Suamiku Sad Boy

Suamiku Sad Boy
Menemaninya Bekerja


__ADS_3

Pagi harinya, emak dan bapak sudah bersiap-siap berangkat ke kebun.


"Yan, nanti Puja diajak aja ke tambak, ke saung diatas keramba punya kamu, diajak ngeliwet diatas air biar sekali-sekali Puja nemenin suaminya kerja" pesan emak kepada kang Sofyan.


"Puja mana mau mak" ucap kang Sofyan sambil melirikku.


"Kamu mau kan Puja ikut Sofyan ke tambaknya?" tanya emak.


"Puja dirumah aja mak, takutnya malah ganggu kang Sofyan kerja" jawabku pelan.


"Enggak ganggu, Sofyan malah tambah semangat kalau ditemenin istrinya, yang lain juga gitu pada ditemenin istrinya" ucap emak.


"Ya udah nanti Sofyan ajak Puja ke tambak" jawab kang Sofyan. Lalu melengos masuk mengambil peralatan bekerjanya. Emak dan bapak pun akhirnya berangkat kerja. Setelah itu aku kembali masuk kedalam kamar. Tidak lama kang Sofyan datang.


"Masih dikamar aja, siap-siap ayok ikut ketambak" ucapnya ketus.


"Puja dirumah aja" jawabku sambil fokus memainkan ponselku.


"Kalau disuruh suami tuh nurut!" ucapnya geram. Aku langsung beranjak mengambil tasku.


"Pake jaket sama topi, disana panas!" ucapnya.


"Puja enggak punya topi sama jaket, ketinggalan di kos-kosan Iis" jawabku.


Kang Sofyan mengambil jaket dan topi miliknya yang tergantung dicentelan baju. Lalu menyodorkannya kepadaku.


"Pake ini" titahnya. Aku meraih topi dan jaket itu, benar saja jaketnya kebesaran tapi topinya pas.

__ADS_1


"Ayo, kesiangan nanti" ajaknya. Aku mengekor dibelakangnya tanpa berkata apapun. Disepanjang perjalanan menuju tambak ikan kang Sofyan dibendungan, kami sama-sama diam, tak ada yang bicara. Sampai akhirnya kami sampai disebuah warung sekaligus tempat penitipan motor petani-petani tambak dibendungan ini.


Semilir angin menerpa wajahku, hamparan air bendungan yang tenang dan membentang luas membuatku merasa rilex.


"Ayo, ngelamun aja!" ajak kang Sofyan.


"Duluan ceu" ucap kang Sofyan pada pemilik warung.


"Siapa itu Yan, kabogoh?" tanya pemilik warung.


Aku membuang pandanganku ke arah lain tak ingin menjawab apapun. Takut salah jika ikut bicara!


"Istri Sofyan ceu" jawab kang Sofyan. Aku sempat terkejut saat kang Sofyan mengakuiku sebagai istrinya. Lalu meliriknya sekilas dan ternyata dia juga sedang manatap ke arahku. Aku buru-buru kembali membuang pandanganku ke arah lain.


"Ya udah ceu Sofyan duluan ya" pamitnya. Pemilik warung itu hanya mengangguk sambil tersenyum hangat.


Aku hanya diam menikmati semilir angin yang menerpa wajahku sambil menyentuh air bendungan dengan tanganku. Entah kenapa rasanya sangat damai dan nyaman. Sesekali aku melirik ke arah kang Sofyan yang ternyata dia sedang menatapku.


"Emang enggak pernah naik getek?" tanyanya.


Aku hanya menggeleng. Setelah itu kembali menyentuh air dengan jari-jemariku, menikmati sensasi menenangkan dihamparan bendungan ini. Sesampainya ditambak kang Sofyan, lagi-lagi kang Sofyan membantuku untuk naik ke kerambanya dan mengajakku ke saung (gubuk) apung miliknya.


Ternyata disana sudah ada teman-teman sekaligus anak buahnya yang sudah lebih dulu datang. Mereka menatap aneh kepadaku.


"Siapa Yan?" tanya salah satu dari mereka.


"Istri" jawabnya singkat.

__ADS_1


"Di dalam ada kasur, istrahat di dalam aja, disini panas" ucapnya sambil membetulkan topiku yang hampir lepas karena tertiup angin yang bersemilir. Tatapan kami tak sengaja bertemu, kang sofyan menatap dalam ke mataku.


Tangannya tiba-tiba menyentuh wajahku lalu membenarkan anak rambutku yang berantakan. Aku merasa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Tapi aku langsung buru-buru menunduk dan masuk ke dalam saung yang sudah ada kasur didalamnya. Aku menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat kang Sofyan mengelus pipiku tadi. Aku tidak mau berharap, aku harus tahu diri! kang Sofyan hanya menganggapku perempuan murahan yang suka jual diri! tidak lebih dari seonggok sampah! dan aku tidak boleh menaruh rasa padanya.


Aku membuka jendela saung itu agar angin masuk kedalam, aku suka anginnya yang bersmilir menari-nari membelai wajahku. Ditambah pemandangan perbukitan yang membentang mengelilingi bendungan ini. Bosan, aku mencoba menghubungi Iis.


Saat telfonan dengan Iis aku merasa sedikit terhibur. Rasa sepiku lama-lama hilang. Entah sudah berapa lama, akhirnya kami mengakhiri percakapan kami di telfon.


Hari menjelang siang, aku merasa bosan lalu mencoba keluar dari saung, aku tidak melihat teman-teman kang Sofyan, hanya ada kang Sofyan yang sedang membakar ubi kayu diperapian buatannya. Setelah matang dia menikmati ubi bakarnya. Terlihat sangat enak!


Kang Sofyan terlihat berkeringat, sepertinya dia lelah sehabis bekerja. Tiba-tiba kang Sofyan menengok ke arahku.


"Sini" panggilnya. Aku menghampirinya lalu duduk berjarak 1 meter darinya.


"Bosen ya di dalam terus?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.


"Mau?" tawarnya.


"Enggak" bohongku. Padahal aku sebenarnya ingin, aku jadi teringat almarhum bapak yang dulu sering membakarkan ubi untukku didapur saat malam.


"Cobain, enak" ucapnya lalu memberikan sepotong ubi kepadaku. Aku mengambilnya dan mencoba mengelupas kulitnya yang berwarna hitam. Setelah itu memakan ubinya dengan lahap. Menikmati setiap gigitan demi gigitan yang mengingatkanku pada kenangan bersama almarhum bapak.


"Makanny pelan-pelan, sampai belepotan gini" ucapnya sambil membersihkan noda hitam dipipiku. Lagi-lagi jantungku berdebar tidak karuan saat mata kami tidak sengaja bertemu. Kang Sofyan terus menatapku tanpa jeda. Tangannya terus membelai pipiku dengan lembut.


Entah sadar atau tidak, kang Sofyan mendekatkan tubuhnya, lalu mendekatkan wajahnya secara perlahan. Aku yang terbawa suasana menutup mataku rapat-rapat. Aku yakin, ini semua hanya mimpi.


"Ehem!"

__ADS_1


__ADS_2