
Ditengah perjalanan Sofyan hanya menekuk wajahnya dengan kesal. Bisa-bisanya Puja minta diantarkan untuk menemui Ilyas. Pantas saja Puja begitu agresif dan kelewat baik. Ternyata ada maunya. Ah, sialan! Sofyan tak bisa menolak! padahal hanya dibelai-belai.
"Sayang, mukanya kok ditekuk gitu sih, yang mau ketemu kan Risma bukan Puja." ucap Puja sembari bergelanyut manja.
"Tapi tetap aja kang Sofyan gedeg kalau ketemu dia! akang enggak suka melihat wajah dia lagi!" ucap Sofyan.
"Kalau gitu tutup mata aja sayang, gampang kan?" ucap Puja.
"Tapi inget, nanti disana kamu enggak usah ikut turun! kamu dimobil aja!" pesan Sofyan.
"Iya iya bawel! eh Puja jadi punya ide!" ucap Puja.
"Ide apa?" tanya Sofyan.
"Nanti kan kita bosen tuh nungguin Risma ngobrol, gimana kalau kita bercinta dimobil? pasti seru!" pekik Puja tak tahu malu. Sedangkan Risma hanya bisa mengelus dada dengan kelakuan Puja yang luar biasa abstrak tersebut.
"Please kalau ngomong difilter. Dibelakang ada orang Woy!!" ucap Risma galak.
"Ya ampun ya ampun! maaf Ris, kirain bukan orang." ucap Puja.
"Terus apa?" tanya Risma.
"Kambing cong*ek! jiahahaa!!" Puja tertawa kesenangan membuat Sofyan dan Risma geleng-geleng kepala.
Beberapa saat kemudian...
Mereka telah sampai dihalaman rumah kontrakan Ilyas. Mobil hitam milik Ilyas pun sudah terparkir disana. Risma buru-buru keluar dan masuk kerumah itu, sementara Puja dan Sofyan tetap menunggu didalam mobil.
Karena pintu rumah Ilyas tak ditutup Risma langsung menyelonong masuk saja. Ilyas yang tengah mengemas barangnya terkejut melihat kedatangan Risma.
"Loh Risma, kamu kesini?" tanya Ilyas.
"Eh, iya mas." jawab Risma gugup.
"Sama siapa?" tanya Ilyas.
"Sama Puja dan kang Sofyan tapi mereka nunggu di dalam mobil." jawab Risma.
"Ooh, ya udah ayo duduk disana." ajak Ilyas. Setelahnya mereka duduk dikursi tamu.
"Jadi Risma kesini mau ada yang dibicarain mas." ucap Risma mengawali pembicaraan.
__ADS_1
"Mau bicara apa Ris?" tanya Ilyas.
"Tapi sebelum itu Risma boleh tanya sesuatu?" ucap Risma.
"Iya boleh, tanya aja." jawab Ilyas.
"Apa benar ibunya mas Ilyas sudah meninggal?" tanya Risma. Ilyas terkejut, dari mana Risma tahu? bahkan Puja saja tidak tahu.
"Kamu tahu dari mana Ris?" tanya Ilyas.
"Enggak penting Risma tahu dari mana, sekarang mas Ilyas tinggal jawab aja." ucap Risma. Ilyas menarik nafas dalam, jika mengingat kematian ibunya sama saja dia membuka luka lama kembali.
"Iya Ris. Ibunya mas Ilyas sudah meninggal." jawab Ilyas.
"Kalau boleh tahu apa penyebab ibunya mas Ilyas meninggal? maksudnya karena apa? sakit atau.. kecelakaan?" tanya Risma. Ilyas menunduk dan wajahnya berubah lesu.
"Karena saya. Ibu meninggal karena tak sengaja terdorong mas Ilyas dan kepalanya terbentur. Saya pembu*nuhnya!" ucap Ilyas dengan mata berkaca. Risma terkejut mendengarnya. Dia menutup mulutnya dengan tangannya.
"Dan ternyata saya juga malah membu*nuh anak saya sendiri. Tangan saya ini sepertinya sudah menjadi sebuah kutukan. huhh!! mangkanya saya bilang lebih baik saya hidup dipenjara saja dari pada menyakiti orang lain terus." ucap Ilyas sambil mengelap sudut matanya yang berair.
"Kalau soal itu bukan salah mas Ilyas sepenuhnya, Risma juga turut andil karena kebodohan Risma yang enggak bisa ambil sikap dari awal." ucap Risma.
"Enggak Ris, saya yang salah. Saya yang enggak bisa kendaliin diri saya ketika marah. Dari dulu selalu mengulangi hal yang sama. Tadinya saya menjual semua aset yang disumatra lalu saya bawa kesini bermaksud ingin memulai semuanya dari awal bersama Puja. Tapi ternyata dia sudah menikah. Saya cukup kecewa. Tapi saya ketemu sama kamu, dan saya tertarik sama kamu Ris. Saya jatuh cinta sama kamu. Tapi lagi-lagi saya enggak bisa ngendaliin diri saya hingga menghancurkan masa depan kamu. Saya minta maaf Risma, saat itu saya merasa kecewa sekali mendapati kenyataan kamu yang sudah menikah dengan laki-laki lain dan bukan dengan saya. Saya merasa tidak berguna Risma. Anak-anak dari mantan istri pertama tidak mau bertemu dengan saya, bahkan tidak diizinkan oleh ibunya. Anak saya bersama Ratna juga, ah! saya bahkan merasa tidak punya muka untuk bertemu dengan Ikhsan karena selama saya nikah dengan Ratna saya selalu menyakiti mereka. Saya gagal menjadi seorang ayah. Saya fikir saya masih ada harapan bisa hidup bersama kamu untuk membesarkan anak kita bersama tapi..." Ilyas menjeda ucapannya.
"Enggak perlu mas. Kami sudah resmi berpisah." ucap Risma.
"Kalian masih bisa rujuk, saya akan bantu bujuk Mahmud." ucap Ilyas bersungguh-sungguh.
"Enggak usah mas. Mungkin kami memang tidak berjodoh. Kang Mahmud tidak mungkin mau dengan perempuan kotor seperti saya. Bahkan kang Mahmud belum menyentuh saya walau kami sudah menikah." ucap Risma. Ucapab Risma sontak membuat Ilyas mengulum senyum, ada kesenangan dalam hatinya dimana dialah laki-laki satu-satunya yang menyentuh Risma. Tapu dia juga jadi merasa tak enak hati, gara-gara dirinya Risma sampai merendahkan dirinya sendiri.
"Kamu enggak kotor Ris, saya yang mengotori kamu. Jangan rendahkan diri kamu seperti itu." ucap Ilyas.
"Iya, tapi kalau untuk kembali kepada kang Mahmud sepertinya enggak mungkin, biarlah kang Mahmud mendapatkan perempuan yang lebih baik. Diluaran sana masih banyak yang lebih pantas untuk kang Mahmud." ucap Risma.
"Itu artinya kamu sekarang sudah jadi janda?" tanya Ilyas.
"Iya mas." jawab Risma.
"Semoga kamu cepat mendapatkan suami lagi." ucap Ilyas.
"Susah nyarinya mas, apalagi Risma udah bolong." jawab Risma.
__ADS_1
"Jangan putus asa Ris, lihat Ratna dia bisa dapat Marvel. Puja juga bisa dapatin Sofyan. Jangan minder." ucap Ilyas.
"Risma enggak mau yang lain mas. Risma maunya sama yang udah bolongin Risma." ucap Risma. Ilyas mendongak tak percaya.
"Ma-maksud kamu..."
"Mas Ilyas tega ninggalin Risma ke sumatra setelah membuat Risma enggak perawan lagi dan membuat Risma jadi janda?" Risma malah balik bertanya.
"Itu.. itu.."
"Mas Ilyas pasti mau cari perawan lagi kan buat dibolongin? enggak cukup apa ngebolobgin empat perempuan? tobat mas!" ucap Risma dengan wajah dibuat kesal.
"Enggak Ris, saya enggak punya niat seperti itu. Saya hanya ingin kamu hidup bahagia tanpa gangguan dari saya, karena kalau saya tetap disini, saya takut enggak bisa menahan diri untuk berbuat jahat lagi dan malah menyakiti kamu." jelas Ilyas.
"Nyakitin gimana? bukannya malah dibuat enak? gara-gara mas Ilyas Risma jadi ketagihan dan ingin merasakannya lagi." ucap Risma mencoba untuk menggombal.
"Kamu.. " Ilyas mengulum senyum, wajahnya sudah semerah tomat. Entah kenapa dia seperti seorang ABG yang tengah dimabuk asmara! malu-malu meong!
"Emang kamu mau menikah dengan saya Ris? dengan laki-laki badjingan dan brengs*ek seperti saya?" tanya Ilyas.
"Mas Ilyas melamar Risma? enggak romantis banget sih!" ucap Risma mencebik kesal.
"Besok, besok saya beliin cincin atau apapun itu. Sekarang kamu jawab dulu pertanyaan saya. Kamu mau menikah dengan laki-laki macam saya?" tanya Ilyas serius.
"Iya mas, Risma mau. Tapi mas Ilyas janji ya, jangan jahatin Risma apalagi sampai selingkuhin Risma." ucap Risma.
"Iya, iya mas Ilyas janji. Makasih Risma, makasih udah kasih saya kesempatan Saya janji dengan sekuat tenaga saya akan membahagiakan kamu dan anak-anak kita. Saya akan berubah, tapi tolong bantu saya, dan ingatkan saya kalau saya khilaf." ucap Ilyas.
"Iya mas." jawab Risma. Ilyas senang sekali hingga tak sadar memeluk Risma.
"Mas kita belum makhrom. Jangan pegang-pegang." ucap Risma mengingatkan. Secara Reflex Ilyas melepas pelukannya.
"Maaf." ucap Ilyas.
"Iya. Ya udah Risma kasih tahu kang Sofyan dan Puja dulu ya." ucap Risma.
"Iya. Saya anter kedepan." jawab Ilyas. Setelah itu mereka sama-sama keluar dan betapa terkejutnya mereka saat melihat pemandangan didepannya.
"Mas.. Itu kok mobilnya kang Sofyan goyang-goyang?" tanya Risma.
"Emh itu.." Ah, sialan Puja dan Sofyan! main enggak tahu tempat. Ilyas dan Risma hanya bisa celingak celinguk sembari tersenyum kikuk!
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁