
"Kita mau kemana sih a?" tanya Dila, karena sudah hampir empat jam Mereka belum juga sampai ditempat yang dituju.
"Bukit bintang, melihat pemandangan dari atas bukit. Tapi sebelum itu kita chek in ke hotel dulu. Istirahat, karena kesananya malam hari." ucap Bagja.
"Tapi a, besok kan a Bagja udah mulai masuk kerja." ucap Dila.
"Ya dikebut aja sayang, jam 9 malam kita pulang." ucap Bagja.
"A Bagja emang enggak capek?" tanya Dila.
"Enggak sayang, sekaligus aa pengen honeymoon singkat, karena kalau udah masuk kerja entah kapan lagi kita bisa jalan-jalan begini. Kamu juga sebentar lagi masuk kuliah." ucap Bagja sambil menggenggam tangan Dila dengan erat.
"Makasih ya A, i love you." ucap Dila manja. Bagja hanya tersenyum.
"Kok enggak dijawab?" ucap Dila sambil mengerucutkan bibirnya.
"Enggak perlu di jawab kamu juga pasti udah tahu." ucap Bagja.
"Tapi Dila pengennya a Bagja jawab, biar enggak dikira bertepuk sebelah tangan." ucap Dila.
"Oke, Oke.. i love you too much Dila." jawab Bagja.
"Emm cenengnya....!" ucap Dila manja.
//
Sementara di tempat lainnya, Vino tengah merenung di warung kecil sambil menikmati pemandangan sekaligus sarapannya. Sedangkan Alya sedang tidur karena kelelahan setelah semalam begadang karena digempur habis-habisan.
"Vin, lo kemana aja semalam? dicariin juga. Susan ngambek tuh." ucap Anwar teman Vino.
"Alya sakit, dia alergi dingin," jawab Vino.
"Duh! tahu gitu ngapa diajak berenang? lagian ngapain pake bawa-bawa dia segala, susan ngambek tuh" ucap Anwar lagi.
"Biarin lah, males gue ditemplokin Susan mulu. Udah kayak cicak aja." ucap Vino.
"Nanti malam jadi dong kita barbequean?" tanya Anwar.
"Iya jadilah, tenang aja." ucap Vino.
__ADS_1
"Vin, kamu disini ternyata." ucap Susan yang tiba-tiba datang.
"Hm!" jawab Vino singkat.
"Semalam kemana? kenapa pulang duluan! aku nyari-nyari tahu enggak sih." ucap Susan dengan mengerucutkan bibirnya.
"Nganter Alya, dia sakit alergi dingin." jawab Vino menjelaskan.
"Biarin aja kali, ngapain kamu perduli?" tanya Susan sinis.
"Terus kalau bukan aku yang nolongin siapa? dia kan istri aku, sudah sewajarnya kalau aku perduli sama dia." ucap Vino.
"Tapi kan kalian nikah hanya sebatas kesepakatan aja." ucap Susan tak terima.
"Udahlah, aku lagi males diganggu. Jangan bikin mood aku jelek!" ucap Vino sambil menyeruput kopinya.
"Udah salah enggak mau minta maaf, keterlaluan banget sih kamu Vin! nyesel tahu enggak aku ikut kesini!" ucap Susah dengan nada kecewa.
"Aku enggak maksa kamu untuk ikut, kamu sendiri yang mau ikut, inget ya, aku udah bilang sejak awal, aku enggak suka diatur-atur dan enggak suka menjalin hubungan yang ribet! kalau suka jalanin enggak ya kita end aja!" ucap Vino kesal, karena Susan sudah merusak paginya.
"Enggak, aku enggak mau, aku minta maaf Vin, aku..." belum sempat Susan menyelesaikan ucapannya Vino sudah pergi dari tempat itu menuju Villanya. Susan mengejar Vino, tak ingin hubungannya dan Vino berakhir sia-sia.
"Vin, please... jangan begini, aku minta maaf." ucap Susan yang akhirnya berhasil menahan tangan Vino yang hendak masuk ke dalam Villa.
"Tapi aku minta maaf Vin, jangan gini dong, aku cinta sama kamu Vin. Please...!" Susan mengiba, membuat Vino tak tega.
"Ya udah aku maafin, tapi sekarang jangan ganggu aku dulu. Aku ngantuk mau tidur." ucap Vino dengan nada yang mulai menurun.
"Aku ikut ke dalam ya, aku temenin kamu tidur." ucap Susan.
"Terserah deh, tapi ingat, jangan buat keributan apapun dengan Alya, karena aku capek, dan aku enggak mau istirahat aku diganggu." ucap Vino.
"Iya aku janji." ucap Susan senang. Mereka pun sama-sama masuk kedalam Villa Vino. Sesampainya di dalam, mereka sudah disambut dengan tatapan tajam dari Alya.
"Aku fikir kamu kemana, ternyata sama dia." ucap Alya pelan namun terdengar dingin.
"Hm! aku mau tidur, capek mau istirahat, jangan tanya-tanya kayak wartawan!" ucap Vino ketus lalu masuk kamar dan mengunci kamarnya dari dalam karena tak ingin Alya ataupun Susan mengganggu tidurnya.
Kini tinggalah Susan dan Alya diruang tamu minimalis Villa itu.
__ADS_1
"Aku harap kamu tahu diri dan jangan berharap lebih sama Vino." Susan memulai percakapan diantara mereka.
"Enggak kebalik ya? disini kan aku istri sah nya. Bisa dibilang, kamu itu pelakor!" ucap Alya tak kalah pedas.
"Hey!! siapa yang pelakor! kamu yang memaksa Vino untuk nikah sama kamu, kamu juga yang udah buat dia terikat dengan pernikahan konyol ini, kamu merebut Vino dari aku, berani banget kamu bilang aku pelakor, punya kaca enggak! ngaca jadi orang!" ucap Susan sinis.
"Ya ampun, enggak ada ceritanya kali seorang istri merebut suaminya dari orang, apalagi dari wanita yang statusnya hanya pacar. Jelas ikatan pernikahan adalah ikatan resmi yang diakui secara agama dan negara. Perempuan seperti kamu, yang sudah tahu Vino lelaki beristri masih saja memaksakan untuk bersama itu namanya perempuan murahan, rendahan, dan tidak memiliki martabat!" ucap Alya menohok.
"Apa? kamu bilang aku apa?" tanya Susan sambil berdiri dan hendak menampar Alya, namun tiba-tiba Vino sudah berada dibelakang mereka.
"Mau apa kamu Susan!" bentak Vino.
"Vin, aku.. aku mau nampar dia, mulutnya jahat banget, masa aku dibilang wanita murahan!" ucap Susan mengadu, dia membuat keadaan seolah-olah sedang terdzalimi.
"Aku kan sudah bilang, jangan buat keributan disini. Aku mau istrahat!" ucap Vino kesal.
"Dia yang duluan Vin!" tunjuk Susan kepada Alya.
"Jangan ngada-ngada deh, jelas-jelas kamu yang mulai. Sekarang malah playing victim! cocok banget jadi ratu drama!" ucap Alya pedas.
"Udah, udah! gak usah bertengkar mulu! pusing tahu enggak sih, dan kamu Susan, mending kamu balik ke Villa kamu dari pada ribut disini." ucap Vino.
"Tapi Vin..." Susan merajuk.
"Aku bilang pergi ya pergi!" bentak Vino.
"Tega kamu Vin! demi perempuan ini kamu bentak-bentak aku! aku enggak Terima diginiin!" ucap Susan sambil menghentak-hentak kakinya, kesal karena Vino malah mengusirnya. Dengan perasaan kesal akhirnya Susan pergi dari Villa Vino. Tinggalah kini Alya dan Vino di ruang tamu itu.
"Makasih ya Vin, kamu mau belain aku." ucap Alya.
"Siapa yang bela kamu, enggak usah ge-er deh!" ucap Vino ketus.
"Aku enggak ge-er, kan emang kenyataannya gitu Kamu belain aku, makasih ya suamiku." ucap Alya dengan wajah berseri. Vino membuang pandangannya kearah lain, tak ingin Alya melihat wajahnya yang memerah karena tersipu saat mendengar Alya menyebutnya dengan sebutan 'suamiku'.
"Kenapa berbalik? kamu malu ya?" goda Alya.
"Enggak! jangan kege-eran deh jadi orang!" ucap Vino sambil berlalu menuju kamar.
Alya menatap nanar saat Vino sudah menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
'Aku akan terus berusaha Vin, semenjak kita menyatu, aku ingin kita bersatu selamanya. Aku ingin kamu jadi yang pertama dan terakhir.' ucap Alya dalam hati.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁