
Pagi-pagi sekali Dila sudah bangun untuk mandi keramas, dan setelah sholat shubuh bersama dengan Bagja, dia mulai berkutat di dapur, yang ternyata disana sudah ada Alya.
"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Alya.
"Mau masaklah." jawab Dila.
"Ck! emangnya bisa masak? aku rasa tangan kamu terlalu halus untuk mengerjakan kerjaan dapur." sindir Alya, yang kini tengah memetik kangkung.
"Enggak usah merasa paling jago masak deh. Semua orang juga pasti bisa masak asal mau belajar, tergantung niat aja." ucap Dila.
"Memang kenyataan nya aku jago masak, kamu mau apa?" tanya Alya. Dila tak menanggapi dan memilih mengambil beras untuk dimasak di magicom. Kemudian dia mencucinya dan menuangkan air cukup banyak, dia tak tahu seberapa ukurannya, karena memang selama ini Iis tak pernah membiarkan Dila berkutat di dapur. Alya yang hendak mencuci kangkung sangat terkejut melihat beras di dalam panci magicom yang dipegang Dila.
"Ya ampun Dila, kamu apa-apaan sih, itu airnya masih butek, kamu enggak bersih nyuci berasanya, itu lagi air sepenuh itu, mau masak bubur kamu?" tanya Alya yang langsung mengambil alih panci magicom dari tangan Dila. Dila merasa kesal sekaligus merasa kalah, karena Alya terus saja mengejek pekerjaanya yang menurut Alya tidak becus. Namun Dila tak mau kalah, solusi terakhir dia memasak telur ceplok. Dia ingin Bagja memakan hasil masakannya, bukan hasil masakan Alya, Dila takut jika Bagja keseringan makan masakan Alya, Bagja jadi berpaling darinya.
Saat memasak telur ceplok itu, Dila salah membumbui telurnya, Bukan dengan garam, tapi dengan gula. Mana banyak pula! sudah bisa dipastikan, telurnya rasanya manis. Alya yang melihat itu sengaja tak memberitahu Dila, dia ingin Bagja ilfeel dan marah karena disajikan masakan yang membuat orang mual memakannya. Alya tersenyum dalam hati, "Dasar bego!! gula sama garam aja gak bisa bedain." ucapnya dalam hati.
//
Semua sudah berkumpul di meja makan, seperti biasa Sofyan memimpin do'a bersama sebelum memulai sarapan. Para wanita mulai melayani suami masing-masing, mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk disajikan kepada suami mereka.
"A, ini Dila masakin telurr ceplok untuk aa. Semoga aa suka." ucap Dila dengan semangat menyajikan telur itu di piring Bagja.
"Jadi kamu belajar masak sayang?" tanya Puja tak percaya.
"Iya bun, Dila kepengen pinter masak seperti mamah, supaya aa Bagja makin cinta sama Dila." ucap Dila percaya diri.
"Ya ampun, bunda salut loh. Bunda jadi inget waktu awal-awal nikah sama ayah, kan bunda belum bisa masak tuh, bisanya cuma masak telur ceplok dan mie goreng. Jadi tiap hari ayah makannya sama itu mulu. Untungnya ada emak, nenek kalian. Jadi ada lauk lain yang bisa dimakan sama ayah." jelas Puja mengenang masa lalu.
__ADS_1
"Tapi walaupun hanya telur dan mie goreng, rasanya tetap enak kok," ucap Sofyan.
"Emang rasanya kayak apa yah?" tanya Vino.
"Ya rasa telur dan mie," ucap Sofyan sambil terkekeh, sontak semua yang berada disana tertawa bersama. Sedangkan Puja mencubit gemas tangan Sofyan hingga sangat kepala keluarga itu meringis kesakitan.
"Masak telurnya hanya satu?" tanya Puja.
"Tadi masak dua bun, tapi yang satu gosong, untung yang ini enggak." jawab Dila sambil nyengir kuda.
"Loh buat kamu mana?" tanya Puja.
"Dila makan masakan Alya aja deh, habis mau goreng lagi enggak tahan minyak nya nyiprat mulu. Tuh lihat, tangan Dila sampai merah-merah bun." ucap Dila sambil memperlihatkan tangannya.
"Ooh iya,, nanti dikasih salep ya sayang. Lain kali hati-hati, belajarnya pelan-pelan aja, jangan terlalu dipaksain." ucap Puja.
"Iya bun," jawab Dila. Setelah itu mereka kembali menikmati sarapan mereka, dan disaat itu Alya melirik kearah Bagja, ingin melihat seperti apa reaksi Bagja saat merasakan telur ceplok buatan Dila yang ditaburi gula tadi. Alya harap-harap cemas saat Bagja memasukkan suapan di sendok ke mulutnya, begitu pula Dila yang menunggu pujian dari suaminya. Dila yakin Bagja pasti menyukainya.
"Gimana sayang, enak enggak?" tanya Dila harap-harap cemas, begitu pula dengan Alya yang terus menatap tajam kearah Bagja.
"Enak kok! rasanya enak banget," ucap Bagja sambil tersenyum manis semanis telurnya.
"Beneran? kalau gitu habisin dong, nanti untuk makan siang dan makan malam Dila masakin lagi ya." ucap Dila semangat.
"Iya sayang," jawab Bagja.
Alya menahan kesal karena ternyata Bagja lebih memilih menyembunyikan kenyataanya dari pada mengungkapkannya. Itu artinya Bagja sudah sedalam itu mencintai Dila, jadi apakah diasudah tak ada kesempatan sama sekali? Alya merasa patah hati untuk yang kesekian kali. Dan semua itu tak luput dari penglihatan Vino, sejak tadi Vino melihat Alya yang terus saja memandang Bagja tanpa tahu malu. Jelas-jelas Bagja sudah menjadi suami orang, Alya masih dengan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya. Vino jadi semakin muak dan jengah pada Alya.
__ADS_1
"Oh iya yah, nanti Bagja ikut ke tambak ya. Biasa mau ngecek kondisi ikan-ikan disana." ucap Bagja.
"Iya," jawab Sofyan singkat.
"Dila ikut ya a," ucap Dila.
"Panas sayang," jawab Sofyan.
"Nanti Dila pakai topi dan jaket," ucap Dila kekeh, entah kenapa dia tak ingin berjauhan barang sejenak saja dengan Bagja.
"Ya udah ayo, bawa baju ganti sama alat sholat, nanti kita sholat," titah Bagja.
"Wih! bawa baju ganti buat apa nih? mau bulan madu ditambak?" sindir Vino.
"Ya buat jaga-jaga aja Vin, siapa tahu enggak sengaja kecebur atau baju nya kotor," jawab Bagja.
"Iya Bagja bener Vino, tapi usul Vino ada benarnya juga loh A, bisa dicoba tuh, mamah sih sama ayah dulu udah pernah ngerasain dan rasanya kuar biasa banget bercinta diatas tambak. Apalagi pas malam hari, beuuh!!" ucap Puja asal ceplos membuat semua orang yang ada disana merasa malu. Mereka jadi panas dingin membayangkan bercinta diatas saung apung, sepertinya memang begitu mengasyikan seperti yang dibilang Puja.
"Sstt! mah!" tegur Sofyan sambil melotot tajam.
"Eh, itu.. mamah cuma bercanda kok," ucap Puja yang sadar akan keceplosan bicaranya.
//
Semua sudah berangkat ke tempat kerja masing-masing, kini hanya tinggal Vino dan Alya dirumah. Ya karena mereka yang belum bekerja dan masih berstatus sebagai mahasiswa tentu saja membuat keduanya hanya menganggur dirumah.
"Alya mau kerumah umi, bosen disini," ucap Alya sambil mengambil tasnya.
__ADS_1
"Gak boleh!"
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻