Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
It's Love


__ADS_3

Setelah pelepasannya kang Sofyan langsung menarikku kedalam pelukannya. Dia memelukku dengan posisi dibawah selimut yang sama dalam keadaan polos tanpa busana membuatku merasa risih dan geli.


"Kang... kita jadi pisah kan?" tanyaku.


Kang Sofyan malah membalik tubuhku agar saling berhadapan.


"Maafin akang, tapi kang Sofyan enggak bisa cerai sama Puja, sampai akang mati pun akang enggak akan menceraikan Puja" ucapnya sambil menatap dalam mataku.


"Tapi tadi..." ucapanku tak ku lanjutkan saat melihat matanya yang menyiratkan kemarahan.


"Tolong beri kang Sofyan kesempatan. Kita mulai semuanya dari awal ya" ucapnya memohon.


"Justru Puja ingin membebaskan kang Sofyan untuk mencari kebahagiaan kang Sofyan sendiri. Puja lihat kang Sofyan sepertinya suka sama Melodi" ucapku pelan.


"Siapa yang bilang?" tanyanya.


"Kalian dekat dan terlihat sangat akrab, beda ketika kang Sofyan lagi sama Puja, cuek dan juga kasar" ucapku sambil menunduk.


"Apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan kenyataan. Kamu enggak tahu apa-apa soal perasaan kang Sofyan. Jangan mikir yang aneh-aneh" ucapnya.


"Tapi tetap aja, orang yang lihat pasti akan lebih percaya kalau Melodi yang istrinya kang Sofyan, bukan Puja, karena kang Sofyan lebih akrab sama dia" ucapku sambil menggigit bibir bawahku.


"Oh ya?" tanyanya.


"Iya lah" ucapku memasang mode cemburu.


"Kamu cantik kalau lagi cemburu gini" ucapnya sambil tersenyum hangat. Aku terperangah saat dia memujiku. Pipiku bersemu merah.


"Jangan ngebahas perempuan lain. Dan jangan minta cerai lagi, selagi kang Sofyan masih bernafas, akang enggak akan pernah menceraikan Puja" ucapnya serius.


"Tapi kenapa kang?" tanyaku. Aku jadi berfikir jika kang Sofyan memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi dia malah terlihat kebingungan saat aku tanya.


"Akang mau mandi dulu, udah lengket bau keringat" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Tapi..."


"Ambilin akang makan, kang Sofyan lapar" ucapnya menyela ucapanku. Setelah itu dia mengambil handuk yang tercantel digantungan dan berlalu pergi kearah kamar mandi.


"Tumben banget mau makan aja minta diambilin" gumamku.

__ADS_1


Aku jadi bingung dengan kang Sofyan, tadi sangat kasar, sekarang sudah baik lagi. Kang Sofyan seperti bunglon yang berubah-ubah, kenapa dia tidak mau bercerai? memangnya apa yang bisa dipertahankan lagi? aku menggerutu kesal, karena kang Sofyan seperti mempermainkanku. Tapi... seketika pipiku bersemu merah saat teringat percintaan kami tadi yang begitu panas. Aku ingat sekali saat kang Sofyan memuja ku, mengatakan aku sangat luar biasa dan terus-terusan menyebut-nyebut namaku di sepanjang permainan. Itu artinya, kang Sofyan juga menikmatinya kan?


Aku buru-buru turun dari ranjang untuk memungut pakaianku yang berserakan dan memakainya kembali. Setelah itu bersiap untuk menyiapkan makan siang untuk Kang Sofyan. Saat aku didapur, kang Sofyan sudah selesai mandi, wajahnya terlihat sumringah dan segar.


"Akang ganti baju dulu ya" ucapnya lembut.


"Iya" aku mengangguk.


Selelah beberapa menit kang Sofyan ikut menyusul ke meja makan.


"Cuma sama telur sama mie goreng" ucapku sambil menyodorkan piring berisi nasi kehadapan kang Sofyan.


"Enggak apa-apa. Kapan-kapan belajar masak sama emak" ucapnya sambil tersenyum hangat. Lalu memakan makanan itu dengan lahap sampai serpihan nasi menempel dipipinya.


"Makannya pelan-pelan kang" ucapku sambil mengusap nasi disamping bibirnya.


"Puja enggak akan minta kok" ucapku sambil tersenyum meledek.


"Habis rasanya enak" ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Beneran? kaya gimana rasanya?" tanyaku antusias.


"iih, itu kan memang mie sama telor" ucapku sebal.


"Tadi nanya, udah di jawab malah ngambek" ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Tau ah!" aku mencebik kesal.


"Besok, ikut juga ke tambak ya" pintanya. Aku melirik kearahnya.


"Bukannya kang Sofyan maunya cuma sama Melodi aja? nanti Puja malah jadi obat nyamuk!" tanyaku menyindir.


"Ngomong apa sih! pokoknya nurut apa kata suami, titik! kang Sofyan enggak suka dibantah" ucapnya dengan wajah judesnya.


"Tapi... Puja enggak mau ganggu kalian" ucapku sambil membuang pandangan ke arah lain.


"Pokoknya ikut, kang Sofyan enggak mau kalau sampai sopir itu nemuin kamu kayak tadi, mana peluk-peluk lagi!" ucapnya ketus.


"Kang Sofyan cemburu?" tanyaku penuh selidik.

__ADS_1


Uhuk!


Kang Sofyan malah tersedak. Aku buru-buru menyodorkan gelas berisi air putih kepadanya.


"Minum dulu kang" ucapku.


"Kang Sofyan enggak ke tambak lagi?" tanyaku.


"Enggak, capek" jawabnya.


"Mau Puja pijitin?" tawarku.


"Emang kamu mau mijitin kang Sofyan?" tanyanya.


"Ya mau-mau aja, kang Sofyan kan suami Puja" jawabku.


"Emang enggak capek?" tanyanya lagi.


"Enggaklah, dari tadi dirumah cuma rebahan terus" ucapku.


"Ya udah, sini pijitin pundak akang" ucapnya sambil menunjuk pundaknya. Aku beranjak dan berdiri dibelakang kang Sofyan. Lalu memijat pundaknya.


"Sekali-sekali minta sesuatu gitu sama akang, biar akang merasa jadi suami" ucapnya dengan mata terpejam menikmati pijatanku.


"Uang yang dikasih kemaren aja masih utuh" jawabku.


"Apa mau dianter jalan-jalan, beli apa aja yang Puja mau. Puja suka apa? mau apa?" tanyanya.


"Kang Sofyan enggak akan bisa" ucapku ambigu.


"Emang harganya berapa? mahal?" tiba-tiba kang Sofyan menghadap kearahku dan menyuruhku kembali duduk dikursi.


"Em... mahal banget, dan susah dapetinnya" ucapku. Dia menaikkan kedua alisnya.


"Dimana belinya?" tanyanya penasaran.


"Disini" tunjukku kedadanya.


"It's Love... mahal, dan kang Sofyan enggak akan bisa memberikannya untuk Puja" ucapku sambil menunduk. Seketika kang Sofyan membeku mendengar ucapanku. Tidak merespon dan berkata apapun. Karena kang Sofyan hanya diam saja, aku memutuskan untuk pergi kedalam kamar. Dan merebahkan tubuhku diatas kasur.

__ADS_1


'Lagaknya bilang, mau apa? harganya berapa? apa aja kang Sofyan kasih! tapi giliran dikasih tahu apa yang diminta, malah mingkem!' gerutuku.


__ADS_2