
Puja memasuki kamarnya dan sudah ditunggu oleh Sofyan.
"Kemana aja, ayah udah nungguin dari tadi juga." ucap Sofyan.
Puja menghampiri Sofyan dan duduk disebelahnya dengan wajah bahagia.
"Mamah kok seperti nya lagi seneng banget, ada apa?" tanya Sofyan.
"Iyalah yah, gimana enggak seneng coba, sebentar lagi mama bakalan punya mantu." ucap Puja.
"Maksudnya gimana?" tanya Sofyan.
"Jadi tadi tuh Puja sama Risma mau jodohin Bagja sama Alya, eh tadi pas mama coba bilang ke Bagja anaknya langsung mau. Mama enggak nyangka Bagja mau nerima perjodohan ini." ucap Puja.
"Mamah yakin Bagja mau?" tanya Sofyan.
"Mau yah, beneran kalau enggak percaya ayah tanya sendiri aja." ucap Puja.
"Mamah enggak maksa Bagja kan?" tanya Sofyan.
"Ya enggak lah yah, masa tega maksa-maksa anak sendiri." ucap Puja.
"Ya syukur kalau enggak dipaksa. Karena ayah ngerasa aneh aja." ucap Sofyan.
"Aneh gimana?" tanya Puja.
"Sifat Bagja sama Ayah kan hampir seluruhnya sama, ayah fikir seleranya juga sama, yang nakal dan centiil seperti mamah." ucap Sofyan.
Deg
"Eh, iya juga ya... Tapi dulu ayah kan juga pernah suka sama kak Ratna yang kalem dan lembut. Semua bisa terjadi kan." ucap Puja.
"Iya. Tapi jangan terlalu memaksakan. Biarkan mereka saling mengenal dulu, jangan buru-buru." ucap Sofyan.
"Tapi mama udah enggak sabar pengen punya mantu, terus gendong cucu." ucap Puja manja.
"Loh kan udah ada Dila." ucap Sofyan.
"Iya tapi pengen punya cucu secepatnya." ucap Puja.
"Nanti kita jadi aki-aki sama nini-nini dong sayang." ucap Sofyan.
"Iya yah bener. Iih tapi jangan aki nini atuh." ucap Puja.
"Terus apa?" tanya Sofyan.
__ADS_1
"Opa, oma," ucap Puja.
"Dari pada nungguin cucu yang entah kapan jadinya, mending bikin sendiri aja yuk." bisik Sofyan.
"Ayaaahhh!!" ucap Puja sembari mencubit perut Sofyan. Namun justru semua itu membuat Sofyan semakin bergairah.
"Katanya tadi suka dikasariin, boleh dong malam ini ayah main sedikit kasar?" tanya Sofyan. Puja hanya tersenyum malu-malu dan meraup bibir Sofyan yang tak pernah membuatnya bosan.
//
Pagi harinya Iis dibuat heran oleh Dila karena tak seperti biasa Dila membersihkan rumah mencuci pakaian dan beberapa pekerjaan lainnya tanpa disuruh terlebih dahulu olehnya. Ditambah sikapnya yang diam dan cuek membuatnya semakin merasa bersalah karena semalam memarahi Dila. Tak sampai disitu Dila juga mengantar Iis ke salon tanpa diminta.
Dan ketika sampai disalon ternyata sudah ada Puja yang diantar oleh Bagja. Mereka berkumpul didepan pintu salon menunggu Iis membuka pintu salon karena kunci dibawa oleh Iis. Tanpa sengaja tatapan Bagja dan Dila bertemu. Namun tidak seperti biasanya Dila bersikap dingin dan cuek. Padahal, biasanya Dila selalu menggoda Bagja dengan segala rayuan mautnya. Ketika pintu sudah terbuka, Puja langsung mengajak Iis masuk kedalam. Begitu pula dengan Dila yang hendak masuk namun keburu dicekal oleh Bagja.
"Mau kemana?" tanya Bagja.
"Mau kedalam lah, mau kemana lagi emangnya?" ucap Dila cuek.
"Masih marah soal kemarin?" tanya Bagja. Dila tak menjawab, dan memilih diam.
"Harusnya saya yang marah karena kamu mencuri ciuman pertama saya." ucap Bagja mencoba mengingatkan Dila.
"Soal itu maaf. Itu kesalahan." ucap Dila sambil menepis kasar tangan Bagja. Bagja terkesiap dengan sikap Dila yang tiba-tiba berubah seribu derajat.
"Kamu kenapa sih?" tanya Bagja yang berhasil menahan tangan Dila kembali.
Deg
Bagja semakin merasa heran karena kini panggilan Dila kepadanya berubah, dari 'aa' menjadi aku kamu.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Bagja. Dila menatap tajam kearah Bagja.
'Kamu masalahnya a, kamu masalah terbesar dalam hidup aku' batin Dila.
"Lepasin atau Dila teriak!" ucap Dila dengan mata memerah. Rasanya saat ini dia ingin menangis sekencang-kencangnya. Bukannya melepas Bagja justru menarik tubuh Dila dan membawanya masuk kedalam mobil. Bagja menutup pintu mobilnya dengan kencang lalu secepat kilat menguncinya agar Dila tak bisa keluar.
"Ada apa?" tanya Bagja.
"Enggak ada apa-apa" jawab Dila dengan suara parau sambil terisak. Bagja terdiam sejenak, dalam hal merayu wanita dia tak tahu apa-apa dan tak punya pengalaman soal itu. Sehingga dia diam saja, tak memeluk atau mencoba mendiamkan Dila seperti pria lainnya. Dia hanya diam saja hingga Dila puas menangis dan kembali diam.
"Udah nangisnya?" tanya Bagja.
"Kan udah diem, ya berarti udah selesai." jawab Dila kesal karena sepanjang ia menangis Bagja benar-benar diam seperti patung. Tak ada kehangatan ataupun perhatian seperti pria pada umumnya. Memang dasar kulkas 50 pintu!
"Ya udah kalau gitu kamu boleh pergi, karena saya juga udah kesiangan mau berangkat kerja." ucap Bagja tak ada romantis-romantisnya. Dila menatap tak percaya pada Bagja, yang mengajaknya masuk kedalam mobil siapa yang mengusirnya siapa. Benar-benar menyebalkan.
__ADS_1
"Ya udah. Makasih udah ngizinin Dila nangis disini. Suatu kebanggaan karena bisa nangis di mobil seorang Bagja." ucap Dila dengan wajah kesal. Bagja tersenyum kecil, tapi karena saking kecilnya sampai semut pun tak dapat melihat senyuman itu. Apalagi Dila? dimata Dila ekspresi Bagja hanya datar saja.
"Jangan murung lagi." pesan Bagja sebelum Dila keluar dari mobilnya.
"Kenapa?" tanya Dila.
"Enggak pantes! karena biasanya kamu cerewet." ucap Bagja.
"Nyebelin!!" ucap Dila sambil mengerucutkan bibirnya dan itu sukses membuat anak terong Bagja bangkit. Padahal hanya bibir saja bagaimana kalau yang lainnya.
Brak!!
Dila membanting pintu mobil Bagja dengan kesal. Lalu masuk kedalam salon tersebut, sedangkan Bagja langsung melajukan mobilnya untuk berangkat ke tempatnya bekerja.
Saat Dila mencari ibunya dia tak sengaja mendengar percakapan Puja dan Iis.
"Beneran Bagja nerima perjodohan itu?" tanya Iis tak percaya.
"Iya bener Is. Bagja nerima. Aku juga enggak nyangka tau." ucap Puja.
"Waahh selamat ya Puja sebentar lagi kamu bakalan dapat mantu." ucap Iis.
"Iya Is, jadi enggak sabar deh nunggu Vino lulus terus nikahin Vino sama Dila." ucap Puja.
"Iya aku juga enggak sabar pengen besanan sama kamu." ucap Iis tak kalah antusias.
Deg
Dila merasa sekujur tubuhnya lemas.Ternyata Bagja menerima perjodohan itu, maka pupus sudah harapannya untuk memiliki Bagja. Dila menghapus air mata di pipinya lalu pergi meninggalkan salon itu tanpa permisi. Dia ingin mencari ayahnya ke tambak. Ingin memeluk dan menumpahkan semua rasa sakitnya kedalam pelukan Mahmud ayahnya.
Beberapa saat kemudian...
"Bapak..." ucap Dila lirih saat melihat Mahmud tengah menata pakan ikan digudang.
"Loh, kesini sama siapa? sendirian?" tanya Mahmud.
"Iya pak." jawab Dila.
"Kenapa? kok matanya sembab seperti habis nangis? habis dimarahin mamah?" tanya Mahmud. Dila menggeleng lalu berhambur kepelukan Mahmud dan menumpahkan semua rasa sesak didadanya.
"Dila kangen bapak."
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Cantik-cantik ke tambak. Jangan-jangan mau nyari othor tuh hehe...!
__ADS_1