Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Tidak Tahan


__ADS_3

Hingga siang hari Puja tak kunjung keluar kamar, sedangkan Sofyan masih setia menunggu di sofa ruang keluarga yang berhadapan langsung dengan kamarnya, sehingga dia pasti tahu jika Puja keluar dari kamar.


Kruweekk!


Perutnya terus berdendang keroncongan minta diisi makanan. Sudah sejak kemarin dia tak makan, entahlah, rasanya semua makanan yang masuk kemulutnya terasa pahit dan hambar, hingga dia tak berselera makan. Sofyan mencoba memejamkan matanya, dia berusaha menahan rasa laparnya. Wajahnya sudah pucat, tubuhnya lemas seperti orang berpuasa. Tapi lagi-lagi dia tak berniat untuk mengisi perutnya itu dengan makanan barang sesendok, mana bisa dia makan dalam kondisi seperti ini? disaat Puja masih marah dan memendam rasa sakit hati yang mendalam. Rasa lapar yang dia rasakan sekarang bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dirasakan Puja.


"Yan, makan dulu. Dari kemarin kamu belum makan" ucap emak yang kini duduk disamping Sofyan.


"Nanti aja mak, Sofyan enggak lapar9." jawab Sofyan lesu.


"Wajah kamu pucet, lemes gitu. Kalau punya masalah justru kudu kuat makan buat tenaga." ucap emak.


"Ya nanti mak." jawab Sofyan.


"Sekarang aja ya. Emak ambilkan." bujuk emak.


"Enggak usah mak, nanti aja Sofyan ambil sendiri." tolak Sofyan.


"Jangan begini atuh Sofyan. Emak jadi sedih dan serba salah." ucap emak dengan bibir bergetar.


Melihat emak menangis Sofyan jadi tak tega, biar bagaimanapun emak adalah orang yang sudah melahirkannya, tentu dia tak akan tega melihatnya menangis apalagi itu disebabkan oleh dirinya.


"Iya mak Sofyan makan sekarang." ucap Sofyan yang tak mau melihat emak menangis lagi.


"Ayo makan bareng mak" ajak Sofyan.

__ADS_1


"Iya." ucap emak dengan mata berbinar. Dan pada akhirnya Sofyan memaksakan makan walau hanya sesendok dua sendok demi membuat hati emak senang. Tapi fikirannya tetap tidak tenang, Sofyan masih sangat gamang dan kepikiran Puja yang hingga saat ini belum memaafkannya. Buru-buru dia menyelesaikannya, setelah itu mengetuk pintu kamar Puja.


Tok tok tok


"Puja... sayang, dede Bagja udah waktunya makan siang sayang." ucap Sofyan lembut.


Puja yang saat itu tengah bermain-main dengan Bagja langsung menghentikan aktivitasnya dan beranjak membuka pintu.


Klek!


"Sayang..." ucap Sofyan yang memandang wajah Puja dengan mata berkaca. Dia sangat merindukan saat-saat bersama Puja, senyuman Puja dan gelak tawa Puja yang membuat hidupnya lebih berwarna. Kini dia sadar, jika dia benar-benar bodoh sudah mengecewakan istri seperti Puja.


"Jangan halangin Puja, Puja mau ambil makanan Bagja." ucap Puja yang langsung menerobos tanpa memandang ke arah Sofyan. Sebenarnya dia sudah tak kuat, rasanya ingin sekali memeluk pria itu, pria yang dirindukannya walau masih tinggal satu atap. Tapi dia tak boleh kalah, kali ini dia harus berusaha membuat Sofyan sadar agar tak mengulangi kesalahan yang sama.


Sofyan sendiri hanya bisa memandangi Puja tanpa bisa memaksa. Kali ini Sofyan tak mau egois, Sofyan takut jika dia memaksa Puja akan semakin membencinya dan meninggalkannya. Dia lebih memilih menekan ego nya demi kelangsungan keluarga kecilnya.


"Sayang... bisa kita bicara?" tanya Sofyan dengan wajah lesu.


"Boleh. Dikamar!" titah Puja yang langsung masuk kedalam kamarnya, lalu disusul Sofyan dibelakangnya.


"Jadi mau bicara apa?" tanya Puja.


"Sampai kapan Puja mau marah sama kang Sofyan? sampai kapan Puja mau diemin kang Sofyan? Puja... akang enggak sanggup diginiin terus, akang kangen sama Puja.." ucap Sofyan lirih.


"Enggak usah lebay! kita masih satu rumah. Apa yang dikangenin? tiap hari juga ketemu!" ucap Puja ketus.

__ADS_1


"Akang kangen kebersamaan kita sayang, kangen bersenda gurau sama Puja... kangen dipijitin Puja, kangen lihat senyuman Puja. Akang juga kangen..., bercumbu dengan Puja." ucap Sofyan lembut.


Sungguh ucapan Sofyan barusan membuat hati Puja berdesir halus. Ingin rasanya Puja teriak 'Puja juga kangen akaaaaang!!!' tapi mulutnya seolah terkunci dan enggan mengeluarkan kata-kata itu. Ingin rasanya Puja memeluk dan berhambur kepelukan lelaki itu, tapi tubuhnya seakan dirantai tak bisa bergerak.


"Kalau akang enggak sanggup dan menyerah, ya sudah kita pisah aja." ucap Puja.


"Ke-kenapa jadi pisah? jangan sayang, kang Sofyan enggak mau pisah sama Puja." ucap Sofyan menggeleng.


"Tapi itu yang Puja mau!" ucap Puja seraya menatap tajam. Dia ingin melihat seberapa kuat Sofyan mempertahankan rumah tangganya.


"Jangan sayang. Jangan tinggalin akang, akang enggak mau..!" kepalanya menggeleng. Rasanya saat ini Sofyan benar-benar takut. Takut jika Puja benar-benar tak bahagia hidup bersamanya dan takut jika Puja benar-benar meninggalkannya.


"Ya terserah kang Sofyan aja. Silahkan kalau tahan hidup dengan sikap Puja yang seperti ini. Puja mau istirahat. Kang Sofyan silahkan keluar." usir Puja.


"Akang akan bersabar, akang akan tunggu sampai Puja mau terima kang Sofyan lagi. Akang enggak keberatan sayang, enggak apa-apa. Tapi Puja janji ya sayang, jangan tinggalin akang." ucap Sofyan penuh harap.


"Hm" jawab Puja.


"Ya udah akang keluar dulu ya, kalau ada apa-apa kasih tahu akang." ucap Sofyan.


"Hm!" jawab Puja. Setelah itu Sofyan berbalik hendak keluar dari kamar itu. Puja tak tahan! dia ingin mengakhiri semua ini. Namun baru saja dia akan memanggil Sofyan, tiba-tiba ada seseorang yang datang.


Tok Tok Tok!


"Assalamualaikum?"

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2