
"Vin, makasih ya kamu udah putuskan hubungan kalian." ucap Alya ketika mereka sudah sama-sama berada didalam Villa.
"Hm!" jawab Vino sambil merebahkan dirinya diatas kasur. Alya melepas satu persatu jaketnya, sarung tangan, dan kaos kaki miliknya, lalu ikut bergabung bersama Vino keatas ranjang.
"Vin, apa kita bisa memulai semua dari awal? maksud aku, kita sama-sama belajar untuk saling mencintai." ucap Alya hati-hati.
"Ck! kamu tuh ya, dikasih hati minta jantung! dikasih perhatian dikit minta yang lebih, enggak usah mimpi deh!" ucap Vino ketus.
"Emang salah aku minta dicintai sama suami aku sendiri?" tanya Alya dengan nada kesal.
"Enggak salah, tapi jangan berharap tinggi-tinggi. Karena kalau ketinggian, jatuhnya sakit. Bagi aku mencintai kamu adalah hal sulit. Aku masih ingin senang-senang dan belum mau terjebak dalam hubungan rumit. Aku enggak mau pusing mikirin urusan rumah tangga!" ucap Vino menjelaskan panjang lebar.
"Terus kalau aku sampai hamil gimana? kamu enggak mau tanggung jawab gitu? kamu enggak mau ngurusin?" tanya Alya dengan mata berkaca.
"Iya, itu urusan kamu! kamu sendiri yang nyerahin tubuh kamu ke aku." ucap Vino pedas.
"Oh, jadi seperti itu ya isi fikiran kamu! hanya kesenangan dan enggak ada rasa tanggungjawab sama sekali! beda jauh sama A Bagja yang udah jelas dia sayang dan perhatian banget sama istrinya. Aku yakin Dila adalah istri paling bahagia di dunia ini. Sedangkan aku, aku kebalikannya aku adalah istri paling ngenes sedunia!" ucap Alya dengan suara serak.
"Salah sendiri mau nikah sama aku!" jawab Vino ketus.
"Iya, aku memang salah! salah milih suami!" ucap Alya dengan kecewa. Dia berlari kedalam kamar mandi untuk menumpahkan semua kesedihannya di dalam sana. Sedangkan Vino sendiri mengelap sudut matanya yang berair.
'Maaf Al, aku belum bisa nerima kamu, karena nama Dila masih mengisi hati dan fikiran aku.' ucap Vino dalam hati.
Keesokan harinya Alya sudah merapikan pakaiannya, seharusnya besok mereka pulang, namun Alya bersikukuh ingin pulang hari ini juga.
"Aku anter,"ucap Vino.
"Aku naik taksi aja," jawab Alya.
__ADS_1
"Memang ada taksi yang nyampai kesini?" tanya Vino.
"Ke bawahnya pakai ojek, setelah itu aku pesan taksi online," jawab Alya.
"Ck! kalau gitu aku ikut pulang juga." ucap Vino.
"Terserah, yang jelas aku enggak mau pulang bareng kamu." ucap Alya.
"Mana bisa kayak gitu, kalau mamah tanya bagaimana?" tanya Vino.
"Mamah, mamah, mamah! itu terus yang kamu fikirin. Pernah enggak sih, kamu fikirin perasaan aku satu kali aja?! pernah enggak?! oh aku tahu, aku kan emang enggak penting untuk kamu. Bodoh banget aku sampai terlena dengan perlakuan manis tapi penuh kepalsuan yang kamu berikan untuk aku. Tapi mulai sekarang aku enggak akan mengulangi kesalahan yang sama." ucap Alya dengan mata memerah. Alya telah selesai mengepak pakaiannya kedalam tas miliknya, setelah mengatakan hal itu dia beranjak untuk keluar kamar, namun Vino langsung menahannya.
"Jangan harap bisa pulang kalau enggak sama aku!" ucap Vino dengan tatapan nyalang.
"Kalau aku kekeh dengan pendirian aku gimana?" tantang Alya.
"Dasar enggak mutu!" ucap Alya sambil melepas paksa tangannya yang dicekal Vino. Namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga Vino, justru kini tubuhnya terhuyung dan jatuh diatas kasur karena Vino menariknya dengan kencang.
Bugh
"Kamu mau apa?" Alya beringsut saat Vino mulai melepas satu persatu pakaiannya. Vino tak menjawab dan malah semakin mendekat kearah Alya.
"Jangan perkossa aku!" ucap Alya takut.
"Ck! jangan Ngada-ngada deh! mana ada suami perkossa istrinya sendiri." ucap Vino jengah, ya dia jengah kenapa Alya seperti ketakutan, padahal semalam mereka sudah menghabiskan malam panass bersama. Kenapa sekarang jadi malu-malu meong!
"Aku enggak suka dipaksa! ini namanya pemaksaan!" ucap Alya dengan tatapan marah.
"Oke, kita lihat, siapa yang akan meminta duluan." ucap Vino dengan seringai liciknya. Dengan secepat kilat Vino mengambil syal di dalam koper miliknya, dan mengikat tangan Alya keatas begitu pula dengan kakinya yang diikat dengan kencang agar Alya tidak dapat melawan.
__ADS_1
"Vin, kamu mau apa?! lepasin!" ucap Alya sambil memberontak, namun Vino tak menggubris nya dia fokus melepas satu persatu kain yang menempel di tubuh Alya. Hingga kini terpampang lah tubuh putih mulus wanita yang berstatus istrinya itu. Jejak stempel disekitar leher dan juga daddanya masih ada, membuat Vino menyunggingkan senyumnya. Vino mulai merayap ke atas tubuh Alya, namun tak mencium bibirnya karena Alya terus saja berontak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia langsung dua perbukitan indah milik Alya, menyesapnya secara bergantian membuat Alya merasakan sensasi yang membuat tubuhnya meremang dan menggelinjang.
"Stop Vin!" ucap Alya sambil menahan lenguhannya.
Vino turun, dan turun hingga ke bawah, ke lembah rerumputan indah milik Alya, dia tak langsung melahap nya, dia memainkan tangannya disana, meluncurkan keahliannya yang dilihat dari film dewasa yang sering dia tonton. Alya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan. Sekuat apapun dia menahan, tetap saja akhirnya lenguhan itu lolos dari bibirnya.
"Eunghh!" Alya merasa seperti di hinggapi jutaan kupu-kupu saat mencapai pelepasaan pertamanya.
"Basah," ucap Vino sambil menatap Alya dari bawah sana.
"Stop, jangan dilanjutkan." ucap Alya dengan terbata, saat ini tubuhnya berkeringat karena Vino terus saja memainkan area sensitif nya. Jika tadi dengan tangan kini dengan lidahnya. Ya, dengan lihai Vino memainkan area terlarang itu, membuat Alya terus saja mengerangg dan melenguh secara bersamaan. Alya sudah tak kuat, dan ingin merasakan lebih dari sekedar lidah.
"Vino, aku mohon..." ucap Alya terengah.
"Mohon apa?" tanya Vino sengaja memancing.
"Tolong lakukan yang lebih." ucap Alya dengan mata berkabut.
"Kalau begitu, cium aku duluan." ucap Vino sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Alya. Alya mengangkat kepalanya dan mencium pipi Vino sekilas.
"No, bukan yang itu, tapi yang ini." tunjuk Vino ke bibirnya. Lagi-lagi Alya mengangkat kepalanya dan mencium bibir Vino dengan rakus. Vino menikmati bibir Alya yang begitu buas mencumbu bibir nya. Lalu membalas setiap sesapan yang Alya berikan dengan tak kalah rakus. Dia melepas ikatan ditangan Alya dan juga kaki Alya, kemudian kembali menindih tubuh wanita yang sudah menjadi candunya itu.
"Kamu yang minta, bukan aku yang maksa." ucap Vino sambil menatap Alya dengan senyum penuh kemenangan. Alya tak perduli lagi, dia langsung mengalungkan tangannya ke leher Vino untuk menikmati bibir pria yang sudah berhasil masuk kedalam hatinya itu.
'I love you Vino'. ucap Alya dalam hatinya.
Dan setelah itu terdengar lah suara-suara merdu diseluruh penjuru ruangan, dessa han dan decappan begitu nyaring menghiasi kamar pengantin baru itu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1