Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Benalu


__ADS_3

Bagja terlihat panik saat menempelkan benda pipih itu di telinganya. Ekspresinya langsung berubah.


"Akan saya usahakan." Jawab Bagja. Setelah mengatakan itu dia menutup sambungan telfonnya.


"Ada apa A? Itu telfon dari siapa?" tanya Dila.


"Itu tadi yang nelfon Pak Kepala Dinas Sayang." Jawab Bagja.


"Mau apa dia nelfon?" tanya Dila dengan raut wajah bingung.


"Dia... dia minta Aa datang ke rumah sakit. Karena... Anya melakukan percobaan bunuh diri. Sekarang kondisinya kritis. A Bagja diminta kesana," ucap Bagja menjelaskan.


"Terus Aa mau?" tanya Dila.


"Aa sih sebenarnya hanya kasihan, tapi kalau Dila enggak izinin Aa enggak akan kesana." Ucap Bagja.


"Tapi Aa kayaknya khawatir banget!" Ucap Dila ketus.


"Bukan gitu Dil, Aa kan hanya khawatir sebagai teman aja. Ya ikut prihatin dengan musibah yang menimpa mereka apa salahnya?" tanya Bagja.


"Itu musibah di buat sendiri. Tapi ya terserah sih, kalau A Bagja mau kesana silahkan aja. Paling juga entar sampai sana, A Bagja disuruh menyemangatin Anya, pegang-pegang tanganya tau bahkan mungkin disuruh cium biar dia bangun! Basi tahu enggak!" Dila yang merasa kesal langsung keluar dari kamar menuju ruang santai. Dia menghidupkan televisi untuk meredam emosinya.


"Dil, jangan marah dong. Aa enggak ada maksud gitu, ya udah kalau kamu enggak izinin, Aa enggak akan pergi kok." Ucap Bagja sambil meraih jemari tangan Dila yang saat ini sedang cemberut.


"Harusnya mau Dilla izinin ataupun enggak A Bagja bisa jaga perasaan Dila. Kalau kayak gitu Aa seperti lebih mementingkan Anya ketimbang Dila. Dila merasa enggak di anggap tahu enggak, apalagi pas lihat wajah A Bagja yang khawatir. Hati Dila sakit tahu!" Dila beranjak pergi dari sana, namun Bagja keburu menahannya.


"Lepasin A!" Dila meronta. Namun Bagja malah mendekapnya dari belakang dengan penuh keposessifan.

__ADS_1


"Jangan marah. Maafin Aa, Jangan marah Sayang. A Bagja enggak bisa lihat Dila sedih atau marah. Aa enggak sanggup." Ucap Bagja lirih.


"Tapi Aa tadi kayak khawatir banget sama dia! Dila kecewa tahu enggak!" Dila menangis. Entah kenapa dia semakin cengeng dan nangisan.


"Aa khawatir hanya sebatas rasa kemanusiaan aja Sayang. Demi Allah, Aa lebih khawatir melihat Dila sedih. Pleasee... Jangan marah lagi, Aa enggak sanggup."


Cup cup cup!


Bagja mengecupi rambut Dila yang begitu harum dan menenangkan.


"Janji enggak gitu lagi?" tanya Dila.


"Enggak, Aa janji Sayang." Ucap Bagja mantap.


Dila berbalik dan sedikit berjinjit untuk mencium kening suaminya. "Kening ini, cup!" Dila menurunkan wajahnya. "Hidung ini, cup!" Dila kembali mengecup hidung Bagja yang mancung. Lalu turun ke bawah sampai ke pada benda kenyal yang baginya sangat enak itu. Apalagi kalau bukan bibir Bagja. Benda kesukaan Dila. "Dan ini, hanya milik Dila. Semuanya hanya punya Dila. Orang lain enggak boleh ada nyentuh." Ucap Dila dengan penuh penekanan.


"Jangan nakal! Aa enggak berani jamin kasur kita enggak akan bergoyang lagi kalau kamu manja begini." Ucap Bagja sembari menoel dagu Dila.


Tiba-tiba Dila tertegun.


"Kenapa mendadak ngelamun gini?" tanya Bagja.


"Emh, itu A, Dila jadi enggak tega pas Aa bilang Anya kritis. Apa kita jengukin aja kesana ya, kasihan juga." Ucap Dila.


"Enggak. Aa enggak mau, nanti kamu sakit hati. Dan Aa enggak mau itu," ucap Bagja.


"Tapi apa Aa enggak akan menyesal kalau misalkan terjadi sesuatu sama Anya?" Tanya Dila.

__ADS_1


"InsyaAllah enggak Sayang. Kesembuhan itu datangnya dari Allah, bukan Aa yang menentukan. Menjaga hati kamu jauh lebih penting dari apapun itu." Ucap Bagja.


Dila tersenyum senang.


"Gini aja, besok kita sama-sama dengan Alya dan Vino jengukin Anya. Biar rame dan Aa enggak bisa macem-macem!" Ucap Dila.


"Buat macem-macem gimana?"


"Ya gitu deh!"


"Ih, masih aja curigaan sama Suami sendiri. Ya udah sini Aa macem-macemin kamu!" Bagja menarik gaun tidur Dila sampai ke atas. Lalu menelusupkan satu jari tangannya ke dalam ladang Dila. "Ini baru macem-macem!" Bisik Bagja.


"Ikh, Aa mah Nakal!!!" Dila keenakan.


//


Sementara itu di tempat lainnya, Vino dan Alya yang sedang menikmati makanan mereka harus terganggu dengan suara ketukan pintu.


"Siapa ya Vin, Kok bisa ada tamu malem-malem gini?" Tanya Alya.


"Enggak tahu, bentar aku cek dulu." Ucap Vino.


Karena merasa penasaran Alya ikut ke depan mengekor di belakang Vino.


Ceklek!


"Eva?!"

__ADS_1


__ADS_2