikan didepan Dila.
"Jangan kepalanya, itu kesukaan Dila iihh!!" ucap Dila memukul lengan Vino.
"Tapi aku juga suka kepalanya." ucap Vino tak mau kalah. Dan pada akhirnya merek berebut kepala ikan.
//
Malam hari dirumah Sofyan kini mereka berkumpul untuk makan malam bersama.
"Mah, tahu enggak tadi Dila ke saung, bakar ikan terus rebutan kepala ikan sama Vino. Eh dia kalah terus meweek!" ucap Vino mengejek.
__ADS_1
"Ya ampun harusnya kamu ngalah atuh sama calon istri." ucap Puja.
Uhuukk!!
Bagja terbatuk. Apa katanya tadi calon istri? bukannya Dila calon istrinya? kenapa jadi calon istri Vino?
"Kok calon istri Vino mah?" tanya Bagja.
"Ya terus calon istri siapa? calon istri kamu gitu? ya enggak atuh kasep. Kan calon istri kamu mah si Alya." ucap Puja.
"Alya?" Bagja terkejut.
"Iya sayang, Alya." jawab Puja.
"Tapi mah, Bagja.."
"Tadi malam kan kamu udah setuju dan minggu ini juga kalian akan segera tunangan." ucap Puja.
"Apa?!!" Bagja bertambah kaget. Sungguh ini diluar ekspektasinya.
"Mah, ini sepertinya ada..."
"Jadi kak Bagja mau tunangan sama Alya? terus Vino kapan sama Dila? masa kakak aja yang dinikahin Vino enggak." sela Vino.
"Memang kamu mau sama Dila?" tanya Puja.
"Ya kalau mamah maksa Vino enggak nolak." jawab Vino sambil senyum mesam-mesem.
"Beuuhh selama ini aja pura-pura jahil, Pura-pura nolak ngejek-ngejek. Tahunya diam-diam suka." goda Puja.
"Dasarrr!! belajar dulu yang bener, habis lulus dan dapet kerjaan baru kalian nikah." ucap Puja.
"Kelamaan atuh mah, kak Bagja aja cepet lah Vino??" ucap Vino tak mau kalah.
"Kamu laki-laki Vino, anak istri kamu nanti mau dikasih makan apa kalau kamu masih kuliah dan belum ada kerjaan. Kalau Bagja kan sudah kerja." ucap Puja.
"Ya udah oke! Vino janji mah bakalan belajar yang rajin." ucap Vino dengan semangat.
"Nah gitu dong, itu baru anak mamah." ucap Puja.
"Mah, Bagja Ke kamar duluan. Masih ada kerjaan." ucap Bagja dengan wajah lesu. Puja dan Vino tak menggubris, tapi Sofyan dapat melihat kekecewaan dimata anak sulungnya itu.
'Apa jangan-jangan... Astagfirullah!' batin Sofyan.
"Mah, apa mamah udah kasih tahu Risma kalau Bagja sudah setuju?" tanya Sofyan.
"Udah tadi siang pah." ucap Puja.
"Dan mereka minta tunangannya diadakan minggu ini, karena kan minggu depan Alya udah mulai masuk kuliah." ucap Puja.
"Sepertinya kita harus bicara mah." ucap Sofyan.
"Bicara apa?" tanya Puja.
"Ayah tunggu dikamar." ucap Sofyan dingin.
//
__ADS_1
"Kenapa jadi begini sih! aghh sialan!"
Bugh!
Bagja menendang kasurnya untuk melupakan emosinya. Dia berfikir keras bagaimana caranya agar perjodohan ini batal karena ternyata wanita yang dijodohkan dengannya bukanlah Dila melainkan Alya. Setelah sekian lama berfikir akhrinya Bagja menemukan ide. Dia ingin menghubungi Alya tapi tidak punya nomornya dan akhrinya dia meminta kepada Dila karena merasa malu jika minta kepada Puja.
(Udah tidur?)
Ting
(Tumben WA, ada apa?) Dila.
(A Bagja mau minta nomornya Alya, kamu punya kan?) Bagja.
Ting
(Ada, ini 08xxxxxxxxxx) Dila.
(Makasih, kenapa belum tidur?) Bagja.
ting
(Belum ngantuk)
(Dipaksa, jangan suka begadang. Enggak bagus buat kesehatan) Bagja.
Ting
(Udah tahu, enggak usah di kasih tahu) Dila.
(Ya udah dikasih tempe aja kalau enggak mau tahu) Bagja.
ting
(ish nyebelin!) Dila.
Bagja tak membalas lagi karena dia harus menghubungi Alya secepatnya untuk membicarakan perjodohan salah alamat ini. Sedangkan disana Dila tengah menangis sesegukan karena dengan terang-terangan Bagja minta nomor handphone Alya. Pupus sudah harapannya, Dila benar-benar patah hati.
//
"Mah, kamu yakin Bagja suka sama Alya?" tanya Sofyan ketika mereka sudah sama-sam didalam kamar.
"Ya iya atuh yah, kemarin kan dia setuju." ucap Puja.
"Yakin enggak salah alamat? karena tadi ayah lihat Bagja seperti salah faham dan terkejut saat mamah ngomong kalau calon istrinya itu Alya." ucap Sofyan.
"Enggak lah yah, enggak mungkin salah faham, udah jelas kemarin mamah bilang kalau mamah mau jodohin Bagja dengan anak sahabat mamah" jelas Puja.
"Mamah pasti enggak bilang kalau anak sahabat mamah yang dimaksud itu Alya, bukan Dila." tebak Sofyan.
"Loh kok jadi Dila?" tanya Puja.
"Karena Dila kan juga anak sahabat mamah." ucap Sofyan dengan wajah memerah.
"Ya Allah, ayah bener. Aduh gimana ini. Sebentar mamah tanya Bagja dulu." ucap Puja gelagapan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1