Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Serba Dadakan


__ADS_3

Dini hari, sekitar pukul empat. Aku terbangun dengan tangan kang Sofyan yang melingkar diperutku. Aku dan kang Sofyan berada didalam selimut yang sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Aku berganti posisi dengan berbalik menghadap wajahnya. Kang Sofyan sangat tampan walau sedang tidur. Aku masih tidak percaya, semalam kang Sofyan mengungkapkan perasaanya. Aku mengelus lembut permukaan wajah kang Sofyan, mengusap alisnya, matanya, hidungnya, dan bibirnya yang menurutku sangat sexy. Wajahnya terlihat lelap, mungkin karena semalam terlalu bersemangat, jadi merasa lelah. Salah sendiri, aku saja bahkan kewalahan menghadapinya yang seolah tak pernah puas, sungguh kang Sofyan sangat perkasa.


"Sayang, udah shubuh loh, pulang yuk, kita belum mandi keramas" bisikku.


"Jam berapa ini? akang ngantuk banget" ucapnya dengan mata setengah terbuka.


"Jam empat shubuh, ayok pulang mandi" jawabku. Dengan malas dan rasa kantuk kang Sofyan akhirnya bangkit dan duduk.


"Cantik banget istrinya Sofyan Ali, padahal belum mandi" ucapnya sembari mencubit gemas pipiku.


"Udah ih, ayo nanti terlambat shubuh" jawabku.


Setelah itu kami akhirnya pulang kerumah. Sesampainya dirumah, emak kaget melihat kedatanganku dengan kang Sofyan. Aku terus menggandeng lengan kang Sofyan dengan mesra, seperti tidak mau dipisahkan.


"Loh, Puja kamu..." emak seperti kebingungan.


"Puja ikut Sofyan tidur di tambak mak" jawab kang Sofyan.


"Ooh, kirain tidur dirumah. Emak juga enggak meriksa" jawab emak.


"Iya nih, manja banget mantu emak, enggak mau tidur sendirian katanya" ucapnya sembari mencubit gemas pipiku.


"iih, kang Sofyan!!" ucapku sebal.


"Emak seneng kalian sepertinya udah bisa menerima satu sama lain" ucap emak dengan mata berkaca. Tapi, aku melihat ada kesedihan lain dimatanya. Entahlah, mudah-mudahan ini hanya perasaanku saja.


"Iya dong mak, emak tenang aja, Sofyan janji bakalan kasih cucu secepatnya, ini Sofyan sama Puja lagi usaha" ucapnya usil.


"Malu akang!!" protesku lalu masuk kedalam kamar.


********


Setelah sholat shubuh bersama, aku dan kang Sofyan tengah bersiap-siap hendak ke kota. Kang Sofyan mengajakku untuk mencari sesuatu yang hendak dibelinya.


"Pakai baju yang panjang" jawab kang Sofyan.


"Iya.." jawabku.

__ADS_1


"ish! panjang tapi ngetat, ganti" titahnya.


"Yang mana dong? Puja bingung tau..!" ucapku sebal.


"Yang enggak ngetat, enggak sexy. Gamis kalau perlu" jawabnya.


"Nyebelin!" jawabku seraya mencebik kesal, tapi disisi lain aku menyukai sifat posessive nya itu.


Akhinya aku memakai sweeter rajut tebal dengan model lengan mengembang seperti balon.


"Cantik. Selalu aja cantik, kapan jeleknya?" bisik kang Sofyan diceruk leherku saat aku tengah menyisir rambutku. Dia memelukku dari belakang. Terlihatlah pantulan tubuh kami yang saling menempel didepan cermin.


"Sekali lagi ya" ucapnya sembari menggigit kecil telingaku.


"Enggak! semalaman udah digempur masih kurang?" tanyaku.


"Selalu kurang, entahlah... kalau didekat Puja kang Sofyan selalu ingin" jawabnya.


"Dasar mes*m!" jawabku lalu melepas pelukannya dan mengambil tas yang tercantel digantungan.


"Tapi..."


"Enggak ada tapi-tapian!" selaku.


Setelah itu kami berangkat ke kota dengan mengendarai motor matic milik kang Sofyan. Disepanjang perjalanan, kami terus mengobrol dan bercanda ria, hingga tidak terasa kami sampai dipusat perbelanjaan yang cukup besar.


Setelah memarkir motornya, kang Sofyan mengajakku untuk naik ke lantai atas, ternyata kang Sofyan membawaku ke toko perhiasan.


"Mau apa kesini kang?" tanyaku.


"Mau nyari cincin kawin sama kalung buat Puja" jawabnya.


"Tapi... pasti mahal-mahal" bisikku.


"Tabungan kang Sofyan cukup kok, udah Puja pilih aja yang mana yang Puja suka." jawab kang Sofyan.


Akhirnya karena kang Sofyan terus memaksa, aku memlilih sebuah kalung dengan bandul berbentuk huruf S.

__ADS_1


"Bener suka yang ini?" tanya kang Sofyan.


"Iya, yang ini aja. Manis dan cantik kayak Puja" jawabku percaya diri.


"Masih manis dan cantikan Puja kok." jawabnya dengan senyuman manis. Setelah itu kang Sofyan memasangkan kalung itu dileher putihku.


Kami juga memilih cincin couple sebagai cincin kawin pernikahan kami. Dan juga kang Sofyan membelikan aku cincin lainnya dan satu buah gelang cantik dengan permata yang sangat indah. Aku menolak, tapi kang Sofyan terus memaksa. Aku bisa apa?


Setelah selesai dari toko perhiasan, kang Sofyan membawaku ke toko pakaian.


"Baju Puja udah banyak kok kang" ucapku.


"Cari baju dinas sekalian sayang, yang model macan, kucing, eh enggak, yang merah menantang aja. Atau... putih nerawang" ucapnya antusias.


"Ish! usil banget sih! lagian kok kang Sofyan kayak udah pengalaman, tau aja gitu soal begituan" jawabku.


"Kang Sofyan laki-laki normal Puja, sama seperti yang lain, tentu pernah lihat film dewasa" jawabnya enteng.


"iih! kirain Puja polos, ternyata... terkontaminasi juga" ucapku.


"Enggak ada laki-laki yang benar-benar polos, kalau perjaka banyak, tapi yang benar-benar polos, sepertinya enggak mungkin ada" jawab kang Sofyan. Aku hanya geleng-geleng kepala saat mendengar pengakuannya, ku kira cupu, ternyata suhu!


Setelah selesai berbelanja jaket, beberapa baju dan baju-baju dinas request dari kang Sofyan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.


"Mampir ke hotel dulu ya" pintanya.


"Loh, mau apa?" tanyaku.


"Itung-itung bulan madu sayang" jawab kang Sofyan.


"Dirumah juga sama aja kok" jawabku.


"Semalam aja ya, ayolah" mohon kang Sofyan.


"Iish! nakal banget sih!" ucapku sambil menoyor lengannya.


Aku dan kang Sofyan akhirnya kembali ke dalam gedung mall itu untuk membeli baju ganti dadakan, karena akan bulan madu dadakan.

__ADS_1


__ADS_2