Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Permintaan emak


__ADS_3

Akhirnya hari itu aku dan kang Sofyan memutuskan untuk menginap dikamar hotel terdekat, kang Sofyan memesan kamar yang lumayan mahal. Aku sampai terlonjak kaget saat memasuki kamar itu.


"Kang, ini kamarnya pasti mahal deh" ucapku saat memasuki kamar hotel itu. Aku memindainya kesetiap sudut ruangan, jelas sekali dari fasilitas dan juga furniture dikamar itu bukanlah kamar dengan harga sewa yang hanya ratusan ribu.


"Emang kenapa kalau mahal?" tanya kang Sofyan sambil meletakkan barang belanjaan kami diatas meja.


"Ya sayang dong kang, kalau hanya semalam ngabisin uang sampai jutaan" ucapku sembari berbaring dikasur empuk itu untuk melepas lelah setelah seharian berkeliling mall.


"Yang penting uangnya kan ada, enggak hutang" ucap kang Sofyan enteng.


Aku bangkit dan duduk dibelakang kang Sofyan, lalu memeluknya dari belakang dan wajahku ku senderkan dipundaknya.


"Suami Puja ternyata duitnya banyak juga ya, boleh dong minta ATM nya satu" godaku sambil berbisik ditelinganya.


"Boleh, nanti kang Sofyan kasih yang paling banyak isinya. Tapi... akang minta dipuasin malam ini. Pokoknya akang mau bikin Puja lemes dan enggak bisa jalan" bisiknya ditelingaku yang langsung membuatku bergidik ngeri. Ish! kenapa jadi ngeri-ngeri sedep gini!


Dan akhirnya malam itu terjadilah peperangan panas diantara kami, berbagai macam gaya dilakukan, gaya kupu-kupu, gaya bebas, gaya batu, gaya kodok melompat, gaya kucing ngamuk, jungkir balik pokoknya semua oke!. dan lain-lain. Pokonya kasurnya tak berhenti bergoyang-goyang mengikuti irama dan alunan cinta yang sedang kami semai. Mencetak Sop ayam junior yang akan menetas menjadi sop iga sapi. Enaaakk!!


Apalagi kang Sofyan memintaku untuk memakai baju dinas yang dipilihnya saat di mall tadi. Dari yang model macan, jaring laba-laba, merah menantang, putih nerawang, hitam menggoda, semua dicoba sampai akhirnya rahimku terasa hangat karena terlalu banyak menampung jentik-jentik nakal milik Sofyan Ali. Jangan tanyakan bagaimana kondisi kamar itu, pokoknya mengerikan! Luar biasa! Menakjubkan!


*********

__ADS_1


Keesokan harinya aku dan kang Sofyan akhirnya pulang kerumah, setelah sebelumnya tarik ulur karena kang Sofyan ingin memperpanjang sewa kamar kami dihotel itu.


"Kemarin dari mana aja, kok baru pulang?" tanya emak.


"Habis bulan madu dadakan mak" jawab kang Sofyan sambil tersenyum sumringah. Aku sangat malu pada emak, dan hanya menundukkan wajahku saat emak menatapku.


"Sofyan, ada yang mau emak sama bapak omongin" ucap emak serius.


"Iya mak, Sofyan sama Puja ke kamar sebentar, nanti Sofyan kesini lagi" jawab kang Sofyan. Setelah itu kang Sofyan mengantarku ke kamar. Sesampainya dikamar, kang Sofyan mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.


"Ini buat Puja, pinnya udah akang ganti jadi tanggal pernikahan kita" ucapnya.


"Apa ini kang?" tanyaku.


"Iih, Puja cuma bercanda kok, akang simpen aja" ucapku.


"Enggak, ini buat Puja, buat istri kang Sofyan. Ini uang hasil kerja keras akang selama ini, kang Sofyan akan sangat bangga kalau Puja yang make uang ini buat keperluan Puja" ucapnya.


"Tapi..."


"Udah simpen, kang Sofyan masih ada kok, kalau mau apa-apa tinggal gesek pake itu ya" pesannya. Karena kang Sofyan terus memaksa, akhirnya aku menerimanya dan menyimpannya didalam dompet.

__ADS_1


"Makasih ya kang" ucapku sembari mengecup pipi kanannya.


"Iya sayang, ya udah Puja istirahat dulu, kang Sofyan mau nemuin emak sama bapak dulu, katanya ada yang mau diomongin" ucapnya.


"Iya kang" aku mengangguk patuh.


Kang Sofyan akhirnya pergi menemui emak dan bapak diruang tengah, aku sendiri merebahkan diri dikasur untuk melepas lelah setelah semalaman berperang dengan kang Sofyan. Namun tiba-tiba saat tengah asyik memainkan ponselku, aku merasa haus. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dapur, namun, saat hendak melewati ruang tengah, aku tidak sengaja mendengar obrolan emak, bapak, dan kang Sofyan.


"Emak mohon Sofyan, tolong emak dan bapak kali ini saja, nikahi Risma" ucap emak sambil terisak.


"Mak, emak kan tahu Sofyan udah nikah sama Puja mak, Sofyan enggak mau nyakitin hati Puja dengan menikah lagi. Puja pasti enggak terima" ucap kang Sofyan.


"Puja jangan sampai tahu, kamu nikah diam-diam aja Sofyan, kasian Risma, abahnya sakit keras, dan berwasiat kepada emak dan bapak, meminta kamu untuk menikahi anaknya, abahnya Risma meminta imbalan atas hutang budi emak dan bapak selama ini. Kamu tau sendiri, selama ini abahnya Risma banyak bantu kita saat sedang kesulitan. Apalagi abahnya Risma yang udah donorin sebelah ginjalnya untuk bapak kamu" jelas emak.


"Emak sama bapak kenapa sih, kenapa jadi egois, emak enggak mikirin perasaan Puja? mak, Sofyan udah cinta sama Puja, dan Sofyan enggak akan mau nyakitin hatinya Puja mak" ucap kang Sofyan dengan mata memerah.


"Emak mohon Sofyan, mereka enggak pernah minta imbalan apapun selama ini, mereka hanya minta satu hal, hanya minta kamu untuk nikahin Risma, mereka ikhlas jika Risma menjadi istri kedua kamu dan Risma sendiri katanya ikhlas berbagi suami" jelas emak.


"Sofyan enggak mau mak! Risma ikhlas, tapi Puja pasti enggak mau mak. Tolong mak, jangan hancurin pernikahan Sofyan dengan Puja mak. Sofyan enggak mau. Jangan paksa Sofyan mak" ucap kang Sofyan mengiba.


"Emak mohon Sofyan, emak mohon kali ini aja Sofyan... hu... hu.." emak menangis, sementara bapak menyusut kedua sudut matanya yang berair.

__ADS_1


Aku sendiri sudah menangis sesegukan saat mendengar penuturan emak yang meminta kang Sofyan menikahi Risma sebagai istri keduanya. Rasanya sangat sesak, kenapa jadi begini, baru saja kami menikmati manis madu pernikahan, baru saja kami saling mencinta dan mendamba, baru saja kami saling bahagia, dengan secepat kilat ujian berat datang mendera. Tubuhku luruh ke lantai dan menyender ketembok, aku menangis dalam diam. Sungguh, aku tidak sanggup jika harus berbagi suami dengan wanita lain!


"Puja...!"


__ADS_2