
Malam hari dirumah Puja dan Sofyan, mereka tengah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama, Puja tidak memasak karena sudah ada lauk dari Alya, pesmol ikan dan rendang ayam, dia hanya merebus pucuk daun ubi sebagai lalapan dan membuat sambel goang (sambel korek/bawang) kesukaan Sofyan. Karena Sofyan tak bisa makan jika tak ada sambal.
"Wah enak ini mah rendangnya, mamah yang masak?" tanya Vino.
"Ini dari calon istrinya Bagja, Alya." ucap Puja.
Uhukk Uhuukk
Bagja tiba-tiba tersedak.
"Minum dulu kasep, biasa aja atuh jangan terkejut." ucap Puja sambil tersenyum kearah Bagja.
"Iya nih, digodain gitu aja baper. Gimana kalau jadi Vino dikerubungin cewek satu kampus." ucap Vino membanggakan dirinya.
"Masa? beneran satu kampus suka sama kamu? waahhh anak mamah kereeen!!" ucap Puja sembari mengacungkan jempolnya.
"Makan dulu, jangan banyak ngomong kalau lagi makan." ucap Sofyan.
"Iya sayang." jawab Puja.
"Kalau bolu itu dari mana mah?" tanya Vino.
"Dari Dila, calon istri kamu." ucap Puja.
Uhukk Uhuukk
Kali ini giliran Vino yang terbatuk.
"Batuknya nular ya hehe.." sindir Puja.
"Pasti bolunya enggak enak itu mah." ucap Vino.
"Ish, enggak boleh gitu. Jangan menghina makanan. Ini dia kan beli, pasti enak atuh." ucap Puja.
"Ya kalau bikin mana bisa, dia kan enggak becus masak. Beda sama Alya serba bisa." ucap Vino.
"Udah-udah kalau enggak mau enggak usah dimakan, biar buat mamah aja sama ayah." ucap Puja.
"Ya mau." ucap Vino cepat.
Setelah menghabiskan makanannya mereka menyesal bolu tersebut, dan bolu itu akhirnya hampir habis, hanya tinggal satu potong dan disaat itu Bagja dan Vino mengambilnya secara bersamaan. Bagja mengalah dan lebih memilih untuk menyerahkan potongan terakhir itu untuk Vino.
"Oh iya kasep, gimana kerjaan kamu? lancar?" tanya Puja. Bagja kini bekerja di kantor dinas perikanan sebagai kepala bidang perikanan budidaya di kabupaten.
"Alhamdulillah mah lancar, semua berkat do'a mamah sama ayah." ucap Bagja.
"Kamu kuliah yang bener Vin, lihat kakak kamu udah berhasil." ucap Sofyan.
__ADS_1
"Iya yah, ayah tenang aja. Anak ayah ini calon mentri." ucap Vino tak mau kalah.
"Tapi ayah enggak yakin kamu bisa jadi mentri. kerjaannya tebar-tebar pesona sama perempuan terus." ucap Sofyan meremehkan.
"Ya wajar dong yah, mubadzir ganteng kalau enggak dipergunakan sebaik mungkin. Bagi orang ganteng seperti Vino, pacar banyak adalah kewajiban dan kebanggaan. Iyakan mah?" Vino mencari dukungan Puja. Puja hanya menggeleng, sementara Bagja sudah lebih dulu masuk kedalam kamarnya karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
//
Pagi hari
Klek!
"Halo Aa ganteng? mau berangkat kerja ya?" sapa Dila yang tiba-tiba sudah ada didepan pintu. Bagja tersentak kaget namun kemudian melanjutkan langkahnya untuk mengambil sepatu dirak sepatu.
"Kok enggak dijawab sih, jawab atuh A...!" ucap Dila merajuk. Lagi-lagi Bagja hanya diam. Dila tak kehabisan ide, dia mengambil satu sepatu milik Bagja dan menyembunyikan nya dibelakang tubuhnya.
"Balikin!" ucap Bagja yang akhirnya bersuara.
"Ohh... neng meleleh Aa... akhirnya suara emasnya keluar juga." ucap Dila sembari mengulum senyum kegirangan.
"Apaan sih, sini balikin sepatunya." ucap Bagja dingin.
"Ambil aja kalau bisa." ucap Dila menantang. Bagja mencoba meraih sepatu itu, namun Dila malah semakin lincah menyembunyikannya. Bagja geram dia terus berusaha meraih sepatunya namun lagi-lagi Dila yang nakal berhasil menghindar hingga akhirnya tubuhnya terpentok kedinding. Dila kelabakan lalu menyembunyikan sepatu itu dibalik tubuhnya. Bagja semakin mendekat, namun Bagja tiba-tiba ragu karena posisi sepatu itu yang disembunyikan Dila dibelakang tubuhnya akan sangat sulit mengambilnya tanpa menyentuh Dila. Bagja takut menyentuh sesuatu yang menyembul dari balik pakaian Dila.
"Ayo ambil" tantang Dila. Bagja tak mau membuang waktu karena hari sudah semakin siang maka terpaksa dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Dila dan mengambil sepatu tersebut lalu...
'Sialan! kenapa empuk banget, rasanya...' Bagja tak dapat berkata-kata saat dadaanya tak sengaja menyentuh dua gundukan milik Dila yang terasa empuk dan gurih-gurih enyoy.
Sementara Dila sendiri malah memejamkan matanya dan menghirup wangi tubuh Bagja dari dekat, dia meremang. Sungguh wangi yang menguar dari tubuh Bagja sangat memanjakan indra penciumannya. Dila kira Bagja akan khilaf dan menciumnya, fikirannya sudah omes duluan. Namun nyatanya, setelah berhasil mengambil sepatunya, Bagja kembali menjauhkan tubuhnya dan malah merasa heran kenapa Dila memejamkan matanya. Hingga Bagja selesai memakai sepatunya, Dila masih terpejam sambil senyum mesam-mesem.
'Kesambet nih anak!' batin Bagja. Setelah itu dia buru-buru masuk kedalam mobilnya dan berangkat menuju kantor meninggalkan Dila yang baru tersadar setelah mendengar deru mobil Bagja.
"Aa.... kenapa neng ditinggaliiiiin...!!!" ucap Dila kesal.
"Kirain mau dicium, malah ditinggal pas lagi sayang-sayangnya." gerutu Dila.
"Siapa yang mau dicium?" tiba-tiba Vino muncul dari balik pintu.
"Eh, Kodok budug!" ucap Dila latah.
"Apa? kodok budug?" ucap Vino tak Terima.
"Eh, itu iya, emang kamu kodok budug!" ucap Dila.
"Enak aja, kamu tuh anak kutil!" ucap Vino.
"Udah ah, awas minggir aku mau ketemu bunda." ucap Dila menerobos masuk kedalam tanpa permisi.
__ADS_1
"Heii... yang sopan dong masuk rumah orang, permisi dulu kek sama yang punya rumah. Dasar enggak sopan!" ucap Vino kesal.
"Biarin uweeekk!!" ucap Dila yang langsung mencari Puja kedapur. Dan ternyata benar, bundanya itu tengah membersihkan sisa-sisa makanan didapur.
"Good morning bunda...!" sapa Dila.
"Loh, pagi-pagi udah dateng aja." ucap Puja yang langsung mencuci tangannya lalu mencium pipi kiri dan kanan Dila.
"Sendirian?" tanya Puja.
"Iya bun. Bunda masak apa nih?" tanya Dila.
"Cuma masak nasi goreng, habis bangun kesiangan." ucap Puja.
"Ayah mana bun, udah berangkat?" tanya Dila.
"Masih mandi. Kenapa emangnya?" tanya Puja.
"Bapak tadi pesen katanya mau ke ** ***** dulu, uwa sakit bun, jadi nanti datangnya terlambat." ucap Dila.
"Ooh, kenapa enggak telfon aja?" tanya Puja.
"Enggak sempet bun, ya Dila sekalian aja main kesini." ucap Dila.
"Iya, kamu udah sarapan?" tanya Puja.
"Udah bun. Oh iya bun, hari ini jadi kerumah tante Risma, bikin baju couple?" tanya Dila.
"InsyaAllah jadi, sekalian berangkat ke salon kita mampir kesana, kamu ikut kan?" tanya Puja.
"Ikut dong bun. Oh iya bun, gimana sih caranya ngedeketin laki-laki dingin?" tanya Dila.
"Menggigil? tinggal kasih obat aja." canda Puja.
"Bukan itu buun, tapi laki-laki yang sifatnya dingin, cuek bebek, kayak kanebo kering. Kan kata bunda ayah dulu juga gitu sama bunda, dingin, cuek, terus gimana caranya ayah bisa luluh ke bunda?" tanya Dila.
"Emh.. emang kamu lagi mau ngedeketin siapa? perasaan Vino anaknya petakilan, nakal, kok dibilang dingin." ucap Puja.
"Bukan Vino bun...!" ucap Dila.
"Terus siapa?" tanya Puja.
"Em..."
"Pak rektor!" celetuk Vino yang tiba-tiba datang.
"Iihh kutu aer nyebeliiin!!!" ucap Dila sembari mengejar Vino untuk mencubit nya. Puja hanya menggeleng pelan, lalu memandang mereka dari kejauhan. Puja fikir Vino dan Dila terlihat sangat cocok.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻